Shasha butuh beberapa detik untuk mencerna ucapan Langit barusan. Alih - alih menanyakan hal krusial dari maksud ucapan Langit, hanya "Hah?" yang keluar dari mulut Shasha yang otomatis membuat Langit tergelak.
"Muka lo bingung banget!" Langit masih tertawa dengan sebelumnya mendorong dahi Shasha pelan.
"YA LAGIAN LO ANEH BANGET?! ORANG GUE ABIS NANGIS MALAH LO TEMBAK." Shasha akhirnya meledak--salting.
"Ya kan jadinya lo nggak nangis lagi." Langit menjawab enteng.
"TAPI NGGAK GINI JUGA CARANYA CHANDRA LANGIT ABHYZANDYA!"
Langit sedikit kaget karena ini pertama kalinya Shasha menyebutkan nama panjangnya lengkap. Somehow, it feels perfect when she spells his name correctly.
"Iyaaaaaaa Shasha Karaniiiii." Langit menjawab dengan nada menggoda yang makin membuat Shasha salting.
Percakapaan mereka terhenti karena suara perut Shasha yang terdengar mengeram marah karena tidak diberi haknya dari pagi tadi.
Shasha memejamkan matanya malu sambil memegangi perutnya yang memang sangat lapar. Sementara Langit menggeleng dan mendengus geli. "Kapan terakhir kali lo makan hari ini?"
Shasha membuka satu matanya hanya untuk melihat Langit masih mengulum senyumnya. "Jam 6 pagi sebelum akhirnya gue tepar di kamar karena belum tidur dari kemarin malem."
"Aduh, life of 6th semester. I can't relate." Kembali Langit mencerca yang membuat Shasha melempar bantal sofa ke arah Langit yang dengan mudah menghindar dan berjalan ke arah dapur.
"Choose one of the dishes. Nasi goreng, tomyum atau capcay?"
".....lo mau gofood aja, kan?"
Langit menggeleng. "Gue masak lah."
Mata Shasha membulat sempurna. "NO FREAKING WAY?!"
"Cepetan piliiiiih Shasha Karani."
"Berhenti panggil nama lengkap gueee!"
"Yaudah cepetan pilih Shasha Sayang."
"DIEM NGGAK?!"
Langit tergelak sempurna melihat bagaimana pipi shasha yang merona merah. "Yaudah gue bikinin nasi goreng sama capcay ya. Kelamaan nungguin lo selesai salting."
"Bodo amat!"
Shasha segera membuka laptopnya dan memilih mengerjakan pekerjaannya di karpet bawah dengan laptop yang ia taruh di meja. Sedikit kesulitan karena posisi yang tidak nyaman. Tidak berapa lama, laptop Shasha diambil oleh Langit dan di bawa ke meja kerja di kamar Langit.
"Kerjain di sini. You can close the door. Biar lebih konsen. Gue nggak akan ganggu."
Shasha setuju. Gadis itu masuk ke kamar Langit hanya untuk menemukan sebuah fakta bahwa kamar Langit yang serba biru dan rapi ini.
"Lo....beneran suka langit, ya?"
"Kalo lo gimana?"
"HAH?"
"Lo suka LANGIT juga nggak?"
"....." Shasha terdiam dengan pipi yang merona merah.
Langit kembali tergelak sementara Shasha akhirnya memukul lengan Langit keras. "JANGAN GODAIN GUE MULUU!"
Langit mengaduh pelan tapi tetap tertawa sambil keluar dari kamarnya. Meninggalkan Shasha yang perutnya dipenuhi kupu-kupu hidup yang sepertinya akan susah tumbang.
"Ini gue harus berguru sama siapa sih ngadepin brondong kaya si Langit." Shasha menggerutu tapi tetap berjuang menyelesaikan tugas kuliahnya malam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Neozard
General FictionKehidupan para mahasiswa yang tinggal di asrama Neozard dengan segala macam cerita dibalik kesempurnaan yang tercipta di depan mata. "Everyone has their own war; the painful one, the struggling one, the damaged one, the regretful one and the incurab...
