10. Senja Di Taman Bunga

323 46 2
                                        

Amarah tersirat di mata tajam seorang Jonathan. Beberapa kali pria itu menghisap cerutu yang diapit kedua jarinya, juga menegak segelas wine yang terus dia goyangkan dengan tangannya. Jon masih tidak menyangka jika ada manusia yang berani padanya secara terang-terangan seberani Nayara.

Jon tersenyum miring. Meski marah, tapi mengingat wanita itu membuat Jon kagum. Nayara memang berbeda.

"Menarik sekali," gumam Jon tanpa sadar.

Telinga serigala Jon mendengar suara pintu apartemennya dibuka. Dari aromanya, hidung serigala Jon langsung bisa mengenali siapa yang datang.

"Jon, kau di mana?"

Derap langkah cepat terdengar semakin dekat. Tak lama, seorang wanita dengan setelah kemeja dan rok span selutut masuk dengan tergesa.

"Jon. Kau di sini ternyata," katanya. Wanita itu meletakkan tasnya di sebuah meja, menghampiri Jon yang duduk santai di single sofa.

"Kau sudah pulang? Semua pekerjaan sudah selesai?" Itulah pertanyaan pertama yang Jon udarakan.

"Sudah. Kau tenang saja. Aku adalah wanita yang sangat bisa diandalkan," katanya.

Wanita itu duduk di pangkuan Jon, memeluk leher Jon kemudian memberikan satu kecupan di bibirnya.

"Kau ambil cuti kemarin, aku jadi kesepian. Aku merindukanmu, Jon," katanya dengan manja.

Jon meletakkan gelas di tangannya, mematikan gulungan nikotin yang sejak tadi diapitnya.

"Kenapa? Kau butuh sesuatu?" tanya Jon.

"Sepertinya kau sangat tau aku," kata wanita itu dengan cengiran.

"Kang Yuli, setahun sudah kau jadi jala*gku. Aku belum menemukan hal lain di kepalamu selain bersenang-senang."

Yuli berdecak kesal. "Padahal aku memikirkan banyak hal. Kenapa pikiranmu sangat buruk terhadapku?" kata Yuli sambil memajukan bibirnya karena kesal.

"Katakan kau butuh berapa. Aku sedang tidak ingin berurusan dengan apapun yang merepotkan hari ini," kata Jon.

"Sungguh?" Yuli menatap Jon antusias.

Jon bergumam untuk menjawab pertanyaan Yuli.

"Umh..." Yuli bergumam, menunduk sedikit sambil memainkan telunjuknya di dada bidang Jonathan.

"Jon, sebenarnya... Aku ingin pindah ke apartemen yang lebih luas. Aku butuh uang untuk bayar uang di muka," cicit Yuli.

"Berapa? Katakan," ucap Jon tidak sabar.

"Umh... 20.000 dollar," kata Yuli.

"Apa?" kaget Jonathan. "Apartemen macam apa yang ingin kau sewa Kang Yuli? Aku sudah membelikanmu apartemen, apakah kau tidak puas?"

"Jon, dengar dulu," kata Yuli. "Aku ingin menyewa apartemen di gedung ini. Di bawah. Aku ingin tinggal satu gedung denganmu," kata Yuli.

"Bukankah itu akan mempermudah kita? Kau bisa datang kapan saja dan bermalam denganku. Aku bahkan bisa dengan mudah datang untukmu. Bukankah begitu?"

Jonathan merotasi bola matanya. Pria itu mendorong Yuli hingga terpaksa bangkit dari pangkuannya. Jon ikut berdiri meninggalkan ruangan tempat biasa dia menghabiskan waktu untuk bersantai itu.

"Jon!" kesal Yuli. Wanita itu mengikuti langkah Jon, meraih lengan Jon dan memeluknya.

"Jon, itu tidak besar untukmu, kan?" kata Yuli.

Jon menghempaskan tangan Yuli, menatap kesal ke arahnya. "Ingat batasanmu, Yuli," tegas Jon.

"Kau hanya jal*ng. Kau tidak punya hak meminta uangku sebesar itu. Aku memberimu pekerjaan, bahkan selalu memberikanmu uang setiap selesai berhubungan. Jika kau tidak boros dan hidup mewah, mungkin kau bisa membeli apartemen yang lebih mewah. Jangan melunjak. Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu sekarang."

The Wolf Bride [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang