Jonathan adalah Beta yang istimewa. Diantara semua Beta yang menjadi lengan gurita Tuan Hans, Jonathan adalah yang paling disayang.
Sejak kecil Jonathan berada dalam asuhan Nyonya Rosetta dan suaminya. Nyonya Rosetta yang cerdas mengajarkan pengetahuan dan strategi pada Jon, sementara Tuan Hans mengajarkan ketangguhan dan keahlian dalam persenjataan. Jon pun tumbuh menjadi sosok Beta yang paling disegani dan disayangi secara bersamaan.
"Jon, makanlah ini. Ini bagian domba yang paling kau suka."
Nyonya Rosetta meletakkan satu lagi potongan daging domba yang hanya dipanggang beberapa menit saja. Masih mentah, tapi beraroma mentega. Jon menyukainya.
"Cutton Candy, bahkan daging di piring Jon belum habis," kata Tuan Hans pada istrinya.
"Dia akan menghabiskan itu, Sayang. Iya, kan Jon?"
Jonathan tersenyum kecil. Tak menjawab, tapi melanjutkan makannya setelah menatap Nyonyanya Rosetta dengan senyumnya.
"Verzha mau juga?" tawar Nyonya Rosetta pada Verzha.
"Eh? Tidak Nyonya. Ini sudah lebih dari cukup. Aku sangat senang dan merasa terhormat bisa makan satu meja dengan kalian semua," kata Verzha.
"Ver, tidak masalah. Nikmatilah," kata Tuan Hans.
Saat sedang menikmati hidangan, ponsel Verzha berdering. Nama Bibi Aya tertera di sana.
"Maaf, aku harus mengangkat telepon dari Bibi Aya."
Mendengar nama itu, Jon mengalihkan pandangannya. Ditatapnya Verzha yang melipir dari ruang makan. Perasaan Jon menjadi gelisah. Jika Bibi Aya menelepon, kemungkinan ada masalah di rumah. Mungkin ini berhubungan dengan Nayara.
Tak berselang lama, Verzha kembali dan menghampiri Jon yang memang sudah menunggu sejak tadi, bahkan menghentikan sarapannya.
"Tuan, Nona Nayara ingin bicara."
Ucapan Verzha membuat Tuan Hans maupun Nyonya Rosetta ikut menghentikan sarapannya. Mereka menatap Jon yang langsung bangkit setelah menerima ponsel Verzha.
"Aku izin sebentar," kata Jon.
Jon berlalu menuju pintu yang ada di ruang tengah, menuju bagian bumi lain yang jarang dijamah manusia; alam immortal.
Jon menempelkan benda pipih itu ke telinganya. "Ya?" tanya Jon.
"Tuan Jon, i-ini aku Nayara," ucap wanita di seberang sana dengan nada gugup dan terbata.
"Ada apa? Cepat katakan," kata Jon dengan tidak sabar.
"Aku ingin meminta izinmu untuk pulang," kata Nayara. Jon seketika terdiam.
"Apa maksudmu? Tidak, kau tidak boleh pergi dari rumahku," ucap Jon dengan tegas.
"Tolong dengarkan aku dulu. Ku mohon," kata Naya memohon.
"Aku ingin bertemu ibuku. Dia sedang sakit keras sekarang. Dia membutuhkan aku. Ayahku tidak lagi di sampingnya. Aku ingin memastikan ibuku baik-baik saja. Dia satu-satunya keluargaku yang aku punya. Aku sangat merindukan ibuku. Ku mohon Tuan Jon, ku mohon."
Jonathan kali ini termangu. Dari nada bicaranya yang terdengar parau dan lirih, Nayara sepertinya sangat sedih. Mungkin dia sudah menangis di seberang sana.
"Jika kau punya keluarga, kau pasti tau rasanya. Ibuku pasti sangat mengkhawatirkan aku. Ku mohon. Aku berjanji akan menikah denganmu, asal kau mengizinkan aku menemui ibuku dan merawatnya. Aku tidak peduli kau akan menyiksaku seumur hidupmu atau kau akan menjadikan aku jal*ngmu sepanjang hidupku, aku akan pasrah akan takdirku. Aku sudah terlanjur kau nodai, kan? Harus bagaimana lagi aku melanjutkan hidupku? Aku hanya punya ibuku. Tuan, aku mohon."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wolf Bride [END]
Fanfiction[18+] Nayeon and Jungkook as main characters visual Nayara dijual ayah tirinya sendiri. Ini adalah awal yang membuatnya bertemu Jonathan, seorang pebisnis yang namanya niak daun karena masuk majalah Forbes belakangan ini. Rupanya tampan, matanya taj...
![The Wolf Bride [END]](https://img.wattpad.com/cover/369098655-64-k1137.jpg)