Di tengah-tengah pepohonan yang begitu tinggi, bahkan matahari sulit menunjukan cahayanya di sana. Suara burung yang terbang di sekitar, suara isakan tangis, suara sirine polisi dan ambulans bergaung saling bersahutan.
Ileana masih berdiam diri ditemani seekor kucing yang sedari tadi mengelus kakinya. Meski tidak mengerti apa yang sedang terjadi, rasa panik dan takut memenuhi hatinya.
Dia mengedarkan pandangannya mencari orang-orang yang mungkin di kenalnya. Ileana berlari melihat Jaygar berdiri di dekat salah satu mobil ambulans.
"Jay!"
Ileana menoleh, melihat Annora dan yang lainnya berlari tergesa-gesa menghampiri dengan raut wajah yang tak kalah paniknya.
"Ada apa, Ra?" tanya Ileana yang sudah berada di hadapan mereka.
Tidak ada jawaban bahkan mereka seolah-olah tidak mendengarkan. "Hey, Annora?" panggil Ileana sembari melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu.
Mungkin karena saking paniknya, Annora tidak bisa fokus dengan perhatiannya. Ileana memegang pundak gadis itu.
"Aku ... kenapa?" tanya Ileana memperhatikan kedua tangannya. Dia tidak bisa menyentuh Annora, tangannya menembus tubuh gadis itu.
"Ini pasti mimpikan? Ya ini pasti mimpi!" ucapnya meyakinkan diri.
"Bagaimana? Kacanya bisa di buka?"
Suara bariton berat membuat Ileana mengalihkan atensinya. Ia mendekati pria yang tidak dikenal itu untuk memastikan apa yang sedang terjadi.
"Kacanya sudah pecah! Cepat keluarkan dia!"
Ileana memundurkan langkahnya, lututnya lemas, netranya memanas melihat pemandangan di hadapannya. Bulir bening dari matanya jatuh tanpa disuruh.
"Bintang!" teriak yang lainnya serempak.
Ileana duduk mendekatkan diri di samping Bintang, matanya sudah terpejam, banyak pecahan kaca di bagian tubuh pemuda itu, darahnya berceceran dimana-mana.
"Bangun Bintang!" serunya.
Ilea ... Na ...?
Matanya sedikit terbuka, meski terdengar samar. Ileana bisa mendengar dengan jelas suara Bintang yang memanggil namanya.
"Cepat! Cepat bawa dia ke rumah sakit!" seru Keisha.
Suara tangis Jaygar terdengar, ia memandang telapak tangannya yang sudah berlumuran darah. "Terlambat, Sha. Dia udah pergi!"
"GAK! GAK MUNGKIN!" teriak Ileana.
"Siapa Ileana? Kenapa Bintang nyebut nama dia di detik terakhirnya?" tanya Annora dengan tatapan kosongnya.
Ileana berpindah di dekat Annora sembari menunjuk dirinya. "Aku Ileana, Ra! Aku di sini! Buka mata kamu! Aku di sini!"
"Berhenti nangis! Sekarang Bintang udah bahagia di sana! Ini yang dia inginkan selama inikan? Membuat mesin waktu untuk bertemu dengan mamahnya!"
"Tutup mulut lo, Al!" sentak Annora tidak terima.
Ileana menutup telinganya tidak suka mendengar perdebatan kedua temannya. Ia memundurkan langkah, duduk meringkuk menutup matanya.
Hatinya terasa sesak membuatnya sulit untuk bernapas.
"Tolong ... siapapun bangunin aku dari mimpi buruk ini!"
Bahkan air matanya sudah kering akibat tidak berhenti menangis. Mulutnya sudah tidak bisa berkata-kata, hanya suara isakan yang terdengar memilukan.
Ileana merasakan tubuhnya berada dalam dekapan, dia bisa mencium aroma orang yang memeluknya. "Gue disini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lintas Waktu
Ciencia Ficción[Romance, fantasy] "Terus mengulang waktu tidak akan membuatmu maju!" ____ Setelah lulus sma baru beberapa bulan, Ileana Electra tiba-tiba terseret arus waktu, ia mengalami hal diluar logika. Mengulang dan melompati waktu membuatnya muak dan lelah. ...
