Hard To Soft menceritakan tentang kedua pasangan yang mempunyai ego tinggi dan keras kepala yang sama.
Mereka anak pertama dan anak bungsu.
Anak pertama yang tegas dan bijaksana itu harus berjodoh dengan anak bungsu yang semua inginnya harus di tur...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku malu Jeno ah!" Ujar Nana sembari menolak turun dari mobil ketika mereka tiba di kediaman orang tua Jeno.
"Gapapa.. kamu kok ngeselin ya Na, tadi katanya mau ikut, pas udah ikut malah gak mau masuk ke rumah" ujar Jeno kesal.
"Kamu maksa" sahut Nana yang membuat Jeno mendelik.
"Terserah deh mau turun ayo, kalau gak mau ya udah, tunggu aja di mobil sampai pulang nanti" balas Jeno yang setelah itu hendak meninggalkan Nana.
Namun Nana menahan celana jeans Jeno yang membuat Jeno mengurungkan niatnya.
"Iya aku masuk, tapi nanti jangan jauh-jauh ya, aku gak mau sendirian" ujar Nana.
"Iya" balas Jeno seadanya.
Setelah itu Nana pun turun dari dalam mobil dan memegang baju Jeno agar Jeno tidak meninggalkannya.
Jeno yang menyadari baju nya di tarik itu pun menoleh.
"Kayak anak takut kehilangan Bapaknya kalau gitu!" Ujar Jeno yang membuat Nana menghentakkan kakinya kesal.
"Gimana dong?! Salah mulu, tapi gak pernah kamu bilangin! Kamu marah terus! Hiks gak mau ah.." lirih Nana yang akhirnya menangis juga setelah dari tadi menahannya.
Jeno melotot.
"Eh kenapa nangis? Aku salah ya, maaf maaf" ujar Jeno panik sembari menangkup wajah Nana.
"Iya hiks kamu bentak aku terus, aku kan gak tau, jangan di marah... Jangan di bentak.. tapi di bilangin.." lirih Nana sesegukan.
Jeno membawa Nana untuk ia peluk.
"Aku salah, aku salah, aku minta maaf" balas Jeno sembari menenangkan Nana.
Nana mengangguk pelan di pelukan Jeno.
"Kak Jeno jangan pelukan di luar, malu di liatin orang nanti" ujar seseorang yang membuat Nana semakin menenggelamkan wajahnya di dada Jeno.
Sedangkan Jeno menoleh dan mendapati adiknya yang berumur 15 tahun itu berdiri di teras rumahnya.
Jeno terkekeh dan mengangguk.
"Iya Kakak masuk, bentar ya" balas Jeno.
Adiknya yang bernama Juan itu mengangguk dan setelah itu kembali masuk ke dalam rumah.
Jeno kini menguraikan pelukannya dengan Nana.
Menghapus air mata Nana dengan ibu jarinya.
"Sekarang kita masuk ke dalam ya, jangan nangis lagi, aku minta maaf" ujar Jeno lembut.
"Maaf terus.. nanti gitu lagi" balas Nana.
Jeno terkekeh dan setelah itu menggandeng tangan Nana untuk masuk ke dalam rumah.
Jeno memang tidak bisa memastikan kalau dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, karna Nana juga terus menguji kesabarannya yang setipis tisu di bagi dua itu.