Celine di rumah ibu jake ultah

99 13 1
                                        

Rumah Sakit Georges Pompidou

Ruangan rawat itu terasa hening, hanya suara detak mesin infus yang mengisi udara. Keara duduk bersandar di tempat tidur, tubuhnya masih pucat, bibirnya membisu. Kai dengan sabar menyuapinya satu sendok demi satu sendok, berusaha membuat adiknya tetap makan meski tak satu kata pun keluar dari bibirnya.

Di sisi lain ranjang, Hartini, sang ibu, terus-menerus menangis pelan. Matanya bengkak, suaranya serak karena terlalu sering bertanya—bertanya pada Keara, memohon agar ia bicara, agar ia mengungkap siapa lelaki yang telah membuatnya seperti ini. Namun jawaban tak kunjung datang. Keara hanya diam, seolah seluruh dunianya tenggelam.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Chanel masuk sambil membawa beberapa kantong belanja—di dalamnya ada baju bersih untuk Kai dan ibunya, serta sekotak pizza kesukaan Keara.

"Bagaimana kondisimu, Keara?" Chanel bertanya dengan lembut, matanya menatap penuh iba.

Keara tetap diam, namun tatapannya sedikit melunak.

"Baik... Besok dia sudah bisa pulang," jawab Kai pelan namun tegas.

"Syukurlah... Oh, ini bajunya, Kai, dan ini untuk tante," ucap Chanel sambil menyerahkan bungkusan.

"Terima kasih, Nak," ucap Hartini dengan suara parau, lalu menyilakan Chanel duduk.

"Kai, besok kamu masuk sekolah saja. Biar Ibu yang jaga adikmu di rumah," ucap Hartini lembut.

"Baik, Ibu," sahut Kai singkat.

Chanel menoleh ke arah Keara, mencoba mencairkan suasana. "Heyy, adik kecil... nanti kalau sudah sembuh, aku temani kau belanja, ya. Kita cari baju cantik."

Keara tak berkata apa-apa, tapi untuk pertama kalinya hari itu, bibirnya tertarik membentuk senyum tipis. Chanel membalas senyuman itu, merasa sedikit lega.

Apartemen Le Marais

Di apartemen kecil nan hangat itu, Celine duduk bersandar dengan wajah lelah. Nafasnya masih belum teratur setelah lari lima putaran pagi tadi. Di hadapannya, sepiring makanan dari Ibu Jake masih tersisa. Ia merasa bersalah karena tak sempat merayakan ulang tahun ibunya kemarin. Maka hari ini, di tengah waktu luang tanpa latihan, ia berencana membalas kebaikan itu—dengan sepotong kue buatan tangannya sendiri.

Pintu apartemen terbuka. Haruto baru saja pulang sekolah dengan beberapa kantong buah segar. Ia langsung masuk, menaruh belanjaan, lalu berganti pakaian. Tanpa banyak bicara, ia mulai mengupas buah satu per satu, menatanya rapi dalam kotak makan. Ia juga menyiapkan salad, disusun cantik seperti karya seni kuliner.

"Kau mau ke mana?" tanya Celine, menatap Haruto sambil menyeruput air putih.

"Menjenguk teman," jawab Haruto singkat, tetap sibuk.

"Teman? Hmm... ternyata kau punya teman juga," goda Celine sambil tersenyum kecil.

Haruto meliriknya sekilas, malas menanggapi.

"Tunggu..." ucap Celine tiba-tiba, lalu bangkit berdiri. "Ini, bawalah kuenya juga. Aku buat lumayan banyak tadi. Jangan sampai kau menjenguk orang , bawaannya cuma buah."

Ia buru-buru menghias kue itu, menatanya dalam kotak kecil yang cantik. Setelah selesai, ia menyerahkannya pada Haruto.

"Ini, bawalah."

Haruto hanya mengangguk pelan sebelum keluar dari apartemen tanpa banyak kata.

Beberapa menit kemudian, bel apartemen berbunyi. Celine tahu pasti siapa itu—tanpa ragu ia membuka pintu dan menemukan Jake berdiri di depan. Ia tersenyum hangat, lalu berkata,

c³ tCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang