54. Akhir Keserakahan

185 19 0
                                        

All characters and story belong to author Cactusnrj.

Kindly leave your vote and comment.

‼️Be wise, young adult (18+) story‼️

©2024

***

Derap cepat seekor serigala memecah malam yang panjang. Tidak gentar, tidak takut. Dia memiliki keberanian penuh dan keyakinan akan keberhasilan. Keraguan yang beberapa hari sebelum malam ini datang menyelimutinya telah hilang sepenuhnya. Demi dirinya sendiri, demi keluarganya, demi pack dan klannya, demi semua bangsa di Eireen. Dia tidak ingin menjadi pahlawan, dia hanya ingin memperjuangkan apa yang perlu diperjuangkan.

Jonathan, serigala berbulu abu yang kini tak lagi berwarna aslinya; bulu halus itu telah diselimuti merah darah yang tak terlalu nampak di malam hari. Tidak hanya darahnya, tetapi darah saudara tirinya. Kakaknya, pria yang sejak dulu sebenarnya sangat dia sayangi. Bahkan hingga detik dimana dia menghabisinya, Jonathan tetap menyayangi Kenzie. Namun, dia tidak bisa membiarkan Kenzie hidup lebih lama. Tidak jika pria itu menyimpan kemarahan dan dendam yang besar padanya.

Jon berhenti, dia melolong. Lolongan itu disambut lolongan lainnya, kelima serigala di depannya. Verzha dan kawanannya.

Jon melihat asap hitam yang terbentang di depannya. Dia bersiap masuk ke sana karena dia yakin, di sanalah istri dan anaknya.

"Tuan, sangat sulit melewatinya," ucap Verzha sebelum Jon memulai langkahnya. Namun, Jon tak peduli, dia maju dan mencoba masuk. Gagal, lalu mencobanya lagi, begitu seterusnya.

"Entah apa yang terjadi di dalam," ucap Verzha.

Jon yang terengah, mencoba mengatur nafasnya itu menatap tajam ke arah Verzha dan kawanannya.

"Nayara dan Leon ada di dalam, maka aku akan masuk ke sana apapun caranya."

Lalu, Jon memasang ancang-ancang, dia melompat lagi, lagi, dan lagi. Diikuti serigala lainnya tentu yang masih berusaha masuk. Mereka malu. Jon sudah bersimbah darah tetapi tetap berjuang. Mereka tidak bisa diam.

***

Di tempat lain, Clara menatap tajam seorang wanita yang terlihat duduk dengan tenang.

"Untuk apa kita repot-repot datang dan menyelamatkan dua manusia."

Ucapan wanita itu terngiang di telinganya. Seketika Clara mengeluarkan cakarnya, hendak mencakar vampir kurang ajar yang berani bicara sembarangan tentang majikannya. Beruntung, yang lain sigap menghentikannya.

Bola kaca di tegah masih dimainkan, berputar dan menayangkan kondisi hutan yang gelap.

"Sepertinya belum ada kemajuan." Seseorang memecah keheningan.

Clara menatap Nyonya Rosetta yang nampak gelisah dalam duduknya. Di sampingnya ada Bibi Ayasa, megusap punggungnya dan mencoba menangkannya.

"Aku sudah melihat hal baik, jadi tenanglah. Kita harus menunggu," ucap Bibi Aya.

"Aku tidak meragukanmu, tapi aku tidak bisa tenang. Tidak ada hal baik yang terjadi begitu saja Ayasa," balas Nyonya Rosetta.

"Apakah tidak ada yang bisa membantu lagi?" Clara akhirnya buka suara. "Aku sangat menyesal karena telah gagal menjaga Nyonya Nayara. Jika hal buruk terjadi padanya, aku tidak akan pernah bisa berhenti menyalahkan diriku sediri."

"Semua yang mampu telah pergi. Jangan terlalu khawatir pada wanita dan anaknya itu. Eireen kacau karena mereka."

"Cukup!" ucapan seorang wanita dihentikan oleh bentakan. "Ruel, berhenti berbicara seperti itu. Setiap nyawa baik itu manusia atau makhluk lainnya sangat berharga. Jangan menyepelelkan nyawa seseorang."

The Wolf Bride [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang