Langit yang tadinya begitu cerah tiba-tiba ditutupi awan mendung yang siap menurunkan hujan. Semesta seolah-olah sangat mendukung suasana hatinya.
Ileana melangkahkan kakinya tanpa tujuan, ia menarik sebuah kalung berbentuk bintang yang menghiasi leher jenjangnya.
"Aku yang terlalu berharap! Aku pikir dia berbeda ternyata sama aja! Racun!" teriaknya melempar benda yang terbuat dari bahan titanium itu ke sembarang arah.
Taman kota, disaat orang-orang berlarian mencari tempat yang teduh karena rintik hujan mulai turun, Ileana malah membawa dirinya kesana. Duduk terisak-isak di sebuah kursi putih yang terletak di pinggir taman dengan beberapa bunga di sekitarnya.
Ileana menutup wajahnya, hujan yang semakin deras membuatnya berani mengeluarkan suara tangisnya. "Bintang gak salah ... aku yang berharap, Bintang gak salah ..."
"Ileana?!"
"Ileana?"
Ileana mendengar namanya, tetapi ia enggan untuk menoleh. Suara itu semakin terdengar mendekat.
Hujan tak lagi membasahinya, Jaygar ikut duduk di samping gadis itu tanpa menutup payungnya.
Jaygar menghela napas. "Na?" panggilnya lembut sembari menepuk bahu Ileana.
Ileana mengangkat pandangan menatap Jaygar yang sudah duduk di sebelahnya, bukannya berhenti, ia malah menangis semakin kencang. Begitu juga dengan hujan yang menjadi semakin deras.
"Jay ..." panggil Ileana. "Aku gak tau ternyata bisa sesakit ini," lirihnya memandang Jaygar dengan sorot matanya yang sendu. "Ternyata bener sesakit itu melihat orang yang kita cintai, mencintai orang lain, gimana cara ngilangin perasaan ini, Jay?"
Tak menjawab, Jaygar memeluk Ileana dengan erat, ia tak punya kata-kata manis untuk menenangkan, ia paham betul dengan apa yang dirasakan oleh gadis itu.
"Aku gak paham sama Bintang, dia ... dia ngasih aku harapan setinggi langit dan dengan mudah ngejatuhin aku gitu aja. Dia bisa buat aku ngerasa bahagia tapi di sisi lain dia juga bikin aku bingung, dan sedih."
Ileana mengeluarkan semua perasaan kecewanya, jika sejak awal Bintang berprilaku biasa saja terhadapnya, ia yakin hatinya tidak akan terasa sesakit ini.
Di matanya, Bintang itu adalah pahlawannya, Bintang yang selalu datang disaat ia butuh bantuan, Bintang yang membantunya melupakan masa lalunya dan sekarang-ternyata dia juga harus melupakan Bintang.
Jaygar melerai pelukannya, memandang Ileana sejenak kemudian menghapuskan air matanya. "Jangan dipaksa, jika memang bukan ditakdirkan bersama, aku yakin perlahan kamu pasti bisa ngelupain Bintang," tuturnya sembari tersenyum manis.
Jaygar menggenggam tangan Ileana saat gadis itu sudah meredakan emosi negatifnya. "Ayo kita pulang, kamu bisa masuk angin kalau kelamaan disini," ajaknya.
•✮°───⋆⋅⋅⋆───°✮•
Bintang kembali dalam keadaan basah kuyup membuat yang lainnya langsung berdiri dari tempatnya. "Ileana kemana?" tanya Annora yang membuat Keisha menyenggol lengannya.
Melihat Bintang terus terdiam membuat Keisha merasa khawatir dengan keadaan pemuda itu. "Astaga Bintang, diam disitu," suruhnya. "Biar aku ambilin handuk."
"Gausah, biar gue aja. Ileana udah pulang bareng Jaygar," tolak Bintang, berjalan begitu saja melewati yang lainnya.
Sepeninggal pemuda itu, keadaan kembali hening, hanya terdengar suara hujan yang mulai mereda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lintas Waktu
Science Fiction[Romance, fantasy] "Terus mengulang waktu tidak akan membuatmu maju!" ____ Setelah lulus sma baru beberapa bulan, Ileana Electra tiba-tiba terseret arus waktu, ia mengalami hal diluar logika. Mengulang dan melompati waktu membuatnya muak dan lelah. ...
