Gio berpapasan dengan Nandira di depan pintu toilet sebelah timur saat dirinya berniat untuk ke kamar kecil. Gio melihat gadis itu sudah sedikit pucat dan sekarang sedang menggigit bibir bawahnya--tanda gadis ini sudah mulai anxious. Gio mendekati Dira dengan harapan gadis itu akan melengos seperti reflek yang biasanya gadis ini perlihatkan. tapi tidak. Dira bahkan tidak sadar Gio sedang berada di radarnya.
"Kenapa lo?"
Biasanya jika ditanya seperti ini, Dira akan menjawab jutek dan melengos pergi tapi kali ini Dira menggeleng dan tidak mengatakan apapun. Gio menyadari bahwa Dira sedang memperhatikan sekitarnya dan entah sedang memikirkan apa karena gadis itu menarik nafasnya kasar sebelum pergi meningalkan Gio.
Gio berada di dalam toilet dengan berusaha tidak mengacuhkan perasaannya. Ia tau Dira punya ketakutan tersendiri dengan kolam renang tapi Gio berpikir selama gadis itu tidak masuk ke kolam renang harusnya tidak akan ada masalah. Tapi semakin Gio memikirkan hal itu, otaknya semakin memaksa dirinya untuk pergi dan mencari Nandira. Entah karena apa, Ia merasa harus menjaga Nandira dengan matanya sendiri walaupun ia yakin banyak mata sudah menjaga gadis itu.
Akhirnya Gio memilih meninggalkan toilet dan menuju ke arah Dira tadi pergi. Gio tidak yakin Dira memilih untuk menuju area outdoor karena di luar cuaca sedang buruk dengan awan mendung yang kentara. Ditambah tidak ada siapapun di area outdoor sekarang. Gio sudah akan kembali masuk saat terlihat satu orang anak panti asuhan berlari tergesa.
"Kak! tolongin adik saya. Adik saya ada di tengah kolam" gadis kecil itu berkata dengan raut wajah cemas. "saya disuruh kak Nandira untuk nyari bantuan"
Detik setelah gadis kecil itu mengucapkan nama Nandira, Gio segera berlari ke arah gadis kecil tunjuk. Gio berlari dengan berusaha tidak mengiyakan perasaan tidak enaknya tapi ternyata kali ini feelingnya akurat. Gio melihat Guna menangis di sisi kolam dengan pelampung yang melingkari sementara Nandira terlihat berada di tengah kolam dengan wajah pucat pasi. Gio sudah akan memanggil Nandira saat kemudian ia melihat gadis itu berniat untuk naik ke sebuah pulau buatan tapi gagal saat suara petir terdengar yang membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya.
Tanpa pikir panjang, Gio segera melompat ke kolam renang. Mengabaikan handphonenya yang sedang berada di dalam kantong celananya juga jam tangan ratusan juta yang sekarang melingkar di tangannya. Gio tidak mempedulikan apapun. Laki - laki itu berenang dengan ke tempat Nandira berada. Ia bisa melihat gadis itu sudah hampir tenggelam. saat jaraknya sudah dekat, Gio bisa melihat Nandira memejamkan matanya dan sudah setengah lemas.
Gio menarik tubuh Nandira dan membawa gadis itu ke permukaan dan dengan reflek, gadis itu merangkul leher Gio erat. Gio mengangkat tubuh Dira yang sudah setengah lemas. Gio yakin gadis itu tidak banyak minum air karena Gio datang tidak lebih dari 10 detik gadis itu tenggelam. Tapi melihat Nandira tidak berniat membuka matanya, membuat Gio sangat khawatir. Laki ini terus berusaha memastikan Nandira baik - baik saja.
"Nandira! Dira! Nandira! Bangun, ra!" Dira memanggil Nandira yang saat ini berada dalam rengkuhannya.
Sebelum Nandira bisa membuka matanya, Gio bisa melihat gadis itu menangis dan masih menolak untuk membuka matanya.
Nandira sedang mengingat bayang menyakitkan dari masa lalunya.
Merasa usahanya untuk memanggi Nandira tidak membuahkan hasil, Gio memilih untuk membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Ada gue, Ra. Ada gue. " Gio berkata sembari mengeratkan pelukkannya dengan tangan kanan yang mengusap rambut Nandira pelan. "Semua udah baik - baik aja. Jangan diinget. Ada gue,Ra"
Untuk beberapa saat, Gio bisa merasakan Nandira kesulitan untuk mengambil nafasnya sendiri hingga akhirnya Gio melepas pelukannya hanya untuk memastikan gadis itu baik - baik saja. Dan detik saat Gio melepas pelukannya, gadis itu membuka matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Neozard
Ficção GeralKehidupan para mahasiswa yang tinggal di asrama Neozard dengan segala macam cerita dibalik kesempurnaan yang tercipta di depan mata. "Everyone has their own war; the painful one, the struggling one, the damaged one, the regretful one and the incurab...
