Di UKS
Catrier memapah Brian menuju UKS dalam diam. Ia tak berkata sepatah kata pun, namun langkahnya cepat dan tegas, seolah ingin segera membawa Brian menjauh dari keributan yang baru saja terjadi. Sesampainya di sana, dokter UKS segera menyambut dan mempersilakan Brian duduk di ranjang pemeriksaan. Luka di pelipis Brian dibersihkan dengan kapas antiseptik, membuatnya sedikit meringis menahan perih.
Catrier hanya berdiri di sisi ranjang, memandangi Brian tanpa ekspresi. Bahkan ketika Brian sesekali menoleh dan melirik ke arahnya, ia tetap tak mengucapkan apa pun.
Setelah lukanya dibalut perban kecil, Brian akhirnya angkat bicara dengan senyum tipis.
"Tadi mereka mengeroyokku... Aku sendirian, pantas saja kalah. Tapi lain kali, aku pasti akan menghabisi mereka," ucap Brian sambil tertawa kecil.
Catrier masih tak menanggapi. Ia hanya menatapnya sekilas, lalu melangkah ke arah jendela dan membukanya lebar-lebar. Udara segar menerpa wajahnya.
"Lihatlah... Aku sudah membalaskan dendammu," ucap Catrier pelan, tersenyum samar.
"Hah?" Brian menoleh ke jendela. Dari sana, terlihat Kai yang sedang berdiri di lapangan.
"Kau yang melaporkannya? Wah, luar biasa... Satu panggilan langsung bikin ia dihukum," ujar Brian takjub.
Brian menatap Catrier dengan lebih dalam, lalu berkata tulus:
"Terima kasih, Catrier... Sekarang, bolehkah kita berteman?"
Catrier menoleh ke arahnya. Kali ini ia tersenyum kecil, meledek.
"Apa kita setara?"
Brian tertawa pelan.
"Tentu saja... Walaupun aku mungkin masih di bawahmu, tapi hei, siapa sih yang bisa mengalahkanmu? Paling tidak, kita setara dalam hal kepintaran."
Catrier tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, suasana antara mereka terasa ringan.
Di Lapangan
Sinar matahari siang menyorot panas di atas lapangan. Tifany masih berlari dengan napas memburu. Seragam olahraganya basah oleh keringat, wajahnya merah karena terpapar sinar matahari. Di sisi lain lapangan, Junior hanya tinggal menyelesaikan satu putaran terakhir.
Begitu Tifany menyelesaikan putaran kelima, ia langsung duduk di tepi lapangan. Tangannya memegangi lutut, napasnya terengah-engah. Ia kelelahan, tapi masih menyimpan gengsi untuk mengeluh.
Dari kejauhan, Julio datang membawa dua botol air mineral. Niat awalnya hanya ingin memberikannya kepada Junior—teman sekelas sekaligus sahabatnya. Tapi pandangannya terhenti saat melihat Tifany yang terduduk sendiri, dikelilingi panas dan debu lapangan.
Ia terdiam sejenak, lalu melangkah mendekat.
"Minum dulu," ucap Julio sambil menyodorkan botol air, tersenyum tipis.
Tifany menoleh, sedikit terkejut. Ia mengerjap, lalu perlahan menerima botol itu.
"Makasih," ujarnya singkat.
Julio duduk tak jauh darinya, membuka satu botol lagi untuk dirinya sendiri. Mereka diam. Hanya suara angin dan langkah siswa-siswi lain yang terdengar.
Setelah beberapa saat, Julio berkata,
"Mau aku gantikan lari?"
Tifany menoleh cepat.
"Serius?"
Julio tersenyum nakal.
"Tapi tidak gratis... Kau harus makan malam denganku malam ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
c³ t
Fanfictionmengkisahkan 4 siswa kelas A+ di sekolah angera internasional yang terkenal siswanya sangat berbakat dan kaya raya . dikhususkan untuk anak anak yang beristilah " borju" selain karena akademik nya yang bagus sekolah ini memiliki nama yang sangat ku...
