Mereka pulang dengan aman dan kembali ke sekolah pada pukul lima sore. Sekolah hanya diisi oleh siswa-siswi dari angkatannya.
Ileana masih duduk menyendiri di dalam kelasnya sembari memainkan ponsel. Teman-temannya yang lain sudah pulang dan Annora mengabarkan kalau dia dan Kairav resmi berpacaran.
Ileana turut senang mendengarnya. Hampir tiga tahun berjuang secara ugal-ugalan, akhirnya sahabatnya itu mendapat jawaban. Karena langit yang tiba-tiba mendung membuat Ileana memesan taksi untuk pulang.
Dia keluar dari kelas berjalan di sepanjang lorong sekolah yang sepi. Netranya tidak sengaja menangkap Bintang yang sedang menyudutkan seorang gadis ke tembok.
Langkahnya terhenti sejenak hingga akhirnya Bintang melihat ke arahnya, Ileana menunduk berpura-pura memainkan ponselnya dan mempercepat langkahnya.
Beberapa jam yang lalu, mereka masih bersama dan sekarang Bintang berduaan dengan perempuan lain. Ileana menggelengkan kepalanya. Dari awal, Bintang tidak pernah berniat menemaninya, ialah yang memaksa pemuda itu untuk terus bersamanya.
Jadi sekarang, dengan siapapun dan apapun yang dilakukan Bintang bukanlah urusannya dan dia tidak berhak melarang pemuda itu.
Meskipun sebenarnya rasa sakit masih. muncul di hatinya tetapi tidak sesakit saat dia pertama kali melihat Bintang dengan Karina. Sepertinya dia sudah mulai terbiasa dengan sikap Bintang yang sekarang.
Sebuah mobil berwarna putih sudah terparkir di depannya. "Mbak Ileana, ya?" tanya sopir tersebut.
Ileana mengangguk kemudian masuk ke dalam kendaraan beroda empat itu karena rinai mulai jatuh membasahi bentala.
Hujan yang mengguyur jalanan membuat lalu lintas menjadi sepi, tidak ada lagi kendaraan yang melewati maupun menyalip. Ia tiba-tiba merasa gelisah tanpa alasan.
Perjalanan terasa begitu lama, dia mengarahkan perhatiannya pada sopir yang semakin menambah kecepatan laju mobil.
"Pak, ini bukan jalan ke rumah saya!" ucap Ileana memperhatikan sekeliling jalan yang dipenuhi dengan pohon-pohon tinggi. Ia merasa dejavu.
"Pak! Tolong berhenti sekarang!" seru Ileana panik.
Ia meraih sandaran kursi sopir dan mengguncangkannya dengan keras. Tetapi pria itu sama sekali tidak mempedulikannya.
"BERHENTI PAK! ATAU ANDA AKAN SAYA LAPORKAN!" teriaknya.
Ileana merasakan kepalanya berdenyut dan terasa berat, tubuhnya yang lemas terpental ke belakang. Keadaannya sekarang terasa tidak asing, perkataan Raiden tiba-tiba terbesit di kepalanya.
"Karena besok adalah hari disaat kamu mati."
"Lo mana tahu! Lo itu udah pernah mati, Na!"
Ia menjambak rambutnya, kepalanya terasa ingin pecah. Napasnya memburu, keringat dingin mengucur membasahi dahinya.
"Bawa dia masuk te tabung itu!"
"Beri dia kode yang berbeda!"
"Ini adalah percobaan kita paling mengesankan."
"Perbaiki sinyalnya, dan hapus ingatannya."
ARGH!
Ileana berteriak. Suara derasnya hujan dan gemuruh petir saling beradu. Pandangannya mulai buram dan semakin gelap, kendaraan beroda empat itu melesat melintasi jalanan menurun yang licin.
Mobil itu meluncur hingga menabrak penghalang jalan kemudian jatuh terhempas ke jurang yang dalam. Suara nyaring terdengar dan- dalam sekejap, suasana menjadi hening.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lintas Waktu
Science Fiction[Romance, fantasy] "Terus mengulang waktu tidak akan membuatmu maju!" ____ Setelah lulus sma baru beberapa bulan, Ileana Electra tiba-tiba terseret arus waktu, ia mengalami hal diluar logika. Mengulang dan melompati waktu membuatnya muak dan lelah. ...
