"kadang menungso iku lali ngomong
Suwun neng wong, seng mari nolongi
Awakdewe"
Arzan attasyah larick
★
★
★
Rumah singgah, bagi orang-orang, rumah singgah adalah keluarga saja, namun tidak untuk Renzo Aldebaran dan juga yera, rumah singgah mereka adalah keluarga dan pertemanan.
Keluarga mereka bersahabat sama seperti mereka, itu membuat pertemanan mereka mejadi erat tanpa ada yang membeda-bedakan.
Kalian kira pertemanan orang tua hanya sebatas rekan bisnis namun tidak untuk keluarga, Pangestu, aelan, allarick, Pratama dan Aldebaran.
Pertemanan mereka yang kuat menjadi contoh bagi anak anak mereka yang kini juga berteman baik, hingga saat ini.
"Al, jujur yah, loh kadang kesel enggak sama gw" tanya yera yang asik menyusun Uno balok.
Mereka berdua Kini berada di rumah Renzo karna ayah yera menitipkan kepadanya, kebetulan ia juga sedang bermain dengan Aldebaran.
"Kadang sih, tapi loh itu anak nya pengertian jadi enggak jadi kesel" ucap nya dengan senyum manis di akhir perkataannya.
Yera tersenyum mendengar itu, ia segera meletakan balok terakhir, "ren, ikut enggak" tanyanya yang melihat Renzo asik dengan laptopnya.
"Enggak kalian Aja, aku mau nyelediki sesuatu" ucapan Renzo di angguki oleh mereka berdua.
"Eh ren" panggil Aldebaran dengan menatap renzo dalam, sedangkan yang di tatap hanya menaikan sebelah alisnya.
"Loh ngerasa ada yang penghianat enggak sih dari orang terdekat kita" ucap nya ia mengingat-ingat ucapan Vera dan yera beberapa hari yang lalu.
"Gw juga ngerasa gitu" ucap nya tak nyaman, memang benar ia bertemu dengan teman-teman Vera dan Abang nya yang baru merasa sedikit janggal, namun ia tepis begitu saja.
"Setiap manusia, pasti memiliki pisau yang dapat ia tancapkan di mana saja, kalau kita tidak berhati-hati bisa saja kita yang menjadi sasaran-nya" ucap yera dengan lugas Tampa sadar, Renzo dan Aldebaran melirik yera yang tengah mencekik Aldebaran.
"Tapi ingat! Kita juga memiliki pisau, kalau kita tidak bisa merawatnya, kita akan mati bodo di tangan mereka, kita harus mengasahnya agar lebih tajam dan bisa melawan mereka yang lebih licik dari pada siapapun" Ucap yera melepaskan cekikan nya.
"Poin utamanya, percayalah kepada diri mu sendiri!" Yera kembali ketempat nya dan melanjutkan permainan nya begitu juga dengan Aldebaran.
Renzo melanjut kan aktivitas nya dengan jemari-jemarinya mengulir layar laptop, banyak informasi dari sana,
"Airin davira?" Gumam Renzo yang lolos dari mulutnya.
Yera yang mendengar nama itu hanya tersenyum miring, miris sekali nasip anak itu pikirnya, Renzo merasa ada seseorang yang memperhatikan nya dan betul yera menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Kenapa hm" yera yang memikirkan sesuatu menjadi salah tingkah, mana ia sadari tadi menatap Renzo dengan intens.
"E-nggak, gak papa" ucap nya lalu kembali fokus ke permainan, sontak membuat renzo terkekeh gemas akan tingkah yera yang sedang salting.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love in silence [End]
Teen Fiction"bege banget sihh lohh Suka kok sendiri" hai gua Rivera zayyana Pangestu gw anak ke 3 dari empat bersaudara gw suka sama seseorang yaitu temen sekelas gw namanya ------ nono kalau kepo baca gaes jangan baca deskripsi nya doang kisah ini berapa di...
![Love in silence [End]](https://img.wattpad.com/cover/359985198-64-k440521.jpg)