***
Yasmin memegang setir mobilnya erat. Sangat-sangat erat seperti akan diseret seseorang kalau saja ia lepas. Matanya bergetar. Susah payah dia menelan air ludahnya. Hiruk pikuk jalanan di depannya bergerak layaknya bayangan. Detak jantung berdebar sangat cepat. Rasanya mau meledak. Di tepi jalan itu, Yasmin diam penuh takut dan cemas. Dia tidak mau pulang.
Sabtu malam minggu lalu, ia masih bersama Ivan. Setiap sabtu malam Yasmin sudah harus di apart. Setiap sabtu malam Yasmin harus mengusahakan dirinya pulang di tengah kerjaan kantornya yang banyak. Tadinya Yasmin berpikir memang benar kata Ivan kalau dia tidak seharusnya bekerja sampai sebegitunya di akhir pekan. Tapi setelah usaha yang Yasmin lakukan untuk tidak mengambil lembur di akhir pekan tetap mendatangkan masalah lain. Yasmin berujung takut di tiap Sabtu-nya.
"Wid, udah semua kan proposal tadi?"
Widi yang masih duduk di depan laptopnya itu menjawab. "Udaaah."
"Gue cabut duluan ya. Ntar Ivan marah sama gue kalo belum sampe apart."
"Anjing sabar aja, Yas. Masih jam 5 juga." Widi paham betul kalau mereka semua tidak seharusnya di kantor jam segini. Tapi tidak perlu seburu-buru itu juga. Lagipula kenapa setiap hari Yasmin harus ketakutan sama Ivan. Dia jadi sebal juga lama-lama. "Kayak dosen aja telat 1 menit nggak dibolehin masuk."
Yasmin menatap Widi tenang. "Lu balik juga deh. Nggak malam mingguan apa sama Naja,"
Bukan salah Widi yang tidak memperingatinya terus terang waktu itu. Harusnya dia lebih sadar pada sekitarnya. Bagaimana Naja yang tidak banyak menuntut Widi. Bagaimana Naja yang selalu lemah lembut kepada Widi. Bagaimana Naja yang memperlakukan Widi begitu baik dan manis. Sedangkan dirinya tidak pernah mendapatkan itu selain takut sama Ivan.
Widi tidak bisa menjadi tempatnya singgah malam ini. Yasmin tidak tahu harus kemana. Ketakutan yang menimpa dirinya kalau saja tiba-tiba Ivan muncul dan marah-marah kenapa tidak ada di apart terus muncul. Semua tempat seperti ada Ivan di sana. Yasmin bingung dan berujung menangis.
Dan tanpa dia sadari — ia sudah berada di salah satu club yang biasanya dia datangi dengan Widi setiap perempuan itu ribut sama Naja. Yang jadi tempat satu-satunya yang Ivan tidak tahu sebab Yasmin tidak mau kalau Ivan tiba-tiba nyamperin dia disaat dia sedang menenangkan sahabatnya.
Jelas saja, Yasmin minum.
Suara musik di dalam club sangat berisik tapi isi kepala Yasmin kosong. Dia tidak ingat apa-apa selain dirinya yang tenang sekarang. Setelah tadi dia mati ketakutan. Yasmin semakin banyak minum dan membuatnya mabuk.
tneang aja wid gue baik2 aj kok
wid lu udh balik blom gw di night 12
nyusul ding
Tadinya pesan perempuan itu tidak sampai di Widi karena hapenya mati. Saat ia menyalakan kembali hapenya sebab mau menanyakan keberadaan Naja juga yang mau menjemputnya, pesan itu masuk. Widi langsung panik.
***
"Siapa sih yang ngomelin gue gila kerja tapi tiba-tiba nelpon gue?"
Langkah kaki seseorang masuk ke dalam ruangan dengan suara nyaringnya. Mario muncul seperti pahlawan super. Kehadirannya membawa angin segar di ruangan yang sumpek banget itu. Banyak kertas di atas meja meeting. Dua laptop menyala terang seolah-olah kalau seterang itu masalah akan kelihatan jelas. Ada dua cangkir kopi yang sudah habis setengah. Sebenarnya ini adalah pemandangan biasa. Jadi nggak heran lagi. Juga tidak heran kalau Mario tiba-tiba muncul untuk membantu.
"Udah makan, Ghi?"
Perempuan itu menatap layar laptopnya serius — sampai kacamatanya sudah menurun. Seruan jawabannya tidak ada kecuali anggukan kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
Romance[COMPLETED] Yasmin melewati struggle hidupnya dari dia diselingkuhi sampai dipecat. Tidak ada yang Yasmin harapkan dalam hidupnya saat ini selain kebahagiaan. Dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan nyaman. Ngumpul sama keluarganya, nongkrong sama...
