Sepanjang perjalanan menuju butik, hanya terdengar suara mesin kendaraan. Ileana yang tenggelam dalam pikirannya sedangkan Raiden fokus menyetir, meskipun terkadang pemuda itu menanyakan beberapa pertanyaan yang hanya dijawab dengan singkat oleh kekasihnya itu.
Ileana juga tidak lupa menanyakan tentang nama-nama yang terus terlintas di benaknya tetapi, tidak ada satupun yang Raiden ketahui.
Sesampai di bangunan yang begitu luas diterangi dengan cahaya lampu yang menyala begitu cerah, Raiden menggenggam tangan Ileana dengan erat.
Mereka berjalan melewati gaun-gaun mewah berbagai macam warna yang dipajang dengan rapi. Aroma segar dengan harum bunga-bunga menusuk indra penciuman.
Ileana tersadar, ia melupakan sesuatu. "Rai," panggilnya menghentikan langkah. "Sling bag sama hp aku ketinggalan di mobil, aku ambil dulu ya?"
"Mau aku temenin atau aku aja yang ambilin?" balas Raiden sedikit menunduk memandang Ileana.
"Gak biar aku aja, kamu duluan sana!" suruhnya sedikit mendorong punggung Raiden agar laki-laki itu berjalan meninggalkannya.
Setelah melihat Raiden sedikit jauh, ia menghela napas lega. Diam-diam Ileana ternyata sudah mengingat semuanya, ia pulang dari study tour lalu kendaraan yang di tumpanginya jatuh ke jurang.
Bukannya mati, dia malah melompati waktu dan tiba-tiba akan menikah dengan Raiden.
Ileana mengambil napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya dengan pelan, ia kembali melangkahkan kaki untuk pergi mengambil ponselnya. Siapa tahu ia mendapatkan jawaban dari sana.
Namun, kemungkinannya sangat kecil. Ia bisa saja sudah mengganti ponselnya mengingatkan benda pipih itu tidak pernah diganti selama beberapa tahun. Berakhir rusak.
Ileana melihat sebuah benda yang baru saja terjatuh dari orang yang berjalan di depannya. Dia segera mengambilnya dan menghampiri sepasang kekasih itu untuk menyerahkannya.
Ia memperhatikan benda yang berada di tangannya, jantungnya berpacu dengan cepat. Sebuah harapan muncul dalam hatinya.
"Bintang!" panggilnya dengan keras.
Laki-laki yang menutup kepalanya dengan kupluk dari hoodie hitamnya itu berbalik badan membuat Ileana refleks merekahkan senyum.
Senyuman manisnya hanya bertahan beberapa detik ketika melihat ke arah gadis yang mengenakan mini dress berwarna pink berdiri di samping Bintang.
Ileana berjalan mendekati mereka kemudian memberikan jam tangan berwarna merah itu pada Bintang. "Ini punya kamu, kan?"
Bintang mengangguk pelan dengan alis yang menekuk. "Terimakasih. Ngomong-ngomong, darimana anda bisa tahu nama saya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pertanyaan dari Bintang membuat hatinya terasa sakit. Bintang melupakannya? Atau Bintang tidak mengenalnya?
"Aku—saya." Ileana melirik wanita di sebelah Bintang yang memandangnya dengan penuh rasa penasaran. "Saya tadi tidak sengaja mendengar nama anda. Saat berbicara," jawabnya berusaha tenang.
"Eh kalian akan menikah ya?" tanya Ileana sembari memaksakan senyumnya, ia melihat tote bag yang di pegang oleh wanita itu yang berlogo sama dengan butik khusus baju pengantin yang sedang ia kunjungi.
"Iya! Kami akan menikah satu minggu lagi," jawab wanita dengan rambut disanggul rapi itu, dia menyodorkan tangannya mengajak Ileana berkenalan. "Saya Carmila Alexine, calon istri dari Bintang Ravendra Adhiyaksa."
"Saya Ileana Electra, selamat ya untuk kalian, semoga pernikahannya berjalan dengan lancar," balasnya.
Carmila tersenyum. "Terimakasih, anda kemari juga pasti sedang mencari baju pengantin kan? Apa anda juga akan menikah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lintas Waktu
Science Fiction[Romance, fantasy] "Terus mengulang waktu tidak akan membuatmu maju!" ____ Setelah lulus sma baru beberapa bulan, Ileana Electra tiba-tiba terseret arus waktu, ia mengalami hal diluar logika. Mengulang dan melompati waktu membuatnya muak dan lelah. ...
