Dua Puluh Sembilan

61 9 0
                                        

Jimin duduk berpangku tangan di belakang meja kerjanya. Pikirannya mengelana entah ke mana. Sudah tiga bulan berlalu sejak Deph menghilang, tapi meski sudah tahu Seulgi masi hidup, masih juga belum ada tanda-tanda kalau dia akan segera ke Swiss. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri dalam kebisuan. Jika tak ada hal yang penting untuk dibicarakan, Jimin bahkan tak berucap kata sepatah pun kepada James.

Suara ketukan pintu terdengar. James membukanya meski Jimin belum mengijinkannya.

"Tuan, untuk kunjungan kerja di Swiss lagi dua hari, apa perlu aku hubungi Seulgi dan berkata kau akan mampir?"

Jimin menggeleng. "Tidak, aku pun belum tentu mampir ke sana. Selesai bertemu dengan orang-orang dari Recdical, kita akan langsung kembali." Kali ini Jimin berangkat ke Swiss untuk memberi investasi kepada perusahaan lokal yang tengah mengembangkan teknologi robotik.

"Baik, Tuan. Kalau begitu akan kuperintahkan pelayan untuk menyiapkan pakaian seperlunya saja. Lalu, apa kau akan berangkat mendahului agar bisa sedikit beristirahat?"

Sekali lagi Jimin menggeleng. "Aku tak mau membuang terlalu banyak waktu di tempat lain. Bagaimana kalau saat aku sedang pergi, lalu Deph ditemukan. Aku ingin jadi orang pertama yang dia lihat saat dia ditemukan."

"Tuan ...." James terenyuh. Harapan untuk bisa menemukan Deph dalam keadaan hidup sudah semakin jauh. Tim pencari memperkirakan Deph terseret arus sungai yang deras, lalu tenggelam dan tersangkut akar-akar pohon. Lokasi tepatnya entah di mana, tak ada yang tahu. Tapi perkiraan mereka cukup masuk akal. Mengingat sungai itu memang memiliki arus yang kuat dan banyak pohon-pohon besar di sepanjang sungai. Akar-akar pohon itu pasti menyembul di seluruh pinggiran sungai. Belum lagi banyaknya bebatuan dan patahan-patahan ranting yang berjatuhan dan tenggelam di dasar. Keadaan dasar sungai itu sedikit kotor dari daun dan ranting kering. Jadi, jika Deph memang tersangkut di sana, tentunya akan sangat sulit bagi tim pencari untuk menemukannya.

"Tuan ... sebaiknya Tuan lupakan semua ini. Lupakan Nona dan kembalilah pada Seulgi. Dia juga pasti sangat menderita karena menunggumu datang. Dia pasti ingin segera berkumpul denganmu."

"Tidak sampai kupastikan Deph selamat."

"Lalu, bagaimana kalau Deph selamanya tak ditemukan?"

Saat mendengar ada orang lain yang bicara, Jimin dan James menatap ke arah pintu secara bersamaan. Jimin segera berdiri ketika melihat Mr. Rondge datang bersama pengawal pribadinya.

"Aku sudah mengikhlaskan kepergian cucuku, Jim. Jadi, jangan lukai hatiku dengan melihat keras kepalamu ini." Rondge duduk di sofa. Pengawalnya pun mengambilkan sekaleng minuman dingin di minibar. Minuman tanpa soda. "Deph adalah cucu yang kubersarkan sendiri setelah orang tuanya meninggal. Walaupun aku sering berkata kasar padanya, tapi semua orang tau betapa aku menyayangi cucuku itu. Cukup lama aku berusaha berdamai dengan perasaanku, Jimin. Berdamai dengan amarahku padamu yang sempat aku anggap sebagai awal tragedi ini terjadi. Tapi, setelah aku pikir-pikir lagi, betapa Deph berusaha melindungi dan membuatmu bahagia, aku pun hanya punya satu keinginan yang tersisa, yakni mewujudkan harapan Deph. Mewujudkan seluruh perjuangan dia untuk membahagiakanmu. Karena itulah, sekarang kau harus pergi menemui istrimu. Bawa dia kemari dan hiduplah berbahagia seperti sebelum kau mengenal Deph."

"Tapi ...."

Rondge berdiri dan mencakupkan tangan di depan Jimin. "Aku tau kau tak pernah mencintai cucuku. Aku tau yang membuatmu jadi begini itu rasa bersalahmu karena itulah aku mohon padamu. Setidaknya untuk yang terakhir hiduplah berbahagia sesuai keinginannya. Anggaplah apa yang dia inginkan adalah permintaan terakhirnya, Jim. Aku yang tua renta ini memohon, penuhi wasiat itu, kembalilah pada istrimu agar cucuku bisa tenang di alam sana."

Jimin tak bersuara. Tubuhnya gemetar menahan isak tangisnya agar tak keluar.

"Jimin, kakek mohon padamu. Biarkan Deph beristirahat dengan tenang." Setelah Jimin jadi menantunya, Rondge memang lebih memilih dipanggil kakek oleh Jimin.

Tubuh Jimin melunglai. Dia berlutut di hadapan Rondge. Kepalanya menunduk dengan air mata yang telah deras mengalir. "Maafkan aku, Kakek ... maafkan aku ... maafkan aku karena hanya bisa memberi luka pada cucumu ... maafkan aku karena masih ingin terus menunggunya kembali ... maafkan aku, Kakek ...."

Suana ruangan itu berubah jadi begitu hening. Hanya isak tangis Jimin yang terdengar begitu terluka dan hancur.

Mr. Rondge menghela napas berat. Dia menyeka air mata di balik kacamatanya, lalu melangkah pelan meninggalkan ruangan itu.

"James ... katakan padaku, apa yang harus kulakukan? Salahkah jika aku terus menunggunya dan berharap dia kembali? Katakan James?"

"Tuan ...." Tiga bulan terakhir ini James lah yang paling tahu seberapa hancur perasaan Jimin setelah Deph menghilang. Karena itulah dia selalu berhati-hati dalam berbicara. Namun, kali ini apa yang dikatakan Rondge benar adanya. Selain itu, jika Jimin terus terjebak dalam dukanya, dia bisa stress dan itu tak akan baik buat semuanya. Bagaimanapun sekarang Jimin adalah ketua mereka.

"Katakan saja, James. Jika kau juga memintaku pergi seperti yang dikatakan Kakek, aku akan pergi ...."

"Maafkan aku, Tuan. Aku tak bisa memberi terlalu banyak pertimbangan. Tapi, menurutku, apa yang dikatakan Tuan benar adanya. Kau sebaiknya temui istrimu dan mulailah semuanya dari awal atau semua pengorbanan Nona akan sia-sia belaka."

Jimin terdiam sesaat. "Baik, James. Jika kau juga berkata demikian, baik. Akan kulakukan. Tolong siapkan keberangkatanku hari ini, tapi sebelum itu aku ingin mengucapkan salam terakhirku pada Deph."

"Baik, Tuan. Kalau begitu aku permisi untuk membeli seikat kembang untuk Nona, juga memberitahu staff untuk memesan tiket pesawat dan mengatur orang yang akan mejemput dan membawamu ke tempat Seulgi."

"Kau tak ikut?"

"Aku akan menyusul besok dan langsung ke kantor Recdical. Kau butuh waktu untuk bersama keluargamu. Kita akan bertemu di sana dua hari lagi."

Jimin mengangguk, perlahan dia berdiri, dan duduk di sofa. James pun pamit untuk membeli seikat mawar putih. Setelah James pergi, Jimin memutuskam untuk pergi ke rumah Deph. Segalanya dimulai dari sana. Jimin ingin menyimpan kembali semua kenangan bersama wanita itu. Wanita yang telah menggoreskan begitu banyak kisah di hidupnya. Meski kebersamaan mereka begitu singkat, tapi rangkaian kisah itu begitu membekas di hati Jimin, menyisakan duka dan air mata.

Tbc

Under ControlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang