Serigala bersurai perak itu berhenti ketika merasa tak ada lagi yang mengejarnya. Dia memang sudah cukup jauh berlari. Serigala besar itu mendekat ke sebuah sungai, menegak air karena kehausan. Sesekali melihat ke belakang dan tetap waspada.
Air di hadapannya tiba-tiba bergerak tak wajar, membentuk sebuah pusaran air yang terus membesar. Serigala itu mundur, semakin waspada. Ini adalah Eireen maka hal-hal semacam ini sangat wajar terjadi. Mungkin sihir, mungkin juga perbuatan para mermaid atau siren yang hanya ingin bermain-main.
Pusaran air semakin lebar, airnya meinggi. Serigala itu tidak takut, tetapi dia tetap waspada dengan memasang ancang-ancang. Menggeram sambil menunjukkan deretan gigi putihnya yang tajam. Meski sedikit gentar, tetapi rasa penasarannya lebih besar.
Air yang naik itu membentuk sosok, seorang pria yang sangat familiar baginya.
"Kenzie," ucapnya.
"Majia?" Pupil mata serigala itu melebar. Nampak sedikit terkejut. Dia mundur selangkah. Tetap waspada sambil memastikan bahwa air itu menyerupai atau bahkan air itu adalah sosok yang dia kenali.
Dia tertawa. "Yah, aku tau kau tidak lemah. Meski begitu, kau perlu bantuan. Oiya, sama-sama. Ini bukan hal besar untuk dilakukan. Simpan terima kasihmu untuk nanti," ucap sosok itu.
Serigala itu kembali memamerkan deretan gigi taringnya. Dia meggeram, seolah mengancam sosok di hadapannya. Seujurnya, Ken kesal dengan ucapan Majia. Terima kasih? Cih!
Majia tertawa sebentar sebelum mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya.
"Ayo ikut denganku."
Air itu berputar lagi membuat gambaran sosok di atas permukaannya menghilang. Namun, berganti dengan sebuah gelombang yang menarik sosok serigala itu, membawanya ke tengah sungai. Menelannya begitu saja sebelum akhirnya gelombang itu benar-benar menghilang. Air kembali mengalir dengan tenang.
***
Tatapan semua orang tertuju pada wanita yang tengah menyantap sarapannya dengan tenang. Dia memang tak tersenyum sama sekali, tak juga berucap barang sepatah kata. Sejenak mereka heran degan sikapnya karena seolah tak terjadi apa-apa. Namun, pria yang duduk di ujung meja makan memberikan kode untuk kembali fokus pada makanan masing-masing.
"Aku selesai," ucap wanita dengan dress putih yang baru meletakkan sendok dan garpunya setelah beberapa menit berlalu.
"Mommy, tapi sarapannya belum habis," ucap anak kecil di sampingnya.
Nayara; wanita itu tersenyum lembut. Dia menggeleng. "Tidak papa," katanya pada anak berusia empat tahun itu.
"Bolehkah aku pergi lebih dulu?"
"Nayara, kau tidak menghabiskan sarapanmu lebih dulu? Ingatlah kau sedang hamil."
"Cotton Candy," timpal satu-satunya pria di sana. "Biarkan saja. Kau boleh pergi, Nayara. Pelayan akan membawakan susu dan vitaminmu ke kamar. Istirahatlah."
Nayara mengangguk. Setelah berpamitan, wanita berusia 27 tahun itu bangkit dan beranjak. Begitu keluar dari ruang makan, dia berjalan lebih cepat. Clara yang mendampinginya mengikuti dan mengimbangi langkahnya. Wanita itu langsung memasuki kamar mandi, memuntahkan isi perutnya.
"Nyonya..."
Clara membantu sebisanya, memijat tengkuk Nayara dan membantunya bangkit lagi. Wanita itu kemudian membawa Nayara ke ranjang, membantunya merebahkan diri.
"Nyonya baik-baik saja?" tanya Clara khawatir.
"Kenapa kau memanggilku Nyonya lagi, Clara?" Nayara malah balik bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wolf Bride [END]
Fanfic[18+] Nayeon and Jungkook as main characters visual Nayara dijual ayah tirinya sendiri. Ini adalah awal yang membuatnya bertemu Jonathan, seorang pebisnis yang namanya niak daun karena masuk majalah Forbes belakangan ini. Rupanya tampan, matanya taj...
![The Wolf Bride [END]](https://img.wattpad.com/cover/369098655-64-k1137.jpg)