(7) Hair Color.

640 72 5
                                        

***

Jam di layar hapenya menunjukkan pukul 02:16 WIB, jelas gelap sudah menghantam riuh yang sekarang menjadi hening. Mario mematung di depan laptopnya. Lirik Stuck With U dari Justin dan Ariana jatuh semakin memompa jantung Mario untuk berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia tidak tenang — usai pertemuannya di Yasmin beberapa waktu lalu. Dulu jika ia memikirkan sang puan, bisik malaikat untuk menjauhinya sebab kepunyaan orang lain terdengar lebih nyaring dari yang lain. Sekarang, bisik itu pergi entah kemana. Mario hanya mendengar bisik yang lain.

"Cad???"

"Yooo, yang bener aja. Gue tahu lu emang kerja kayak kalong tapi ini jam berapa, Monyet. Orang lembur juga malas ngomong jam segini" Harshad setengah tidur saat menjawab panggilan telepon sang sahabat. Tapi meski begitu, kalimatnya masih bisa panjang — dan perhatian. "Ada apaan?"

"Gue harus gimana ya?"

"Yaudah nggak usah dipaksa. Lanjut besok aja."

"Ini bukan soal kerjaan, Nyet."

"Jam segini lu mau ngomong apaan selain kerjaan."

Kalau ditanya kenapa Harshad bisa menerima panggilan telepon Mario di jam 2 pagi itu, alasannya karena bawaan alam bawah sadar. Sejak bekerja dengannya, menerima panggilan telepon di jam-jam aneh seperti ini sudah jadi hal biasa. Meskipun harus menyambutnya dengan marah-marah dulu. Sebab Harshad tahu, Mario juga menelepon itu berarti sudah urgent sekali.

"Ini soal Yasmin."

Tapi untuk malam ini, Yasmin jadi alasan Mario meneleponnya.

"Nyet???" seru Harshad. "Lu beneran suka sama dia?"

"Lu pikir selama ini gue ngomong ke lu itu gue ngedongeng, Cad?"

Mau tidak mau, Harshad di sebrang telepon sana bangkit dari tidurnya. Duduk di atas ranjangnya beberapa detik untuk menyegarkan mata supaya pas turun dari kasur nggak sempoyongan. Harshad kemudian mengambil langkah ke mini kitchen. Mengambil air putih di sana dan meminumnya.

"Cad???"

"Bentar, Anjing. Gue lagi ngumpulin nyawa."

Mario mengambil langkah juga — tapi ke balkon apartnya. Udara malam ia harapkan bisa kasih lega di ruang dadanya yang sedang sesak itu. Bagaimana mungkin di hening malam, disaat orang-orang tertidur, ia berdiri diterpa angin malam ini. Dengan berisik kepala dan hatinya yang lama-kelamaan jadi sekutu dan membuatnya bungkam, tak berdaya. Sepenuhnya sekarang, dirinya sudah dipengaruhi oleh perempuan itu.

"Udah sesayang itu lu sama Yasmin sampe jam segini bukannya lanjutin kerjaan Ghistara tapi malah mikirin cewek?" kata Harshad panjang. Sudah terverifikasi sadar total. "Lu terakhir begini pas kita ABG, Nyet."

"Makanya."

"Lu pengen jagain dia?"

"Iya."

"Pengen selalu disampingnya?"

"Iya."

"Yaudah nikahin."

HAPPINESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang