51. He Knows

210 22 2
                                        

Pria dengan tinggi 70,4 inchi itu hanya bisa diam ketika menerima tamparan keras. Dia tidak merasa bersalah meski telah melakukan hal ceroboh. Dia rasa itu hal yang wajar bagi seorang pria yang merindukan istrinya. Tentu karena pria itu sangat mencintainya. Dia sudah menahannya selama sebulan. Tidak bertemu dan hanya melihat lewat layar. Dia tidak tahan. Itu saja. Dia ingin memeluk dan mencium istrinya seperti dulu.

Sorot mata penuh kerinduan bercampur kekecewaan masih dia ingat. Semalam, saat dia diam-diam menemui Nayara dan berbaring di sampingnya. Dadanya sesak mengingat tiap kata yang diucapkan wanitanya. Nayara melarangnya pergi lagi tetapi keadaan memaksa. Dan saat itu, dia berjanji akan segera kembali.

"Kita sudah setengah jalan, Jon. Meski rencana berubah, tetapi kita sudah berhasil meringkus setidaknya setengah dari orang-orang Morgan dan Ken. Sedikit lagi. Bahkan para peri dan penyihir terus berusaha untuk menemukan portal itu."

Jon menelan saliva. Dia mendongak menatap Tuan Hans yang terlihat sedang menahan emosinya agar tidak meluap.

"Jangan gegabah lagi. Aku tau bagaimana perasaanmu. Tapi pada akhirnya kau juga menyakiti Nayara dengan tiba-tiba muncul di hadapannya. Yang semua orang tau sekarang kau sudah tiada."

Jon memalingkan muka. "Jika aku muncul atau tidak, apakah akan berpengaruh? Rasanya tidak."

Jon tersenyum getir. "Nayara tetap dalam bahaya dan sekarang aku tidak bisa melakukan apapun. Hanya duduk diam dan menunggu mereka keluar dari persembunyian."

"Haya lima hari, Jon. Sekarang kita sudah tau apa yang diinginkan Morgan dan Majia. Meski itu masih kemungkinan, tapi itu adalah kemungkinan yang besar. Kita harus menunggu. Sebentar saja. Sementara itu tetap lakukan tugasmu."

Jon mengangguk kaku. Sorot matanya memancarkan kesedihan yang tidak bisa dibendung. Jon harus menunggu lagi, dengan hasil yang tidak pasti.

***

"Bagaimana keadaan perusahaan Verzha?"

Pertanyaannya itu meluncur dari bibir Jonathan setelah keheningan memeluknya dan Verzha dalam ruangan itu.

"Masih sedikit kacau. Mafia Italia membuat masalah. Kita tau mereka juga memiliki bisnis besar dan kolega yang lebih kuat. Beberapa perusahan akhirnya memikirkan ulang untuk bekerja sama dengan kita. Proyek yang berjalan juga mulai terhambat karena investor dan beberapa masalah lain. Belum lagi para pemegang saham. Setelah kabar kematianmu, Tuan, mereka mulai kurang ajar."

Jon mengangguk paham. "Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku bisa mengendalikan mereka, sedikit. Jadi aku terus berusaha. Maaf, jika mungkin kurang maksimal Tuan."

Jon tersenyum kecil. Dia mengangguk paham. "Baiklah. Setidaknya ada kau yang bisa ku andalkan."

"Lalu bagaimana denganmu, Tuan? Maaf jika lancang. Tapi, aku merasa kau tidak puas sama sekali dengan yang kita lakukan."

Jon tersenyum kecil. "Kita sudah tau bahwa Morgan ingin menguasai bangsa werewolf dan melenyapkan seluruh kaum vampir. Dan oleh karena itu, dia membebaskan Majia agar Majia memberinya kekuatan besar, membangkitkan leluhur yang telah mati. Dan Majia, dia juga ingin berkuasa. Dengan mengorbankan masing-masing sepasang nyawa makhluk di dunia, dia bisa menjadi penyihir terkuat. Dia bisa melanjutkan misinya itu. Suatu hari mereka akan saling membunuh. Dunia akan kacau. Aku hanya khawatir kita gagal. Bahkan hanya untuk menemukan mereka saja, kita tidak bisa Verzha."

"Belum Tuan. Kenapa kau pesimis? Sejak kapan Jonathan Evanescence Williams kehilangan semangat dan cahaya di matanya? Ular sihir sudah diikat ke tubuh Kenzie dan dia tidak sadar. Saat sampai, dia akan melepaskan diri dan berusaha membuka portal itu. Kita bisa menemukannya, pasti."

The Wolf Bride [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang