Beberapa menit di perjalanan yang sedikit macet akhirnya Ileana pun sampai di sekolah. Siswa-siswi dari kelas dua belas sudah ramai di depan gerbang, ada yang sedang menunggu temannya, sibuk dengan ponsel, bercanda gurau dan lain sebagainya.
Ileana melangkah masuk mengedarkan pandangannya mencari tempat teman-temannya berada.
"Ileana! Sini!" panggil Keisha dengan lantang.
Ileana berlari kecil menghampiri teman-temannya yang duduk di kursi bundar yang berada di taman samping gerbang sekolah.
Langkahnya terhenti saat seorang siswa berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis kemudian menyodorkan sebungkus coklat dengan setangkai bunga mawar berwarna merah kepadanya. "Selamat hari valentine kak!"
Ileana mengerutkan keningnya karena hari valentine tahun ini sudah lewat. "Bukannya valentine itu bulan februari ya?"
Pemuda berseragam acak-acakan itu menggeleng. "Hari kasih sayang mah setiap hari, kak," balasnya dengan mengedipkan sebelah mata. "Semangat ya buat hari ini!"
Ileana mengangguk pelan. "Ok. Makasih ya."
Siswa laki-laki itu mengangguk dengan semangat. "Duluan ya! Aku mau masuk ke kelas dulu, bye!" pamitnya.
Ileana memandang bunga dan coklat itu dengan lekat kemudian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Dasar bocah."
Suara nyaring dari pengeras suara terdengar. Seorang pembina mengumumkan untuk berkumpul bersama kelas masing-masing sebelum menaiki bus.
Mereka pun segera mengikuti arahan dan berpisah untuk ke kelas masing-masing. Annora merangkulnya sembari berjalan menuju bus yang akan mereka naiki. Sedangkan Keisha dan Alteza sudah hilang dilahap keramaian.
"Dari siapa tu?" tanya Annora melihat ke arah benda yang dipegang Ileana.
"Gak tahu, aku gak tahu namanya. Buat kamu aja," balasnya memberikan setangkai bunga dan coklat itu pada sahabatnya yang diterima oleh Annora dengan senang hati.
"Woi! Cepetan! Kalian berdua mau ditinggal!" teriak Bintang beberapa meter di depan mereka membuat keduanya mempercepat langkah untuk masuk ke dalam kendaraan beroda empat itu.
•✧°————°✧•
Siswa-siswi sma Nusa bangsa sudah sampai di tempat pertama. Sebuah museum sejarah.
Mereka keluar dari bus dengan teratur, tidak banyak dari mereka mengalami pusing dan muntah-muntah. Ileana menutup telinganya mendengar suara kesakitan itu, ia takut hal itu juga bisa mempengaruhinya.
"Ayok cepat, Ra!" ajaknya menarik tangan Annora menjauh pergi dari sekitaran bus.
Di tengah keramaian, ketiganya selalu bersama dengan Annora sebagai pengikatnya.
Di dalam museum terdapat banyak benda-benda bersejarah seperti artefak, patung, replika bangunan dan masih banyak lagi.
"Lepasin gandengan lo! Gue bisa jalan sendiri," titah Bintang tetapi tidak dihiraukan oleh Annora dan malah memperat tangannya.
"Udah diam! Nanti lo bisa ilang karena gak ada gue!"
Selama berada di dalam museum, mereka berbagi cerita dan informasi masing-masing mengenai benda-benda prasasti itu, tidak lupa juga mengambil banyak gambar sebagai kenangan.
Ketiganya juga menyempatkan diri mencari Alteza dan Keisha untuk berfoto bersama. Sayang sekali Jaygar tidak berada di sana.
Hanya satu jam berada di museum mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju taman margasatwa. Di sana, mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu di area terbuka.
Angin bertiup dengan lembut di antara pepohonan hijau yang berada di sepanjang jalan kebun binatang. Suara riuh dari beberapa hewan terdengar serasa seperti di alam liar.
Hewan-hewan tampak santai berada di habitatnya, ada yang asik di atas ranting pohon dan ada pula yang tertidur nyenyak di bawah naungan pepohonan.
Selama berada di kebun binatang, mereka juga melakukan hal yang sama seperti di museum untuk tetap selalu bersama. Tetapi kali ini, mereka membuat jadwal giliran masing-masing untuk melihat binatang yang ingin di kunjungi.
"Ular! Aku gak mau kesini, ayok pergi, Ra!" keluh Ileana menarik Annora dan Bintang menjauh dari sana, nihil kedua remaja itu masih berdiam diri melihat hewan yang bertubuh panjang nan menggelikan itu.
Ileana bernapas lega, akhirnya giliran Bintang pun tiba. Pemuda itu membawa kedua sahabatnya menuju sebuah tempat yang sedikit berisik. Suara gauman harimau terdengar.
"Gemoy! Harimaunya mirip kucing," tunjuk Ileana ke arah hewan karnivora itu.
"Itu emang kucing, Na. Gak ada gemoy-gemoynya sama sekali! Yang kecil aja nyeremin apalagi itu, sekali hap langsung hilang!" jawab Annora ngeri mengingat dirinya pernah di kejar oleh kucing milik Bintang.
Seekor harimau berjalan mendekat ke arah mereka, memperhatikan dengan tajam di balik pagar besi yang kokoh itu.
"Ayok pergi! Mereka pasti lagi lapar, makanya kesini! Gimana kalau nanti besinya rusak?! seru Annora yang berada di tengah-tengah antara Ileana dan Bintang.
"Diam atau lo gue lempar kesana jadi umpan mereka!" ancam Bintang tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Annora!"
Panggil seseorang membuat ketiganya refleks menoleh ke sumber suara. Seorang laki-laki dengan baju kaos kuning menyala sama seperti mereka, kain putih terikat di lengannya menandakan dia bukan hanya siswa biasa. Melainkan anggota osis yang juga menjadi panitia.
"Boleh bawa Annora sebentar?" tanya Kairav pada Ileana dan Bintang.
Bintang mengalihkan perhatiannya pada Annora yang sedang terlihat salah
tingkah. "Bawa aja," jawabnya.
Kairav mengulurkan tangannya yang diterima dengan senang hati oleh gadis itu. Mereka pun berjalan beriringan sembari bercanda gurau yang disaksikan Ileana dan Bintang.
"Sekarang terserah lo mau kemana aja," ucap Bintang sepeninggalan dua sejoli itu. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan Ileana yang masih berdiam diri.
Namun dengan cepat Ileana berlari mengejarnya dan ikut berjalan di sampingnya. "Kamu mau ninggalin aku sendiri? Gimana kalau nanti aku tersesat?" tanya Ileana memeluk tangan Bintang yang membuat pemuda itu berhenti.
"Itu gak mungkin, liat aja sekitar. Kalau ada baju kuning di sekitar lo tinggal ikutin aja. Sekarang lepasin tangan lo dari gue!"
Ileana menggelengkan kepala. "Gak!"
"Lepasin! Gue gak suka di pegang."
"Tapi waktu itu kamu meluk aku, apa jangan-jangan ... kamu mau dipeluk?"
Bintang menghela napas membuang wajahnya ke arah lain, kembali berjalan dan membiarkan Ileana memeluk lengannya. Tidak mengeluarkan sepatah kata lagi.
"Kita sekarang liat rusa ya! Tapi aku mau beli apel dulu buat rusanya!"
"Kasih wortel aja."
•✧°————°✧•
Ileana memandang dengan kagum hewan mamalia yang berdiri dengan elegan di depannya. Ia mengambil sebuah wortel dari keranjang yang dibawanya.
"Rusanya albino, Bin!" ucapnya mengalihkan perhatian ke arah Bintang dengan senyuman manisnya.
Rusa berwarna putih itu semakin mendekatinya karena mencium aroma wortel yang ia berikan. Rusa itu mulai menggigitnya dengan cepat.
"Kamu gak mau kasih makan?" tanyanya
Bintang menggeleng mengeluarkan ponselnya. "Biar gue foto."
Ileana merekahkan senyumnya menghadap kamera sembari memberikan wortel pada rusa putih di hadapannya.
• To be continued •
KAMU SEDANG MEMBACA
Lintas Waktu
Ciencia Ficción[Romance, fantasy] "Terus mengulang waktu tidak akan membuatmu maju!" ____ Setelah lulus sma baru beberapa bulan, Ileana Electra tiba-tiba terseret arus waktu, ia mengalami hal diluar logika. Mengulang dan melompati waktu membuatnya muak dan lelah. ...
