(4) Mall.

600 65 10
                                        

***

Kepala Yasmin rasanya seperti balon yang dipompa terus-terusan — membesar dan siap meledak. Berulang kali, ia menarik napas dan menghembusnya pelan-pelan agar lebih tenang. Air matanya sudah kering. Ini bukan soal Ivan lagi. Memikirkan kembali kalau dia dipecat secara tidak langsung oleh perusahaannya. Disaat karirnya sedang bagus-bagusnya. Semua sudah hilang. Tinggal surat pengalaman kerja. 

Cari kerja bukannya gampang. Apalagi pekerjaan yang memang disukai, lingkup kerjanya seru dan gajinya gede. Tapi mau gimana lagi. Semua orang yang dipindah-tugaskan itu artinya dipecat. Dan ini bukan kasus pertama. Bahkan posisi Yasmin sekarang juga sudah ada yang menempati. Fakta itu tak hanya bikin Widi marah, tapi juga Mbak Ugi, Kakaknya.

"Itu dia emang pengen ngambil posisi lo apa gimana?"

"Papa marah nggak, Mbak, kemaren gue pergi nggak pamit lagi?"

Yasmin mengabaikan cerita itu — aslinya lebih memikirkan bagaimana perasaan Papanya sekarang. Ugi dicap sebagai perempuan paling galak seantero rumah, gampang kesulut amarah dan cukup bisa dibilang pemberani. Tapi tetap saja — sama takutnya sama Papa mereka. Hanya saja, karena Ugi sudah tahu kalau Papa mereka memang tidak seperti Papa orang pada umumnya, Ugi nggak pernah nyari masalah. Adiknya ini yang memang suka bikin emosi Papa mereka naik. Contohnya — pacaran sama cowok nggak jelas. Dari awal udah nggak direstuin, tetap aja lanjut.

"Lu cabut buru-buru apa Papa nggak curiga lu mau nemuin Ivan," Ugi mengatakan apa yang sebenarnya terjadi meski ia tahu adiknya itu akan semakin merasa bersalah. "Tapi dibantu Mama. Mama bilang kalau lu ada masalah di kantor makanya buru-buru. Malah beneran ada masalah."

"Udah putus gue, Mbak, sama Ivan."

Mata Ugi langsung membola ketika kalimat itu keluar dari mulut Yasmin. Orang-orang di rumah nggak tahu gimana jeleknya Ivan. Selama ini, Yasmin tidak pernah cerita terlalu banyak soal laki-laki itu. Yang jelas, di pertemuan pertama, Papa nggak suka sama Ivan dan meminta dirinya menjauh. Mungkin kasusnya beda tipis sama Widi. Tahu tapi tak banyak protes. Widi tahu dari melihat dan mengalami langsung. Sedangkan orang-orang rumahnya hanya menduga saja — dan dugaan mereka itu benar.

"Dia ngapain lo?"

Centeng banget emang. Mungkin begitulah cara sulung melindungi adik-adiknya. Yasmin dan Ugi cuma beda 3 tahun. Meski sudah tidak tinggal serumah, mereka masih sering bertemu di luar seperti pagi ini. Dulu sering berantem tapi udah segede ini bisa dihitung jari. Udah jarang banget. Ugi jauh lebih kelihatan peduli dan perhatian sama Yasmin.

"Nggak ngapa-ngapain. Gue nggak mau durhaka aja sama orang tua."

Mana mungkin Yasmin jujur bilang kalau Ivan selingkuh. Nggak mau bikin Ugi nyamperin Ivan dan bikin cowok itu babak belur. Nggak mau juga kelihatan bodoh di depan sang Kakak. Sebenarnya begitu juga dengan Widi. Cuma kemarin itu Yasmin nggak sanggup kalau harus otw sendirian ke apart mantan Ivan dan ketemu Ivan di sana. Makanya ngajak Widi.

"Lagian juga jelek. Mantan-mantan lu sebelumnya cakep loh, Yas."

"Apaan. Mereka sama aja."

"Yaaah kalo emang seanjing itu minimal cakep. Ini udah anjing, jelek lagi."

"Udah deh." Kalau saja Ugi tahu selama ini Adiknya berada dalam hubungan yang nggak sehat. Mau sama Ivan atau mantan-mantan sebelumnya yang katanya cakep itu. "Temen Joan kalau ada yang ganteng dan nggak anjing kenalin ke gue. Kayaknya brondong mendingan deh daripada seumuran sama lebih tua." sambungnya sembari beberes — nggak tahu mau kemana mengingat dirinya sudah menjadi pengganguran mulai hari ini.

Ugi ikut beberes juga. Udah kebanyakan nyolong waktu di jam kerjanya cuma mau dengar cerita sang adik. "Joan di lu nggak brondong ya. Dia cuma setahun di bawah gue. Jadi teman-teman dia masih tua dari lu."

HAPPINESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang