(30) Ready.

487 45 30
                                        

***

Mario biasanya selalu menghabiskan weekendnya di kantor atau di apart dengan tumpukan naskah-naskah yang perlu dia setting sambil menghitung perkiraan biaya produksi sampai membuat desain cover yang seharusnya jadi kerjaan Harshad, Ghistara atau timnya. Ia terlalu perfeksionis sampai terkadang merasa semua yang orang lain lakukan tidak bagus di matanya dan akhirnya dia mengambil alih. Terkesan memang superior, tapi seperti yang sudah-sudah, yang dilakukan Mario pun sangat baik dan menguntungkan tim. Namun setahun terakhir ini, Mario selalu mengisi weekendnya di toko kue sang kekasih, Yasmin.

Kalau biasanya dia tidak punya banyak waktu di weekdays karena hanya mengantar atau menjemput Yasmin di awal dan akhir hari, di ujung minggu waktu Mario lebih banyak untuk membantu. Kadang dia bisa tiba-tiba jadi distributor untuk membawa bahan-bahan kue. Mobilnya sudah biasa dipenuhi berkardus-kardus margarin dan tepung. Kalau lagi banyak orderan kue kering seperti sekarang dia akan turut membantu packing. Mendadak jadi karyawan Ruth Zal Bakery yang bekerja tanpa perlu digaji.

Ruth Zal Bakery yang biasanya cuma take away, sejak awal tahun sudah bisa makan di tempat. Lokasi depan ruko sekarang diperlebar dan ditata dengan bangku-bangku cantik yang akan mulai dipenuhi orang-orang menjelang sore datang. Belum lagi sekarang, Joan ikut bekerjasama dengan membuka kedai kopi dengannya. Jadi orang-orang bisa menikmati makan kue dan ngopi bersama. Meskipun belum punya banyak space mengingat Yasmin sendiri hanya menyewa 2 ruko tapi untuk sekarang toko kuenya dan kedai kopi milik kakak iparnya itu ramai apalagi pas weekend.

"Sayang, yang mana lagi?"

Nadia bahkan ada di sana tapi tanya si tuan hanya datang untuk perempuannya. Mungkin karena sudah kebiasaan saja apa-apa sayang. Sampai sudah tidak pernah mendengar Mario memanggilnya hanya nama.

"Oatmeal cookies udah?"

Dari meja kasir itu — di sebelah Carmelo, Yasmin menjawab dengan balik bertanya. Seharusnya memang Mario mengajukan tanya pada Nadia yang lebih dekat dengannya dan tumpukan toples kue di rak. Dia sekarang bingung oatmeal cookies yang mana. Ada banyak jenis kue di hadapannya. Yang Mario tahu selama hidup 25 tahun cuma nastar dan chocochips.

"Yang ini, Mas. Kan ada tulisannya."

Nadia menunjuk salah satu toples dan kemudian mendorong lebih dekat dengannya. Sambil tersenyum karir. Carmelo sendiri juga. Dipikirnya memang dunia hanya milik berdua, Nadia dan Carmelo cuma ngontrak.

"Nggak tahu ya kalo cinta itu buta?"

"Bodoh ah. Entar buta beneran loh."

Yasmin tertawa kecil dari kejauhan. Senang rasanya Nadia dan Carmelo bisa cocok sama Mario. Begitu juga sebaliknya. Walaupun love-hate relationship karena memang seperti itu Mario membangun hubungan pertemanan. Kalau nggak usil dan nggak jahil — katanya nggak sayang.

"Lo, kalo beda arah biar gue ikut anter juga. Daripada lo muter-muter."

"Mas — dengan senang hati. Thanks banget loh."

Senyum sumringah Carmelo datang. Memang Mario tidak pernah membantu untuk hal-hal semacam baking, ngasir atau internal toko lainnya. Namun Mario bisa diandalkan untuk semacam ini. Nadia dan Carmelo benar-benar merasa terbantu. Geraknya ligat. Otaknya juga jalan cepat. Ada banyak kebingungan yang terjadi di tengah keriwuhan, Mario selalu punya solusinya. Dan dari hal-hal sekecil itu, mereka bisa merasakan betapa supportive-nya Mario. Betapa Yasmin begitu didukung olehnya. Betapa Mario sangat bangga dengan aktivitas yang perempuannya jalani.

"Ayang aku dibayar kan nantiiiii?"

"Laaah orang kamu sendiri yang ngide."

Betapa supportive-nya Mario. Betapa Yasmin begitu didukung olehnya. Betapa ia sangat bangga dengan aktivitas yang perempuannya jalani. Mario selalu datang dengan suka-cita ke toko kue Yasmin. Senyumnya selalu merekah. Matanya menyipit karena terus-terus tertawa. Seperti tidak ada momen dalam hidupnya selain datang ke toko kue Yasmin dan bertemu perempuannya ini. Kabar kalau keduanya mau menikah disambut haru sama Nadia dan Carmelo. Memangnya siapa yang akan menolak laki-laki se-supportive Mario. Yang semua-semuanya selalu didukung dan dirayakan. Mereka pun nggak bisa terima kalau dua orang ini tidak berakhir menikah.

HAPPINESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang