EXTRA PART: Beginning.

767 45 28
                                        

***

Selama hidup - tumbuh dan besar menjadi anak bungsu di rumah, Mario tidak mengenal yang namanya mengalah. Bukan karena dia ingin menang sendiri tapi sebab memang semua yang dia inginkan juga setiap yang tidak dia inginkan selalu dituruti. Mario berani mengungkapkan pendapat. Pribadinya menjadi seseorang yang kritis dan logis. Sampai-sampai, meski dia bersikeras ingin memenangkan frasanya, orang-orang terhipnotis dan paham dengan maksudnya. Begitu juga Yasmin. Namun sayangnya, hanya di beberapa kali situasi saja. Sebab setelahnya, perempuan itu juga ingin menang ternyata. Dan membuat Mario mengenal kata mengalah untuk pertama kali selama dia hidup.

Setelah Widi datang ke apartemennya dan menonjoknya- Mario lupa kalau sepupunya itu sudah khatam ilmu beladiri, dan mengatakan kalau Yasmin sudah berpikir akan membatalkan pernikahan, Mario panik bukan main. Dia langsung lari dari apartemennya menuju toko kue perempuan itu. Dengan dirinya yang masih terus menelpon tapi nggak diangkat. Tidak ada susunan kata dalam kepalanya seperti sebelum-sebelumnya saat akan menemui Yasmin. Mario hanya ingin mengaku salah dan meminta maaf. Mario tidak ingin apa yang jadi ingin perempuan itu kejadian. Mario tidak bisa membayangkan kalau hidupnya tanpa ada Yasmin.

Sudah jelas Mario membenci dirinya. Bagaimana bisa dia memperlakukan Yasmin begitu tega setelah dia berjanji akan menyenangkan hatinya-selamanya. Mario membenci dirinya. Bagaimana bisa dia menyakiti hati Yasmin setelah dia diterima dengan setulus hati. Mario sangat membenci dirinya. Mario menyesali tingkahnya.

"Dek,"

Ketika langkahnya sampai di toko kue, Mario menemukan keberadaan bundanya di sana. Tengah berhadapan dengan Yasmin-yang mukanya sudah dapat dilihat dipenuhi kemarahan. Mario tidak bisa membaca situasi yang terjadi. Perasaannya sudah carut-marut. Napasnya seperti habis lari maraton berpuluh-puluh kilometer. Gemuruh dadanya masih terus kencang.

Yasmin menjadi sangat dekat dengan Bunda. Sebenarnya begitu juga dengan Mbak Zoey, calon menantunya satu lagi dari anak sulungnya. Hanya saja karena Mbak Zoey dipenuhi jadwal yang sibuk, intensitas pertemuan dengan Yasmin jadi lebih banyak. Mario tidak tahu apa saja yang mereka bicarakan saat sedang berdua. Yang bisa ditebak pasti tentang resep makanan dan-dirinya.

Senyum Bunda tampil, sedikit menghilangkan ketakutan dalam diri Mario. Ia mengambil langkah mendekat kemudian. Mau tidak mau juga melebarkan senyum disaat dia sendiri melihat jelas Yasmin membuang muka.

"Kok nggak bilang Adek kalo Bunda mau ke sini?"

Kalimatnya datang sembari diciumnya tangan wanita paruh baya itu dan juga kedua pipinya di kiri dan kanan tanpa ada yang terlewatkan. Tidak lupa peluk untuknya.

"Iya mendadak aja. Pas bangun tidur perasaan Bunda nggak enak. Kepikiran Yayas. Makanya langsung nyamperin." Seruannya datang bersamaan dengan tangannya yang tiba-tiba sampai di punggung perempuannya itu. Diusap pelan. "Eh ternyata bener. Anak cantik Bunda lagi sakit." sambungnya lagi.

Mario langsung menengok ke arahnya. "Kamu sakit?"

"Loh. Adek nggak tahu?"

"Yayas emang belom ngabarin Iyo, Bunda." Perempuan itu menjawab. "Soalnya baru pagi ini Yayas flunya."

Bahkan tidak ada obrolan selain pertengkaran mereka di apartemen Widi semalam. Kalau saja Mario tahu kondisi Yasmin sedang sakit, dia akan datang lebih cepat lagi.

"Yaudah. Habis ini tapi dicek ke dokter ya, Nak."

Yasmin mengangguk dengan penuh senyum kepada Bunda-bahkan untuk menoleh ke arah Mario saja tidak apalagi menjawab pertanyaan khawatirnya sebelum ini. Keberadaan Mario seperti bayangan di sana bagi Yasmin.

"Makasih ya, Bunda. Maaf udah bikin khawatir."

" Nggak papa. Sama anak sendiri juga."

Mungkin kalau ditanya siapa yang paling besar cinta kasih untuk Yasmin antara dirinya dan Bunda, jawabannya sudah jelas Bunda. Sejak menjalin hubungan, apa-apa Yasmin. Masakan yang dibawanya yang biasanya untuknya sekarang harus dikirim dulu ke apartemen Yasmin. Bunda sesayang itu dengan perempuannya. Sepertimana Mbak Zoey diperkenalkan kembali Bang Danes sebagai pacarnya. Katanya akhirnya dia juga punya anak perempuan. Dan kalau misal hubungannya ini berakhir, Bunda akan jadi salah satu orang yang patah hatinya. Mario tidak tega kalau begitu.

HAPPINESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang