23. Kehidupan Pertama

274 43 12
                                        

Jangan lupa vote dan tolong berikan komentar agar author lebih semangat menyelesaikan ceritanya.

Cerita ini adalah fiksi dan bijaklah dalam memilih bacaan.

Young Adult/ Adult Story

°°°°°°

Dua hari Nayara demam, dua hari juga Jonathan tidak pulang ke rumahnya. Jon pergi bekerja dan memilih pulang ke penthousenya. Bukan apa-apa, tapi pekerjaan Jon cukup banyak. Dia juga memiliki beberapa pertemuan penting sebelum akhir pekan ini.

"Tuan. Ini yang terakhir di minggu ini." Verzha meletakkan sebuah map. Dia baru selesai memeriksanya.

"Ah, Tuan. Aku lelah sekali," keluh Verzha sambil merenggangkan otot-ototnya.

"Aku menggajimu untuk bekerja, Ver. Bukan mengeluh," kata Jonathan tanpa mengalihkan pandangan dari dokumennya.

Verzha menghela nafas kesal. Jika saja. Jika saja Jon bukan majikannya. Verzha sudah pastikan kepala Jonathan terpisah dari tubuhnya. Serius, seperti yang sering Jon lakukan pada korbannya; memisahkan tubuh dan kepala mereka.

Verzha kembali ke ruangannya yang tepat berada di sebelah ruangan Jonathan. Ditatapnya meja kosong di depannya; meja milik Yuli yang kosong seminggu ini. Verzha cukup puas karena wanita ular itu sudah mati. Jon akhirnya lepas dari jerat wanita ini. Bukan apa-apa, tapi Verzha sudah tidak menyukai wanita ini sejak pertama kali melihatnya. Hanya... tidak suka saja. Begitulah.

Meskipun sejak Yuli tiada semua pekerjaan dialihkan padanya dan membuat Verzha harus bekerja lebih ekstra, tapi tak papa. Setidaknya wanita itu sudah enyah dari muka bumi ini.

Verzha mendengar suara alarm dari ruangan Jon. Senyum Verzha semakin lebar. Waktunya pulang. Akhirnya dia bisa beristirahat sejenak di akhir pekan.

"Ayo Ver. Kita pulang," kata Jon yang baru saja keluar dari ruangannya.

"Iya, Tuan. Tuan ingin ke penthouse atau rumah?" tanya Verzha sambil menekankan pada kata 'rumah'. Ya, ada perbedaan diantara keduanya tentu saja.

"Rumah. Aku ingin memeriksa keadaan Nayara secara langsung," jawab Jonathan.

Verzha mengikuti langkah Jonathan. Pria itu terlihat gagah dari belakang. Terlihat tampan juga. Verzha diam-diam mengaguminya. Jangan salah sangka, Verzha kagum seperti kekaguman pada idola.

Sejak kecil, Jonathan memang memiliki tempat tersendiri dalam hatinya. Sekali lagi, tolong jangan salah paham. Jonathan sudah seperti kakak baginya. Orang pertama selain orang tua Verzha yang menggendongnya adalah Jonathan; begitu kata Jonathan. Dia selalu menyombongkan itu. Katanya saat Verzha kecil dia sangat merah dan menggemaskan. Ya, Verzha ingat sekali Jon mengatakan itu saat Ver berusia lima tahun. Sejak saat itu Verzha semakin jatuh hati padanya.

"Tuan, tidak ingin memberi sesuatu untuk Nyonya Nayara?" Verzha bertanya sembari memperhatikan jalan raya, mengemudi menuju rumah Jonathan tentunya.

Jon menaikkan satu alisnya. "Maksudnya?"

"Hadiah. Wanita suka hadiah. Coklat atau bunga misalnya."

"Ini bukan valentine Ver. Jangan mengada-ada."

"Tuan. Tidak perlu menunggu valentine untuk memberi hadiah pada orang yang kau cinta. Tidak perlu menunggu hari tertentu jika semua hari bisa menjadi hari spesial. Benar, kan?" kata Verzha dengan antusias.

"Memangnya dia mau menerimanya?"

"Tuan, c'mon! Semua wanita suka bunga."

"Aku sudah punya tamannya. Kenapa harus repot-repot beli? Dia istriku, artinya taman itu juga miliknya. Dia ingin bunga? Ku berikan tamannya. Simple dan selesai"

The Wolf Bride [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang