57. Epilog

428 24 0
                                        

All characters and story belong to author Cactusnrj.

Kindly leave your vote and comment.

‼️Be wise, young adult (18+) story‼️

©2024

***

Tiada yang tau seperti apa masa depan digariskan.

Kalimat itu terpatri pada pikiran siapapun yang pernah mendengarnya. Tak sedikit orang yang bicara mengenai ketidakpastian takdir, masa depan yang tidak bisa diprediksi.

Dua makhluk Tuhan yang berbeda, yang mana nyaris mustahil bersama atau bahkan bertemu benar-benar menyatu. Melewati beberapa hal besar bersama, hingga akhirnya mampu bersanding bersama dan bahagia.

Yah, tapi lagi-lagi tidak ada yang pasti. Bahkan Jonathan sendiri sering bertanya-tanya, hal apa lagi yang menantinya. Kejadian buruk apa lagi yang akan datang padanya dan keluarganya. Namun, dia meyakinkan dirinya sendiri juga Nayara yang memiliki pemikiran sama. Masa depan memang tidak pasti, maka tidak perlu terlalu dipikirkan. Menikmati hari ini, saat sedang bersama adalah hal yang penting juga. Setiap detik kebersamaan mereka, waktu mereka itu sangat berharga.

Angin laut menerpa wajah kedua makhluk berbeda gender dan jenis itu. Seorang werewolf tengah mendorong ayunan dimana seorang manusia biasa duduk.

Mereka berhadapan dengan hamparan lautan luas yang berwana keemasan, memantulkan cahaya matahari yang perlahan mulai terbenam.

Senyuman indah terpatri di wajah cantik wanita dengan pipi chubby. Pria di belakangnya tau, wanitanya tengah tersenyum memandang hamparan keindahan ciptaan Tuhan yang tersaji. Begitu juga dengan Jonathan. Lebih dari itu, dibanding pemandangan Tuhan yang alam, dia lebih menyukainya ciptaan Tuhan yang lainnya; istrinya.

"Udara semakin dingin. Anginnya kencang," kata Jonathan dengan suara beratnya.

Nayara mengangkat kepalanya sedikit menengok ke belakang.

"Tapi pemandangannya sangat cantik," ucap Nayara, menolak ajaka halus Jonathan untuk pergi dari sana.

"Kalau begitu kita bisa menikmatinya sambil berjalan-jalan di pinggir pantai, dalam perjalanan pulang ke homestay."

Nayara berpikir sejenak sebelum mengangguk.

Mendapatkan persetujuan, Jonathan bergerak ke depan, mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Nayara. Jon menawarkan bantuan pada wanita itu untuk bangun dari ayunannya.

"Hati-hati," ucap Jonathan dengan lembut.

Dia tau istrinya sendiri kesulitan bergerak, bahkan untuk sekedar bangun dari posisi duduk ke berdiri. Perutnya yang membesar sedikit menjadi halangan. Bahkan, terkadang membuat Nayara sesak dan mudah lelah.

Berjalan di sepanjang bibir pantai. Satu tangan Jonathan memeluk posesif pinggang Nayara, sementara satu tangan lainnya menggenggam tangan kanan Nayara.

Jonathan masih tidak menyangka, wanita yang dulu memberikan tatapan kebencian padanya. Yang menyumpahinya, kini menggenggam erat tangannya. Nayara bergantung padanya.

The Wolf Bride [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang