41. Jealousy

228 20 6
                                        

Jangan lupa vote dan tolong berikan komentar agar author lebih semangat menyelesaikan ceritanya.

Cerita ini adalah fiksi dan bijaklah dalam memilih bacaan.

Be Wise, Young Adult Story [18+]

Bisa jadi mengandung adegan yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan.

***

Seorang pria nampak tersenyum sinis sambil melihat gambar-gambar yang diambil oleh orang suruhannya. Meski tersenyum, tangannya terkepal cukup kuat hingga buku-buku tangannya terlihat. Dia terkekeh pelan. Dilihatnya gambar itu lagi, satu per satu. Kebahagiaan tercetak di wajah dua orang dalam gambar itu membuat yang menatapnya terbakar api cemburu.

"Bagaimana bisa Jon? Aku sudah merebut segalanya tapi kau masih bisa berbahagia?"

Pria itu bangkit, berjalan menuju sebuah lilin di sudut ruangannya yang remang. Pria bernama Kenzie itu mengarahkan foto yang didapatkannya ke api kecil, membuatnya perlahan terbakar.

Ken tersenyum sinis menatap foto di tangannya yang terbakar, melepaskannya saat foto itu nyaris habis, membiarkannya jatuh ke lantai dan menjadi abu. Ditatapnya lantai dimana foto itu jatuh. Senyumnya pudar, tatapannya datar.

"Harusnya kau hancur Jon."

***

Dalam sebuah gua batu besar, seorang pria dipasung. Lusuh dan tak terawat menjadi hal pertama yang dua pasang mata lihat. Satu terkejut, satu lainnya tersenyum bahagia.

"Majia, aku menemukanmu."

Merasa terpanggil, pria itu mendongak. Dia mendapat sepasang manusia yang berdiri di hadapannya. Dia tersenyum kecil melihatnya.

"Majia"

Pria bertubuh tegap dengan bekas luka di pipinya itu mendekat, berlutut di hadapan Majia.

"Majia. Kau bisa membantuku?"

Tatapan datar diberikan Majia. Lagi-lagi dia tersenyum kecil.

"Pertama-tama, bebaskan aku dari segel sialan ini."

"A-Ayah. Apa kau yakin?" suara lirih dari belakang membuat semua menatap seorang wanita yang berdiri di belakang, terlihat ketakutan.

"Dia adalah orang yang bisa membantuku. Dia akan mempercepat terwujudnya impianku," ucap pria yang sedang berlutut.

"Berikan bukunya."

Sang wanita mendekat, memberikan sebuah buku tebal berwarna merah. Salah satu lembarnya telah ditandai. Tak ingin mengulur waktu, pria itu lalu membukanya dan membaca sebuah mantra. Dari besi-besi yang menjerat Majia, muncul cahaya berwarna putih yang menerangi seisi gua. Hanya beberapa saat sebelum cahaya itu lenyap.

Majia tersenyum, lalu menghancurkan rantai-rantai yang memasungnya selama belasan tahun dengan sekali tarikan. Dia berdiri tegak, tertawa puas, begitu juga dengan pria yang membebaskannya.

"Sekarang kau harus membantuku, Majia."

"Aku? Membantumu? Hahahaha siapa kau berani memerintahku bajingan?!"

"Aku sudah membebaskanmu. Jika tidak, semakin lama kau akan semakin membusuk di gua ini, Majia sialan. Kau harus membalas budiku."

Pria itu mencoba meraih leher Majia, berniat mencekiknya tapi Majia langsung mengeluarkan sihirnya hingga pria itu terpental cukup jauh.

The Wolf Bride [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang