𝗧𝗲𝗺𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗸𝗲𝗰𝗶𝗹, 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝘁𝗲𝗺𝗮𝗻 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗮𝘁𝗮𝗽?
Park [Name], atau yang kerap disapa [Name] merupakan gadis blasteran Jepang-Korea. Paras menawan yang memancar dari rupanya menarik perhatian banyak orang, terutama dua insan yan...
"To love is to destroy, but to be loved is to be the one destroyed"
Enjoy
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah sampai di Busan, ketiganya langsung pergi ke hotel yang sudah dipesan dan merapihkan barang-barang mereka sendiri.
12.00
"Kami pergi duluan ya, Seongeun!"
"Ya. Jangan lupa kembali pukul lima sore nanti. Jangan merebut waktuku." Ucap Seongeun kepada Gimyung
•••
"Kita mau kemana, Gim?"
Keduanya berjalan entah kemana karena [name] belum mengenali Busan sepenuhnya. Gimyung nampak bingung dengan navigasi di ponselnya namun jalannya benar.
"Ah, disini!"
Gimyung menunjuk kearah taman hiburan luas dengan berbagai macam wahana mainan yang terlihat menyenangkan, beberapa darinya terlihat ekstrem. Juga banyaknya jajanan yang berada pada titik tertentu menggunakan tenda.
Yang menjadi fokus [name] adalah, banner dengan bertempelkan wajah Kang Dagyeom. Benar, DG sang artis ternama itu! [Name] sungguh mengidolakannya dengan potensi yang begitu berbakat dan juga menawan.
"Uwaaah, Gimyung. Kita mau kesini?"
Gimyung mengangguk, "Benar. Jam empat sore nanti konser DG dimulai. Aku tau kau akan senang dengan ini."
"Sungguh? Terimakasih banyak, Gim!"
Gimyung tersenyum kemudian mengelus pipi [name] dengan lembut, "Sama-sama, cantik."
Yang disebut cantik hanya terdiam mematung dan Gimyung tertawa kecil. Ia meninggalkan [name] yang masih mematung di depan pintu utama, sedangkan pemuda itu sibuk mengurusi tiket masuk.
"Huft, untung sudah pesan online saat di kereta tadi. Kalau tidak, kita akan menunggu lama." Gimyung menghampiri [name] sambil membawa dua tiket gelang kertas di tangannya
"[Name]? Kok masih terdiam? Terpesona dengan wajah tampanku kah?"
"Haish, pede sekali!" Balas gadis itu dengan tatapan datar
Gimyung menggenggam pergelangan tangan kanan [name], "Ayo, kita bersenang-senang."
[Name] mengikuti langkah kaki Gimyung, dan pemuda itu tidak melepas genggamannya pada pergelangan tangan [name]. Mana mungkin ia akan membiarkan gadisnya tersesat di keramaian.
"Gimyung! Ada permen kapas!" Fokus [name] teralihkan pada pedagang permen kapas yang ada di pinggir taman
"Ayo kita beli," Gimyung tersenyum kemudian membawa [name] kesana
Gimyung memesan permen kapas dengan bentuk yang lucu, ia mengambil yang berbentuk Cinnamonroll dan Hello Kitty.
"Lucunya~"
Gadis itu memakan permen kapasnya perlahan. Membuat Gimyung menatapnya dengan kagum dan gemas.
"Ooh! Ada photobooth! Kamu ingin foto bersamaku, Gim?"
"Kau sudah tau jawabannya, seharusnya." Gimyung langsung membawa [name] kesana dengan cepat
Perasaan apa ini?
Sungguh, memuaskan diri.
Mereka berdua foto bersama dan mencetaknya langsung. Sangat puas dengan hasilnya. Hati Gimyung berdebar begitu melihat fotonya bersama [name]. Akhirnya ia punya foto bersama dengan gadis kesayangannya.
Tuk!
"Nah, Gimyung lucu!"
Pemuda itu hanya mematung dan tidak merespon. Sedangkan sang gadis tertawa melihat Gimyung dengan bando kelinci itu. Sungguh, lucu sekali!
"Aku mau beli ini untuk kita, kamu yang pitanya biru, aku yang pitanya kuning. Nah, yang pitanya merah untuk Seongeun!"
Orang-orang yang berjalan disana menatap Gimyung sambil menahan tawa melihat pria sangar itu mengunakan bando kelinci dan terlihat feminim. Gimyung menyadarinya, namun ia tidak melepasnya. Apapun untuk membuat gadisnya bahagia.
"Hihi, sudah ku bayar, ayo!" [Name] menggunakan bandonya kemudian berjalan bersama Gimyung
Keduanya menghabiskan waktu bersama dengan menyenangkan. Mulai dari bermain rollercoaster hingga membuat [name] berteriak histeris, kemudian bermain rumah hantu yang membuat Gimyung ketakutan dan memeluk [name] sepanjang bermain, jajan ditempat yang berbeda-beda, hingga berakhir di Bianglala sekarang.
Mengamati keindahan Busan dari Bianglala yang cukup tinggi itu membuat keduanya merasakan setengah tenang setengah ketakutan. Bagaimana jika Bianglala itu macet saat mereka di puncak? Tidak lucu.
"Jadi.. [name], ada yang perlu ku bicarakan denganmu."
"Hm? Langsung saja" balasnya tanpa berhenti memandangi keindahan Busan
Gimyung berdehem sebelum berkata, "Kak Sinwoo membutuhkan penerus Big Deal. Seo Seongeun berkata ia tidak mau dan akan pergi ke daerah lain suatu saat nanti. Mama ku sudah menerimaku kembali setelah perubahan ku, jadi..--"
"Aku sudah tau jawabannya, Gimyung. Kamu menetap di Gangseo, kan?"
"Benar sekali, [name]. Memang tidak salah jika kamu disebut sebagai gadis pintar. Kuharap kamu bisa menjaga dirimu sendiri disana, tapi kau tau, aku akan selalu ada untukmu. Jangan segan-segan minta bantuan atau bercerita padaku nanti jika ada masalah. Kita kan sudah bertukar nomor."
"Aku tahu, Gim."
"Park [name] kesayangannya Kim Gimyung. Ini bukan berarti ini adalah pertemuan terakhir kita, tentu tidak. Namun akan butuh waktu yang lama jika bisa bertemu kembali."
Gimyung memelankan suaranya, "Boleh aku memelukmu, [name]?"
Tanpa aba-aba, [name] langsung memeluknya dengan erat. Pemuda itu tentu terkejut bukan main. Jantungnya berdebar kencang.
"Aku mencintaimu, [name]."
•••
Dua kata.
Dua kata yang tidak bisa hilang dari benak [name]. Ia terus memikirkan ucapan Gimyung walaupun sekarang sedang konser DG. Gimyung menyadarinya dan menepuk bahu [name].
"Kau kenapa? Apa konsernya kurang menarik?"
"Eh, astaga. Tidak.. aku hanya terpikirkan ucapanmu tadi saja."
Gimyung terkekeh, "Apa aku sudah terlihat romantis?"
"Singkirkan wajah kepedean mu itu dari hadapanku!" [Name] memalingkan wajahnya dan fokus menonton konser Dagyeom
Benar-benar membahagiakan. Rasanya ingin berulang tahun saja setiap hari.