cw// harsh words
***
Meskipun Yasmin sudah mendapatkan kiriman bunga dari Mario, dia tetap ingin mendatangi toko bunga yang berada tepat di depan studio Naja itu. Memang sudah jadi rencananya sejak awal. Walaupun mungkin tidak akan membeli, setidaknya dia melihat dulu. Mana tahu naksir.
"Halo." Yasmin disambut sama yang empunya toko bunga itu dengan penuh ramah saat langkahnya mendekat. "Mau cari bunga apa?"
"Aku dari toko kue yang di sana, Mbak."
"Ohhhh Mbaknya Mbak Yasmin ya?"
"Iyaaa."
"Pantes dikasih bunga gerbera. Sooo beautiful kayak orangnya juga."
Yasmin tidak bisa merespon karena menahan senyum malu-malunya. Pergi dia kemudian untuk berkeliling, menengok bunga-bunga. Semuanya tampak cantik-cantik sekali. Ada banyak bunga mulai dari yang familiar sampai Yasmin sendiri nggak tahu jenisnya apa. Dia senang melihatnya.
"Yas,"
Di tengah aktivitas mondar-mandir Yasmin, seseorang memanggilnya. Suaranya cukup ngebass dan besar. Ditengok Yasmin setelahnya. Ada Juno di sana. Dengan senyum manisnya sebab lesung pipit yang ia punya. Yasmin membalas ramah sambil melambaikan tangan.
"Mau beli bunga?"
Pertanyaannya jatuh setelah berhasil berada di sisi sang puan. Siapapun bisa lihat betapa serasinya mereka berdua. Begitu juga yang empunya toko bunga pikirkan. Meski terlihat sangat kecil di samping laki-laki itu, Yasmin justru menggemaskan. Yasmin kelihatan nyaman juga. Sebab itu, ditinggalkan yang empunya toko mereka berdua. Tidak ingin menganggu.
"Suka bunga nggak?" tawar Yasmin tiba-tiba. Disambut Juno agak kaget. "Biar gue beliin."
"Harusnya gue dong yang beliin lo."
"Nggak papa." balasnya lagi. Kembali berkeliling dan melihat semua bunga. "Gue udah dapat kiriman bunga pagi tadi. Cuma masih pengen beli. Buat lo aja. Kemaren kan lo juga udah kasih gue bunga pas opening. Ini gantinya. Mau nggak?"
Dibalas Juno singkat penuh senyum. "Boleh,"
Yang empunya toko dari kejauhan itu menangkap sinyal Yasmin kalau dia sudah selesai memilih bunga. Dia mendekat. Dan mulai mengambil pilihan bunga dari Yasmin. Satu persatu. Karena emang pengen memilih tapi nggak bisa dibawa ke toko karena vasnya pun sudah diisi bunga dari Mario, Yasmin akhirnya membelikan untuk Juno.
"Jadi Mas Mario dapat balasan bunga juga nih,"
Yasmin mematung dilempar kalimat itu. Senyum yang empunya toko begitu lebar ke arah dirinya dan Juno. Paham sama maksudnya, Yasmin cepat membantah. "Mas yang ini bukan Mario, Mbak."
"Yaampun. Sorry. Mas."
Dia sampai menghentikan aktivitasnya membungkus bunga-bunga pilihan Yasmin itu. Juno yang nggak tahu apa-apa, bengong menatap Yasmin dan empunya toko bergantian. Paham dia lama-lama maksud pembicaraan ini. Sepertinya Mario membelikan bunga dari toko ini ke Yasmin.
"Saya dari vintage store sebelah, Mbak." Setelahnya, Juno langsung memperkenalkan diri. Mungkin karena dirinya jarang menampakkan wujud, banyak orang-orang di komplek pertokoan ini tidak kenal wajahnya. Nuno memaklumi itu.
***
"Lo tuh nggak pernah keluar toko ya," Dalam langkahnya menjauhi toko bunga tersebut, Yasmin bersuara. Dilihatnya sekali lagi perempuan itu. "Mbaknya nggak kenal lo. Naja sama Widi yang sering ke studio juga nggak."
Senyum Juno tampil. Dipikir-pikir lagi, selain dia memang baru beberapa bulan di sini, juga karena jarang berkeliling. "Gue sebenarnya mau kenalan sama yang lain cuma kayak semua orang sibuk masing-masing kan. Jadi belum sempat. Pas kemaren lo lewat depan toko. Gue coba nyapa aja. Kesempatan."
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
Romance[COMPLETED] Yasmin melewati struggle hidupnya dari dia diselingkuhi sampai dipecat. Tidak ada yang Yasmin harapkan dalam hidupnya saat ini selain kebahagiaan. Dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan nyaman. Ngumpul sama keluarganya, nongkrong sama...
