***
"Kira-kira bakal berapa lama ninggalin toko, Mbak?"
"Lo sengaja ya kerja selama ini biar bisa cuti nikah seumur hidup?"
"Semoga pas perginya berdua pulangnya jadi bertiga yaaa."
Kalimat pertama itu datang dari Nadia — sudah panik saja kalau dia yang akan menghandle toko sebab ada beberapa resep kue yang hanya bisa dibuat oleh Yasmin dan gagal di tangannya. Kalimat kedua sudah bisa ditebak kalau punya Harshad. Alih-alih kesal harus ditinggal sama bossnya pergi honeymoon sebenarnya Harshad senang akhirnya Mario punya hari libur. Walaupun Harshad sepenuhnya yakin dari sebrang benua sana Mario tetap memantau. Dan kalimat ketiga; sebenarnya bukan dari satu orang saja. Yang pertama berani mengatakan itu adalah Mbak Ugi. Dia pingin punya teman saat hamil. Yang kedua adalah Bunda Mario. Dan sejujurnya, kalimat Bunda cukup membebankannya. Meskipun Mario bilang tidak perlu dipikirkan karena Bunda sepenuhnya hanya mendoakannya.
"Doanya bertiga tapi kalau tiba-tiba jadi berempat gimana?"
"Maksudnya?"
Alis mata Yasmin mengernyit, kebingungan.
"Ternyata kembar."
"Apaan sih — nggak lagi becanda!"
Yasmin tidak mau berbicara dengan Mario yang selalu menanggapi keresahannya dengan ketidak-seriusan. Ia kembali fokus dengan kardus-kardus di depannya. Mario mendekat dan memeluknya dari arah belakang. Menganggu Yasmin dengan memeluknya erat-erat sampai perempuannya tidak bisa bergerak. Diciumnya tekuk leher Yasmin sampai tenggelam ia di sana. Dan Yasmin sudah capek untuk menyuruhnya berhenti daritadi.
"Aku punya loh keturunan kembar."
"Iya?"
"Kakekku kembar."
"Aku tanya Bunda dulu."
"Astagaaaa, Sayaaang. Aku nggak bohong!"
Tawa Yasmin jatuh — tanpa suara. Senang menggoda Mario. Memangnya siapa yang bisa langsung percaya sama si paling banyak omong ini. Dia pandai sekali merayu dan menenangkan Yasmin dengan cara yang kadang ada-ada saja di kepalanya. Yasmin tidak bisa mempercayainya begitu saja.
Hari ini sudah masuk satu minggu sejak mereka di New York. Apartemen di mana Mario sekolah dulu tinggal. Mario tidak berniat untuk menaruh Yasmin di tempatnya ini tapi Yasmin ingin. Pikirnya hanya berdebu saja dan cukup dibersihkan seharian penuh. Yasmin juga ingin merasakan situasi Mario di sini waktu itu. Yasmin ingin mengenang Mario yang dulu.
Saat membicarakan tentang honeymoon, Yasmin langsung menyebut New York. Satu-satunya tempat yang sering dibicarakan Mario. Panjang ceritanya soal kota ini. Sampai akhirnya Jo juga bergabung saat bercerita. Yasmin jadi penasaran dan nggak mengganti tujuan honeymoonnya Meskipun Mario sudah muak dengan kota ini dan nggak mau awalnya.
"Kok kamu bisa perpanjang kontrak apartnya padahal udah mau lulus?"
"Soalnya kata Bunda aku nggak akan lulus jadi disuruhnya lanjutin."
Yasmin langsung ketawa mendengarnya — sambil masih melihat barang-barang di dalam kardus yang sudah dipacking sama Mario. "Tapi nambah 4 tahun itu maksudnya bukan nggak bakal lulus lagi nggak sih, Sayang?"
"Emang kelewatan sih si Bunda. Dikiranya bakal jadi mahasiswa abadi."
"Terus kenapa nggak minta temen kamu buat tinggal di sini?"
"Nggak ada yang mau soalnya angker. Ada hantunya!"
"Ih, Iyooo!"
Yasmin langsung menyikut perutnya — dan ia merintih kesakitan dengan tingkah berlebihan. Mario punya jawaban yang serius tapi dia selalu asbun dan Yasmin sering kejebak. Kalau sudah begini, Mario ketawa keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
Romance[COMPLETED] Yasmin melewati struggle hidupnya dari dia diselingkuhi sampai dipecat. Tidak ada yang Yasmin harapkan dalam hidupnya saat ini selain kebahagiaan. Dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan nyaman. Ngumpul sama keluarganya, nongkrong sama...
