🎧 Peka - Donne Maula, Sheila Dara Aisha
***
Kadang Yasmin suka menangis tiba-tiba setiap dia ingat kalau dia begitu dicintai Mario. Rasanya masih seperti mimpi. Atau memang dia harus mati-matian dulu dalam hidup supaya dapat yang seperti Mario. Terdengar tidak adil - terdengar impas juga. Namun ternyata, hubungan yang tampak seperti laut tenang itu akan ada ombaknya juga. Dan Yasmin pikir selamanya dia dan Mario bisa melewati gesekan ego satu sama lain.
Widi menaruh teh hangat di atas meja persis di hadapan Yasmin. Perempuan itu duduk sambil memeluk lututnya. Rambutnya yang panjangdibiarkannya kusut - ikatannya sudah nyaris lepas. Widi pernah melihat Yasmin lebih kacau dari malam ini tapi yang sekarang jauh lebih menyakitkan untuknya. Mungkin karena Widi kenal dengan siapa dia ribut dan jadi ikut merasa bersalah. Bisa-bisanya Mario melakukan ini. Mau mewajarkannya pun karena kata orang-orang memang ada banyak hal yang terjadi saat mempersiapkan pernikahan tapi harusnya tidak juga kan?
Ting... Nong...
Bel apartemen Widi berbunyi. Sudah nyaris jam 10 malam. Dua gadis itu menengok satu sama lain. Siapa kiranya yang berkunjung semalam ini. Satu-satunya yang paling memungkinkan adalah Naja. Namun dari raut wajah Widi pun kelihatan bingung. Seperti bukan laki-laki itu yang datang.
Kalau saja Yasmin bisa lebih sabar hari ini, ia dan Mario nggak akan ribut dan dia nggak akan di apartemen Widi. Namun mengingat kembali chat Mario yang menyalahkannya itu, Yasmin tidak terima. Semakin dekat dengan hari pernikahan, Yasmin merasa kesabarannya sudah habis. Atau yang sebenarnya memang Mario terlalu bertingkah belakangan ini.
"Wid, please."
Suara yang cukup familiar di telinga Yasmin dari ambang pintu itu terdengar. Yasmin langsung membalikkan badannya, menengok. Setengah was-was. Dan tidak berapa lama, Widi muncul bersama Mario di sampingnya. Melihat kemunculannya itu, Yasmin membeku langsung. Tidak pernah dia setidak-menginginkan ini untuk bertemu Mario. Dan kesal juga karena seharusnya Widi mencegat kedatangannya seperti Yasmin yang melarangnya untuk bertemu malam ini. Namun air muka Widi sudah tampak penuh rasa bersalah dan Yasmin tidak jadi kesal.
"Gua tinggal ya."
Kalimat Widi itu jatuh bersamaan dengan langkahnya ke luar dari apartemen. Dan Yasmin langsung berbalik badan lagi, memunggungi Mario. Bahkan belum apa-apa juga Yasmin sudah ingin menangis, lagi. Berhadapan dengan Mario yang Yasmin tahu pasti dia sudah melewati banyak hal seharian - rasanya tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini. Lelahnya tercetak jelas. Namun isi hati Yasmin tidak bisa sesuai dengan apa yang dia katakan. Ternyata egonya memang sedang tinggi-tingginya.
"Aku bilang kan besok aja ngobrolnya."
"Aku maunya sekarang."
Ada sisi dari diri Mario yang Yasmin tidak suka - dan sebenarnya itu bukannya buruk juga. Bagaimana Mario yang selalu tegas atas kata-katanya. Tidak suka berbasa-basi. Pantang menunda - terhadap apapun itu. Selalu punya solusi dari masalah yang dia punya. Dan dapat Yasmin simpulkan kenapa membuatnya tidak suka karena Mario jadi terkesan egois. Dia mendengarkan pendapat orang lain tapi dia selalu memenangkan pendapatnya. Dia tidak mau kalah meskipun nyatanya dia selalu benar. Dia tidak pernah merasa salah dan selalu punya alasan yang tepat meskipun akhirnya dia mengalah dan meminta maaf. Mario adalah makhluk yang kompleks yang pernah Yasmin kenal selama hidupnya.
Yasmin langsung bangkit dari duduknya setelahnya. Mario bisa melihat bagaimana perawakan Yasmin malam ini. Rasanya ia ingin berlari memeluk sang puan sebab ia paham kalau Yasmin sudah tak sanggup dengan raganya. Namun sama saja - egonya juga sedang tinggi-tingginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
Romance[COMPLETED] Yasmin melewati struggle hidupnya dari dia diselingkuhi sampai dipecat. Tidak ada yang Yasmin harapkan dalam hidupnya saat ini selain kebahagiaan. Dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan nyaman. Ngumpul sama keluarganya, nongkrong sama...
