***
Sebenarnya pemandangan Harshad yang nempel ke Ghistara bukanlah hal baru buat Mario. Justru kalau keduanya belum kelihatan nempel, Mario akan jadi oknum yang deketin mereka. Tapi setelah mendengar kabar keduanya jadian semalam, Mario menghela napas kasar. Bisa-bisanya dia nggak tahu kabar itu. Bisa-bisanya mereka menutupi juga.
"Ghi, entar bilangin sama anak intern sebelah ya," Kalimatnya itu datang di tengah kesibukan yang sedang Ghistara hadapi bersama Harshad di sampingnya. Nggak bermaksud menganggu. "Tipografi sama colour sparation buat projeknya Mbak Diah jelek banget. Suruh revisi." lanjutnya.
Jangan heran kalau dengar Mario terang-terangan saat mengomentari kinerja bawahannya. Dia memang tidak suka berbasa-basi. Dan dia menyadari itu. Sebab itulah dia selalu memberitahu Ghistara lebih dulu. Selanjutnya, Ghistara akan memilih kata-kata yang lebih baik untuk memberitahu yang bersangkutan beserta alasan yang jelas. Kalau Mario mah diksi yang dia punya hanya jelek atau bagus. Nggak ada selain itu.
"Lo mau kemana?"
Harshad bersuara setelah Ghistara diamsaja dengan respon anggukan kecil atas perintah bosnya itu. Si yang paling oke-oke saja tanpa banyak berisik.
Setelah itu, keduanya kompak menengok Mario yang sudah menggantungkan tasnya di bahunya. Menandakan kalau dia akan pergi.
"Mau pulang lah."
"Tumben banget."
"Pacar gue kebetulan nggak sekantor sama gue tuh."
Baik Harshad dan juga Ghistara, keduanya langsung membuang muka. Sudah sejak tadi mereka jadi bulan-bulanan Mario dan sepertinya akan berlangsung selamanya, dosa mereka ini dibahasnya. Sampai detik ini, Mario belum tahu bagaimana Harshad menembak Ghistara. Yang dia tahu hanyalah, mereka sudah jadian sehari sebelum dia pulang dari Jogja. Yang dihitung-hitung berarti seminggu yang lalu. Gimana Mario nggak marah coba.
"Masih aja pundung. Kayak anak esempe lo."
"Kita udah temenan dari orok, Cad. Lo tega sama gue." serang lagi. Sudah beda lagi kalimat kesalnya dari sebelumnya tapi intinya samasaja. Dia pundung. "Gue bahkan abis jadian sama Yasmin langsung nyamperin lo. Nggak nunggu-nunggu besok lagi. Detik itu juga. Semua hal dalam hidup gue sekecil apapun itu, gue cerita ke lo. Tapi lo malah kayak gini ke gue."
Harshad menghela napas, lelah. Kalau dipikir-pikir lagi, kok bisa dia masih betah temanan sama Mario dengan semua tingkah laku esempe-nya. Tapi Harshad sadar, meski kalimatnya itu penuh drama, Mario memang kecewa dengannya. Sebenarnya dia nggak bermaksud mau menutupi. Karena Mario entar juga bakal tahu sendiri tanpa Harshad perlu cerita. Cuma karena kondisi dia kemaren lagi sakit dan kantor lagi repot belum lagi dia sibuk mengejar cinta Yasmin, Mario nggak sadar.
"Ghi ngajak backstreet karena nggak mau bahagia di atas penderitaan lo," Apa sih bedanya Harshad sama Mario. 11 12. Asbunnya sama. Maksud Ghi begitu memang kasihan nggak enak sama Mario yang lagi gencar ngejar Yasmin. Tapi kalimatnya nggak sesarkas itu juga. "Soalnya lo sama Yasmin belom jadian. Kemaren ya. Entar lo fomo gue mesra-mesraan sama Ghi."
Muka Mario itu masam banget. Kayak udah jadi orang yang paling disakiti satu dunia. "Gue udah kenyang lihat lo berdua mesra-mesraan dari dulu. Udahlah. Congrats ya. Akhirnya jadian. Gue kira lo commitment issue, Ghi."
"Ngasal banget sih. Belom jadian karena belom ditembak-tembak aja."
"Emang Harshad nih anjing, Ghi!" Dia tiba-tiba menjadi sekutu Ghistara dalam beberapa detik setelahnya. Padahal dia sama marahnya juga dengan perempuan itu. "Harusnya nggak usah lo terima aja." sambungnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
Romance[COMPLETED] Yasmin melewati struggle hidupnya dari dia diselingkuhi sampai dipecat. Tidak ada yang Yasmin harapkan dalam hidupnya saat ini selain kebahagiaan. Dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan nyaman. Ngumpul sama keluarganya, nongkrong sama...
