𝗧𝗲𝗺𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘀𝗮 𝗸𝗲𝗰𝗶𝗹, 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝘁𝗲𝗺𝗮𝗻 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗮𝘁𝗮𝗽?
Park [Name], atau yang kerap disapa [Name] merupakan gadis blasteran Jepang-Korea. Paras menawan yang memancar dari rupanya menarik perhatian banyak orang, terutama dua insan yan...
"Under the dazzling celestial azure, i'm falling for her."
Enjoy
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sudah empat hari, mama pergi ke Jepang, bibi."
Ucap [name] kepada mama Seongeun. Ia sedang bermain di rumah Seongeun, lantaran bosan karena dirumah tidak ada siapapun.
"Memang papa kemana, [name]?"
"Papa pergi, sekarang pulangnya selalu larut. Aku udah ketiduran setiap papa pulang, bibi"
"Oh begitu.. kalau perlu sesuatu, jangan ragu minta ke bibi atau Seongeun ya, cantik?"
"Iya bibi!"
Kemudian [name] melanjutkan permainannya dengan Seongeun. Sedangkan mama Seongeun memasak di dapur. Seongeun mengambil buku pelajarannya.
"[Name], aku belajar membuat ini di sekolah, aku mau buat ini. Supaya kita bisa bicara jarak jauh." Seongeun menunjuk gambar telepon kaleng yang ada di bukunya.
"Uwah, tapi aku tidak paham cara buat nya, Seongeun. Kenapa alat itu bisa digunakan jarak jauh? Bukannya itu hanya tali dan kaleng biasa? Seongeun ajari aku.."
"Aku yang buatin, kamu lihat saja ya, [name]. Gelombang suara merambat melalui benang dan kawat yang ditegangkan, makanya telepon ini bisa digunakan. Kira-kira 5-15 meter.. untung rumah kita sampingan."
"Seongeun pintar! Seongeun pintar! Aku sayang Seongeun!" sebut [name] dengan semangat, kemudian memeluk Seongeun
"Baiklah, aku mulai bikin ya."
•••
"Bibi, Seongeun, aku pulang dulu ya. Sudah sore, mama bisa marah kalau tau aku belum pulang jam segini"
"Iya. Hati-hati ya, cantik" mama Seongeun mengelus kepala [name] pelan
"[Name] mau aku antar? Nanti kamu kenapa-kenapa.."
"Aish, Seongeun! Rumah ku di sebelah loh, gitu doang gak bakal kenapa-kenapa!"
"Yasudah, nanti malam jangan lupa ya. Nanti kita telepon-an"
[Name] melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang berada tepat disamping rumah Seongeun. Ia melambaikan tangannya saat di depan pagar, "Iya, Seongeun! Dadaaah"
Seongeun menatap [name] yang masuk ke rumahnya. Ia harus memastikan bahwa [name] baik-baik saja. Kemudian ia kembali masuk ke rumahnya, setelah melihat pagar rumah [name] ditutup.