Wanita berambut pirang itu menatap nanar gambar diri seorang pria yang sejak semalam hanya bisa dia pandangi. Putranya tiada. Begitu mendengar kabar itu tubuhnya lemas. Belum lagi saat suaminya mengatakan bahwa dalam perjalanan mobil yang membawa jasadnya meledak begitu saja. Tubuh Jon tidak tersisa dalam kejadian itu. Hanya beberapa benda dengan DNA nya yang ditemukan. Ibu mana yang tidak hancur hatinya? Meskipun Nyonya Rosetta tidak melahirkan, tapi setengah hidup Jonathan adalah menjadi putranya. Dia bahkan tidak bisa melihat jasadnya.
"Tolong kuatkan dirimu Cotton Candy," kata pria yang duduk di sampingnya sepuluh detik lalu.
"Hans, aku tidak pernah membayangkan bahwa putraku akan pergi lebih dulu dariku," ucapnya lirih.
Tuan Hans merengkuh istrinya. Wanita itu menangis lagi. Meratap untuk kesekian kali.
"Aku tidak mempercayainya, Hans. Dia pasti sangat kecewa padaku. Bahkan dia tidak menemuiku sebelum kepergiannya. Aku merindukannya. Putraku, Hans. Jonathan..."
"Bukan salahmu, Sayang. Kau dalam pengaruh siren. Sekarang pengaruhnya sudah hilang. Tapi tidak pernah ada kata terlambat. Jon sudah tau dan dia pasti memaafkanmu."
Nyonya Rosetta menggeleng. "Tidak, Hans. Harusnya aku lebih berhati-hati. Aku bisa mengetahui masa lalu dan apa yang terkadang orang sedang pikirkan, tapi aku tidak pernah mencari tau apa yang Kenzie dan wanita ikan itu pikirkan. Harusnya aku lebih mawas. Aku tidak tau kenapa bisa begini. Aku sudah kehilangan kedua putraku, Hans."
Tuan Hans memejamkan mata. "Bukan hanya kau yang kehilangan. Aku juga, Rosetta. Kita kehilangan kedua putra kita. Tapi ini bukan akhir dari segalanya."
Tuan Hans menjauhkan tubuhnya, dia menatap istrinya dengan senyum kecil.
"Margaret sedang mengandung anak Kenzie. Bahkan Jonathan sudah memiliki seorang anak laki-laki. Kita bisa menyelamatkan anak Kenzie dari wanita siren itu dan mendidiknya menjadi anak yang baik. Atau mungkin anak Jonathan. Dia bersama Nayara sekarang."
"A-ah, benar. Hans, bagaimana dengan Nayara? Apakah dia sudah tau tentang ini? Mereka memang sedang dalam proses perceraian, tapi aku yakin Nayara dan Jonathan saling mencintai. Nayara pasti... Dia pasti juga hancur saat mendengar kematian Jonathan."
Tuan Hans menggeleng. "Entahlah Rosetta. Aku sedang menyuruh seseorang untuk menjemputnya sembari menunggu guci Jon dibawa ke LA. Kita juga harus bersiap pergi sekarang. Ayo."
"Hans, tapi... Aku rasa aku tidak ikut. Aku tidak bisa melihat anak yang ku besarkan dimakamkan. Bahkan itu hanya sebuah guci kosong, Hans. Hatiku sakit sekali membayangkannya. Hans, aku tidak bisa. Aku tetap di Vatikan. Kau pergilah."
"Sayang, jangan begitu. Kita harus memberikan penghormatan untuknya. Nayara juga membutuhkanmu. Kau tau dia mungkin juga hancur mendengar kabar ini. Kita harus saling menguatkan. Jika bukan sebagai ibu, maka kau adalah istri seorang alpha. Jangan tunjukan kelemahanmu. Aku juga tau kau hancur sekarang. Tapi itu yang harus dilakukan seorang alpha dan pendampingnya. Kau adalah Luna, jadi aku mohon tetaplah terlihat tegar. Jangan seperti ini, hm?"
"Bagaimana jika aku juga tidak bisa menahan diriku, Hans?"
Tuan Hans tersenyum lembut. "Kau bisa. Aku yakin itu."
***
Nayara merasakan keanehan pada dirinya. Beberapa hari belakangan merasa sangat lelah meski hanya melakukan hal kecil bahkan meski hanya berdiri dan menjawab pertanyaan pelanggan. Setiap pagi bahkan dia selalu muntah. Dia pikir, menjadi istri Jonathan membuatnya manja sehingga saat dia bekerja tubuhnya memberikan respon yang berlebihan.
"Nayara, minumlah ini. Mungkin akan membuatmu merasa lebih baik."
Clara menyodorkan segelas air hangat. Nayara menegaknya bebeapa kali, tetapi rasa mual itu kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wolf Bride [END]
Fanfiction[18+] Nayeon and Jungkook as main characters visual Nayara dijual ayah tirinya sendiri. Ini adalah awal yang membuatnya bertemu Jonathan, seorang pebisnis yang namanya niak daun karena masuk majalah Forbes belakangan ini. Rupanya tampan, matanya taj...
![The Wolf Bride [END]](https://img.wattpad.com/cover/369098655-64-k1137.jpg)