(25) Report.

480 52 21
                                        

***

Mario kembali ke apartemen Yasmin setelah dia dimaki-maki sama Widi dan mau dilaporin ke Bunda kalau dia gerak buat nyari Ivan. Kedengarannya sangat kekanak-kanakan tapi Widi berhasil menyadarknnya. Mario kalut. Dia sakit hati Yasmin diperlakukan seperti itu. Tapi yang dibilang Widi memang benar. Kalau dia datangin laki-lakit itu dan memukulnya, semua akan makin rumit lagi. Widi bilang, dia akan cari cara lain. Untuk sekarang, Mario menemani saja dulu.

"Dari mana?"

Setibanya dia di dalam apart, Yasmin sudah berdiri di sana. Padahal saat ditinggal tadi, dia tengah tertidur. Matanya menatap sang tuan dalam. Wajahnya juga tangannya. Dan Mario paham apa yang ada dalam pikiran Yasmin.

"Aku pergi cari makan di luar."

Mana mungkin Yasmin percaya usai dia bersikeras menanyakan alamat Ivan sebelumnya. Bahkan juga meninggalkannya yang ketiduran.

"Beneran, Cantik."

Paham kalau dia dicurigai, Mario berbicara lagi. Dia memang hampir mengingkari janjinya. Kalau saja kalutnya semakin mengiblis dan Widi tak hadir jadi remnya, Ivan sudah pasti mati di kediamannya. Dan melihat Yasmin sekarang pun, Mario jadi menyesal kenapa tidak melakukannya. Mata bengkaknya kelihatan. Murung juga rautnya.

"Yas."

"Apa?"

"Aku sayang banget sama kamu."

Mario menatapnya dalam dan tiba-tiba menundukkan kepalanya. Dia menangis. Air matanya cepat jatuh, mengalir di hidungnya dan jatuh. Ia berusaha menutupi raut sedihnya itu dengan lengannya. Bikin hati Yasmin ikutan perih. Diambilnya langkah untuk memeluk laki-lakinya itu. Semua terlalu pertamakali bagi Yasmin. Marahnya Mario, juga tangisnya Mario. Ia pun juga tidak tahu kenapa semua bisa terjadi dalam satu hari ini. Dan begitu menyiksa mereka.

***

"Masih belum bisa tidur?"

Pertanyaan itu datang ketika Mario masuk ke dalam kamar Yasmin dan menemukan perempuannya masih terjaga. Dia mengangguk. Dan kemudian menepuk ranjang di sisinya pelan dan berkali-kali. Kening Mario berkerut. Ia paham maksud Yasmin tapi tak begitu yakin.

"Kenapa?"

Karena terlalu lama bengong, Yasmin bersuara lagi. Cepat tersadar dia dan senyumnya datang. Mario mengambil langkah mendekat kemudian. Naik dia ke atas ranjang serta masuk dalam selimut yang sama dengan sang puan. Kehadirannya itu disambut Yasmin penuh sukacita. Dipeluknya Mario tanpa jeda lagi.

Juga tanpa ragu, Mario membalas pelukan itu. Tangan kirinya menjadi bantal untuk Yasmin. Yang satunya lagi mendekap erat sambil mengelus punggung sang puan. Rasanya hangat sekali. Juga seperti Mario bisa mendengarkan detak jantung perempuannya itu saking dekat dan rapatnya.

"Good night and sorry."

"Udah-udah. Bobo ya."

Ditengoknya Mario setelahnya. Kepalanya menengadah. Jarak bahkan tak bisa disebut keberadaannya di antara mereka. Mario melihat semuanya. Mata cantik Yasmin. Bulu mata lentiknya. Alis mata tebalnya. Pipinya yang merona. Juga ranum bibirnya yang merah muda.

Suasana tiba-tiba memanas. Ada pesan tersirat yang keduanya punya. Cukup lama untuk mereka pahami. Dan kepala Yasmin mengangguk kecil, kemudian. Mata Mario yang merekamnya harus bolak balik membaca maksudnya. Tak mau salah mengartikan. Perlahan-lahan, ia mendekat. Dan Yasmin tidak terlihat akan menghindar darinya.

Detik itu juga, bersamaan dengan mata Yasmin yang terpejam, bibir Mario bertemu dengan miliknya. Yang setelahnya berubah menjadi lumatan. Dengan penuh kelembutan. Dijamah Mario setiap incinya. Tak seperti diburu waktu.

HAPPINESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang