(21) Flower.

416 51 7
                                        

***

Mereka berakhir di warung mie yamin Om Ghistara. Kali ini anggota yang datang bertambah. Ada Nadia dan Carmelo juga adik bungsunya Yasmin, Hanin dan Jiwa — karyawan Naja di studio. Nggak mungkin juga mengabaikan Jiwa yang turut mengabadikan momen hari ini.

Ghistara sibuk membantu Om dan Tantenya. Begitu juga Harshad. Setiba-tiba itu akrab dan kelihatan sudah biasa melayani pelanggan di warung ini. Dia membawa satu nampan berisi 6 mangkok mie yamin dan Ghistara sisanya di belakangnya. Semua orang bingung dengan kedekatan mereka tapi bagi Mario itu sudah jadi pemandangan biasa. Harshad kan emang demen Ghistara. Ghistara juga paling juga udah tahu. Cuma emang gimana ya nggak tahu deh.

"Kamu dari mana aja? Jangan suka ilang-ilangan."

Pertanyaan Yasmin ke Hanin jatuh. Gadis itu lagi duduk di tengah orang-orang dewasa. Mungkin Nadia, Carmelo dan Jiwa belum bisa disebut sedewasa itu tapi anak remaja yang baru lulus SMA dan kuliah di tahun pertama sudah bisa gabung dan merasa nyaman di sana —kok bisa?

"Aku tadi bantuin Jiwa."

Dia menyebut nama Jiwa tanpa embel-embel Kak. Padahal jelas Jiwa itu satu angkatan sama Nadia dan Carmelo. Begitulah yang Naja ceritakan. Jiwa sedang menyusun skripsi juga. Hanin duduk di antara dirinya dan sang kekasih, Mario. Semua orang memandangi sang gadis penuh senyum.

"Tadi aku nggak sengaja jatuh dari sepeda, Mbak." balas Jiwa kemudian. "Jadi dibantuin Hanin."

Naja menyambar cepat. "Jatuh di mana?"

"Di depan studio kok, Mas. Nggak papa."

"Lagian lo kalo belum bisa, belajar dulu deh," Widi menyambar. Nadanya terdengar ketus tapi sebenarnya maksud dia nggak begitu. "Jatuh kan."

Harshad itu ketemu Widi bisa dibilang sering. Apalagi kalau diundang ke acara keluarga Mario. Anaknya dari dulu tidak berubah sama sekali. Asbun juga kayak Mario tapi versi hard. Dan Harshad jelas takut lah. Makanya dia tidak banyak bicara juga ke perempuan itu. Hanya mengamati.

"Nanti pulang bareng kita aja, Nin."

Nadia bersuara. Dia duduk persis di sebelah Carmelo. Laki-laki itu terlalu menikmati makanannya jadi cuma mengangguk, menyamai kalimat sang puan. Hanin cepat mengangguk. Soalnya dia sudah yakin kalau pulang sama Kak Yayas pasti disuruh-suruh dulu di toko. Hanin capek. Padahal dia nggak ngapa-ngapain juga.

Setelah aktivitas makan malam dengan menu mie yamin itu, mereka bubar. Harshad belum kelihatan akan pulang. Masih akan tinggal dengan Ghistara di warung. Naja dan Widi bersama Jiwa, mengantarkan anak laki-laki itu ke studio lebih dulu soalnya dia bawa motor. Hanin pulang bareng Nadia dan Carmelo. Yang kemudian, Yasmin kembali berakhir dengan Mario.

"Gue anter pulang aja sekalian gimana?"

"Mobil gue gimana?" Yasmin sudah duduk anteng di bangku sebelah Mario. Menatap laki-laki itu.

"Emangnya kalo ditinggal nggak aman?"

Diketawain sama Yasmin. "Menurut lo aja deh."

"Yaudah kalo gitu mobil gue aja yang ditinggal." timpalnya kemudian. "Gue setirin lo ke apart."

"Nggak takut mobil lo dicuri?"

"Kayaknya nggak bakal ada deh yang mau ambil."

"Nggak boleh jumawa." kata Yasmin sambil menatapnya iseng. "Udah. Antar aja gue ke toko. Gue juga mau ngecek lagi sekalian ambil barang."

Mario mengangguk setelahnya. Ditancapnya gas meninggalkan warung. Menuju toko. Sejujurnya, Mario cuma nggak mau berpisah sama Yasmin aja. Walaupun sudah seharian penuh bersama.

HAPPINESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang