***
Ini bukan kali pertama Yasmin diselingkuhi. Bisa dibilang trauma tapi ia masih punya rasa percaya dan mencoba membuka hatinya untuk seseorang. Kalau ada yang mendekat, ia tidak pernah berpikir kalau akan diselingkuhi lagi. Tapi kenyataan yang terjadi, berakhir sama saja.
"Yas, sebenarnya mau ngapain sih ke sini?" Widi bertanya karena sejak tadi dia tidak mendapatkan jawaban kemana tujuan Yasmin membawa dirinya pergi, tiba-tiba sudah sampai di sebuah basement apartemen yang sama sekali belum pernah ia datangi. "Mau ketemu klien? Katanya mau makan."
"Iya."
Dari awal Widi sudah curiga. Gelagat Yasmin aneh banget. Tapi karena Yasmin tidak kunjung bercerita, Widi akhirnya menebak-nebak sendiri. Kalau ini ada kaitannya sama Ivan, pacarnya Yasmin. Widi minta maaf sebelumnya — ia memang tidak punya hak penuh untuk memaksa, apalagi kalau Yasmin sendiri susah dikasih tahu, kalau Widi tidak suka Ivan.
Yasmin kurusan. Perempuan yang ia kenal suka makan itu jadi jarang sekali terlihat menikmati makanannya. Sudah sejak beberapa bulan ini. Ditambah lagi perubahan raut wajahnya yang tampak selalu murung. Padahal kata orang, orang yang lagi jatuh cinta itu wajahnya berseri-seri.
"Lo tahu nggak mobilnya Ivan?"
Benar saja, semua ini pasti soal laki-laki bernama Ivan itu. Widi sudah malas duluan. "Mana gue tahu. Gue aja plat mobil sendiri nggak hapal."
"Bukan platnya. Mobilnya aja."
"Yaaah kalo liat sih keknya gue tahu itu mobil dia. Emang kenapa sih?"
"Lu coba lihat mobil yang hitam itu di ujung," Yasmin melirik ke sudut basement sembari menunjuk ke sana. Diikuti manik mata Widi setelahnya. Mencari di mana pandangan Yasmin jatuh. "Mobil Ivan kan?"
Tidak yakin kalau mobil berwarna hitam yang dimaksud Yasmin adalah mobil Ivan mengingat banyak yang memakai mobil seperti itu, tapi Widi paham kenapa sang puan bertanya padanya. Yasmin sedang mencoba menyakinkan kalau apa yang ia lihat benar — atau berharap kalau itu salah. Walaupun Yasmin sendiri tidak mungkin lupa rupa mobil pacarnya.
"Lu mau makan apa?"
Belum selesai Widi menanggapi pertanyaannya tadi, sekarang sudah berganti topik. Yasmin menghidupkan mesin mobilnya. Pergi dari sana.
"Bentar deh. Lu tuh kenapa sih?" Widi sampai menghadapkan dirinya ke diri sang puan. Sebel tapi khawatir juga. "Lu berantem lagi sama Ivan?"
"Gue cerita di tempat makan aja. Gue nggak mau nangis di sini."
Widi menghela napas berat, frustasi bukan main. Jatuh punggungnya di badan kursi. Kalau benar Yasmin berantem lagi sama Ivan, ia sudah kehabisan energi untuk peduli. Sebab ini bukan pertama kalinya.
***
Nyatanya, belum sampai di tempat makan, Yasmin sudah lebih dulu menangis. Ditepikannya mobil tak jauh dari apart yang baru saja didatangi itu. Kalau sudah seperti ini, Widi prihatin juga — peduli juga akhirnya.
"Yas, udahan aja nggak sih? Jujur gue nggak tega ngelihat lo begini terus," Widi berbicara dengan hati-hati. Mengelus punggung sang puan yang merengkuh di depan setir. Kali ini, khawatirnya semakin banyak. "Kalo pacaran sama dia cuma bikin lo sedih mulu ngapain tetap dilanjutin lagi."
Yasmin mengangkat kepalanya. Membasuh pipinya yang basah sebab kejatuhan air mata. "Tadi itu apart mantannya Ivan. Kita berantem lagi. Gue udah berusaha ngomong baik-baik supaya dia nggak marah. Gue sebisa mungkin biar nggak berantem-berantem lagi. Capek, Wid."
"Emang kenapa lagi sih?"
"Lo tahu kan bokap gue nggak suka sama dia. Biar dia nggak dimaki-maki bokap gue, gue bilang jemput aja di apart. Ketemu di sana. Tapi dia malah marah sama gue. Cuma karena dia nunggu lama. " Yasmin menjelaskan dengan suaranya yang parau. Isaknya datang cepat. "Macet parah, Widi. Hari ini kan weekend. Lagian nggak selama itu juga perasaan nunggunya."
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
Romance[COMPLETED] Yasmin melewati struggle hidupnya dari dia diselingkuhi sampai dipecat. Tidak ada yang Yasmin harapkan dalam hidupnya saat ini selain kebahagiaan. Dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan nyaman. Ngumpul sama keluarganya, nongkrong sama...
