Nayara tidak berhenti mengeluarkan air mata saat melihat ibunya tak berdaya. Wanita itu sudah menceritakan apa yang terjadi pada ibunya. Ibunya tidak berhenti meminta maaf setelah Nayara mengakhiri ceritanya. Namun, wanita itu meyakinkan ibunya jika dia baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja.
"Yang terpenting adalah kesembuhan Ibu," kata Nayara.
Nyonya Jiwoo tersenyum getir. Dihapusnya air mata yang membasahi pipi putri semata wayahnya. Bagaimana bisa dia tidak khawatir? Putrinya dibawa entah kemana dan dia tidak bisa menghalangi mantan suaminya, kemudian saat kembali dia mendapatkan kisah pilu yang dialami anaknya itu.
"Sayang, Ibu benar-benar minta maaf. Jika Ibu tau semua ini akan terjadi padamu, Ibu tidak akan pernah menikah lagi dulu."
"Ibu, tolong berhentilah. Ayah adalah orang yang baik. Mungkin belakangan ini dia sedikit salah jalan. Tapi Ini tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja. Pria itu bilang akan menikahiku, Bu. Aku tidak perlu repot-repot mencari jodoh, kan?" kata Nayara diakhiri kekehan pelan, mencoba menghibur ibunya.
"Apakah kau yakin akan menikahi pria itu? Bagaimana jika dia menyakitimu?"
"Ibu, aku adalah anak ibu yang kuat dan pemberani. Lihat, meskipun aku baru mengalami hal besar, aku masih baik-baik saja. Aku di sini dengan Ibu. Sekarang Ibu tolong jangan banyak bicara dan istirahat saja, ya?"
Dengan senyum, Nayara menaikkan selimut ibunya, mengusap punggung tangan wanita yang melahirkannya dengan lembut.
"Istirahat saja, Bu. Aku janji akan di sini menemani Ibu."
Lama Nayara diam sambil menggenggam tangan ibunya, hingga akhirnya sang ibu benar-benar terlelap. Melihat wajah sang ibu yang pucat membuat hati Nayara sakit. Di saat seperti ini begitu banyak cobaan yang mereka harus lewati.
"Maafkan aku, Ibu," lirih Nayara. Wanita itu kembali tersenyum getir. Mengingat kembali memori beberapa hari lalu membuat tubuhnya kembali gemetar. Bagaimana Jon memaksanya, luka sayatan yang masih terasa pedih di perutnya, juga ajakan pria itu yang sedikit memaksa.
Pintu ruang rawat diketuk pelan. Nayara berbalik dan menatap siapa yang datang.
"Bibi Aya." Nayara menyapa. Dia menghapus air mata di kedua pipinya sambil mengembangkan senyum.
"Bagaimana ibumu Nona?" tanya Bibi Aya.
"Entahlah, Bi. Aku rasa firasatku benar. Kondisi Ibu kurang baik. Meskipun dia bisa bicara, tapi... Ceritaku mungkin membebaninya."
Nayara menunduk, membiarkan air matanya jatuh lagi. "Bodohnya aku, kenapa aku menceritakan semua pada Ibu?"
"Nona itu bukan salahmu. Aku sudah bicara dengan dokter dan mereka bilang akan melakukan yang terbaik. Semua pengobatan ibumu akan dicover oleh Tuan Jon."
Mendengar nama itu, Nayara langsung mengangkat kepalanya. "Tuan Jon?"
Bibi Aya mengangguk. "Tenang saja, jangan khawatir. Ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik."
Nayara diam, bingung harus menanggapi seperti apa. Jon tidak mungkin sebaik ini jika tidak memiliki kemauan kan?
***
Matahari semakin condong ke barat. Nyonya Jiwoo terbangun dari tidurnya dan mendapati Nayara terlelap dengan posisi yang terlihat tidak nyaman. Duduk dan meletakkan kepalanya pada lipatan tangan di atas ranjang.
"Nayara," panggil Nyonya Jiwoo dengan lembut sambil memegang pundak Nayara.
Nayara terkesiap dan langsung bangun. Menatap ibunya dengan wajah bantal.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wolf Bride [END]
Fanfiction[18+] Nayeon and Jungkook as main characters visual Nayara dijual ayah tirinya sendiri. Ini adalah awal yang membuatnya bertemu Jonathan, seorang pebisnis yang namanya niak daun karena masuk majalah Forbes belakangan ini. Rupanya tampan, matanya taj...
![The Wolf Bride [END]](https://img.wattpad.com/cover/369098655-64-k1137.jpg)