Di cekik oleh junior

110 10 0
                                        


---

Di apartemen St. Germain,
matahari baru saja menyelinap dari sela-sela tirai jendela yang tinggi. Tiffany melangkah ke ruang tamu dengan piyamanya yang masih berantakan, rambut terurai belum tersentuh sisir. Ia sempat terkesiap saat menemukan dua sosok duduk angkuh di sofa kulit cokelat — sang manajer dan Teresa.

Suasana pagi seketika berubah menjadi ruang interogasi. Tatapan keduanya segera mengarah pada Tiffany, menelannya dalam suasana yang tak ia pahami sepenuhnya.

"Suruh saja dia," ujar Teresa, datar dan dingin tanpa menoleh.

Manajer menyesap kopinya pelan, lalu membuka mulut tanpa ekspresi hangat.
"Tiffany, kau bisa menggantikan Teresa untuk proyek iklan sore ini?"

Tiffany mengerutkan dahi.
"Maksudnya?"

Teresa menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, bersilang kaki, seolah bosan dengan semuanya.
"Kalau tidak... kalian harus membayar denda cukup mahal. Dan saat ibu kalian tahu, kurasa amarahnya tidak akan bisa diredam," ujar manajer, menambahkan tekanan yang mengikat suasana.

Tiffany memicingkan mata. Kesal dan jengah.
"**Astagaa...** Teresa, kau yang membuat kekacauan ini, tapi kita yang harus menanggung murka ibu, ha?! Kau ingin menyulitkanku terus?"

Teresa menoleh pelan. Senyumnya tipis, penuh licik.
"Aku hanya... bosan. Kenapa memangnya? Lagi pula... proyek ini memang seharusnya untukmu. Tapi aku yang terus menggantikanmu. Kau kira aku menikmatinya?" suaranya seperti cambuk yang tenang tapi mematikan.
"Hey... aku juga ingin bersantai seperti dirimu, dasar adik tak berguna."

Tiffany menggeleng, suara hatinya mulai bergetar tapi tetap tegas.
"Aku tidak pernah memintamu menggantikan aku. Lagipula kau juga sering memintaku menggantikanmu, dan aku tidak pernah mengeluh."

Sorot mata Teresa memanas. Ia berdiri, mendekat setapak, emosinya mulai menyembur.
"**Hhh!** Kau pikir penolakanmu selama ini tidak berimbas? Siapa yang menanggung semuanya? Aku! Akulah yang terus maju ke depan saat kau sembunyi di balik alasan, saat kau memilih hidup manja dan foya-foya! Kau bahkan tak tahu berapa banyak tekanan yang harus kutanggung!"

Lalu ia membalik tubuh dan melangkah pergi, membanting pintu kamar dengan keras. Tiffany berdiri kaku, berusaha menahan gelombang emosi yang bergolak dalam dadanya.

Manajer mengangkat bahu, suaranya ragu,
"Jadi... bagaimana ini?"

Tiffany mengembuskan napas dalam, lalu menatap lantai, mencoba menyusun kewarasannya.
"Mengapa tiba-tiba dia ingin keluar dari proyek ini?" tanyanya pelan namun jelas.

"Dia bilang... akan ada pesta hari itu. Bersama teman-temannya," jawab sang manajer dengan raut getir.

Tiffany mendesah keras.
"**Apa?!** Astagaa... dasar egois..."

Ia melangkah menuju dapur, menyambar gelas air, meneguknya hingga habis. Dunia rasanya berputar cepat — seperti biasa, Teresa menciptakan badai dan ia yang harus menjadi pelindung rumah yang terancam roboh.

---

Di Arrosement 7

pagi itu masih terasa tenang dengan sinar matahari yang menyusup lembut melalui jendela-jendela kaca besar. Meski hari itu adalah hari libur, Catrier tetap menjalani rutinitas olahraganya—berenang. Suasana kolam renang dalam gedung itu terasa sejuk, dengan air jernih memantulkan cahaya dari langit-langit kaca.

Gerakan renangnya tenang dan konsisten, seperti sedang menenangkan pikirannya dari badai emosional yang sempat ia hadapi kemarin. Setelah cukup lama, ia naik dari kolam, tubuhnya dibungkus handuk putih tebal, lalu berjalan melewati koridor menuju lift yang akan membawanya ke penthouse-nya.

c³ tCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang