cw // harsh words
***
"Mas — mending gue aja deh. Entar gampang tinggal bilang lo yang bikin."
Harshad melihat Nadia yang berdiri dengan tegak pinggang di samping sahabatnya itu. Jatuh helaan napas lelahnya. Kayaknya dia menyesal mengiyakan permintaan Mario di hari liburnya ini yang bisa dia pake untuk bersantai. Pikir Harshad pun seharusnya dia juga bisa menghalangi perbuatan gila Mario ini. Semua orang jadi sakit kepala sama tingkahnya.
"Iya, Yo. Udah biar Nadia aja deh. Atau beli di toko kan tinggal pilih."
"Nah setuju sama Mas Harshad," balas Nadia lagi. "Kak Yasmin juga nggak bakalan ngeh, Mas, kalau itu kue buatan dia karena tiap hari dia baking."
Giliran Mario yang menghela napas lelah. Kelihatan sudah oke banget dengan apron yang sengaja dia beli untuk hari ini. Super excited memang. Harshad dan Nadia mengiyakan tadinya juga karena nggak tega juga kalau semangatnya dipatahkan. Tapi sekarang keduanya kompak menyesal.
"Kok lo tiba-tiba nggak mau sih, Nadiaaaa?"
"Mas lo nggak bisa bandingin bikin kue sama masak indomie pake telor ya."
"Iya itu gue tauuuu. Makanya gue ngajak lo."
"Lo bilang ke gue bisa MASAK ya, Mas!"
"Gue bikin indomie pake telor itu masak bukan sulap, Coy!"
"Yaudah AYO sekarang lo pecahin telornya buruan."
"Ke tepung???"
"Kak Ghiiiii tolongin AKUUUUUU!!!!"
Ghistara muncul di apartemennya — sebab dia yang paling terakhir pulang. Dia cukup kaget sebab kedatangannya sudah disambut dengan teriakan Nadia. Benar. Perbuatan gila Mario buat bikin kue hari ini terjadi di apartemen Ghistara. Nggak mungkin di Ruth Zal Bakery karena ada Yasmin di sana. Dan kebetulan Ghistara punya peralatan bikin kue yang lengkap.
"Kenapaaaa?" balas Ghistara sambil ketawa dan mendekat ke kitchennya. Memperhatikan bahan-bahan kue yang sudah memenuhi meja. Agak kebingungan sebab sejak kehadiran mereka di apartnya, Ghistara masih di jalan pulang dari kantor. "Mixernya gimana, Nad? Masih bisa nyala kan?"
"Masih kok, Kak. Tapi otaknya Mas Mario nih yang konslet."
Ghistara ketawa — tapi kasihan juga sama Nadia.
***
Selama setahun pacaran sama Yasmin — selama itu juga Ruth Zal Bakery berdiri, Mario tidak pernah naik ke lantai dua ruko kecuali membantu membawakan bahan-bahan kue atau karena hal mendesak lain. Alasan pertama karena tempat itu adalah tempat penting dari Ruth Zal Bakery alias dapur toko. Semua aktivitas baking juga barang dan bahan ada di sana. Kehadirannya cuma bikin sempit. Alasan kedua— Mario malas naik tangga.
Dengan statusnya sebagai pacar pemilik toko, Mario sebenarnya bisa leluasa menyelusuri setiap sudut manapun. Namun hal itu tidak dilakukannya. Tidak pernah sekalipun dia mampir dan main masuk begitusaja. Mario hanya berakhir di sebelah Carmelo di meja kasir. Kalaupun geraknya lebih dari sana pasti karena disuruh. Mario sangat menghargai toko perempuan itu. Dia tahu kalau Ruth Zal Bakery isinya buka cuma Yasmin. Walaupun tidak seserius ruang meeting di kantornya, mereka yang ada di Ruth Zal Bakery bekerja tidak kalah profesional juga.
Dan beberapa hari yang lalu — ada hal mendesak yang membuat Mario harus naik ke lantai dua ruko. Perempuannya itu tidak kunjung turun. Sebenarnya Mario sangat pengertian dengan kesibukan Yasmin. Ia juga tidak memaksa perempuannya itu harus menemuinya setiap mampir. Tapi kalau sampai di situasi seperti ini, Mario tidak memberikannya toleransi.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
Romance[COMPLETED] Yasmin melewati struggle hidupnya dari dia diselingkuhi sampai dipecat. Tidak ada yang Yasmin harapkan dalam hidupnya saat ini selain kebahagiaan. Dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan nyaman. Ngumpul sama keluarganya, nongkrong sama...
