17. Jangan Takut

292 40 4
                                        

"Aaa!" Nayara berteriak ketika melihat sosok pria tinggi yang sudah ada di kamarnya pagi-pagi buta. Nayara baru saja keluar dari kamar mandi dan spontan merapatkan mantel mandinya.

"Apa yang kau lakukan di sini Jonathan?!"

Pria yang dengan santai berbaring di ranjang itu tersenyum nakal. "Selamat pagi, Sayang. Kau seksi sekali," katanya.

Nayara tak bisa menahan kekesalannya. Di sisi lain di was-was karena Jonathan ada di kamarnya. Apalagi dengan keadaannya sekarang.

"Cepat berganti pakaian. Ikut denganku," kata Jonathan sambil bangkit dari tempatnya.

Jon melangkah mendekati Nayara tetapi wanita itu langsung mundur sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Aku tidak akan menyentuhmu, tenang saja. Aku hanya ingin mengajakmu. Cepat ganti pakaianmu. Ku tunggu di taman. Lima menit ya atau aku yang akan menggantikan pakaianmu."

Mata Nayara terbelalak. Jon beranjak dari kamarnya membuat Nayara sedikit lega. Tubuhnya merosot dan bersimpuh di lantai setelah Jon benar-benar menghilang dari kamarnya.

"Ya Tuhan. Aku sangat takut padanya," gumam Nayara.

***

Matahari belum muncul seutuhnya. Baru memberikan semburat jingga. Nayara melangkahkan kaki menyusuri lorong luar yang sepi. Para maid tidak terlihat, padahal biasanya mereka sudah lalu lalang pagi-pagi begini.

Kaki Nayara berhenti tepat di batas lantai dan tanah. Di depannya ada bebatuan yang disusuh sedemikian rupa menjadi jalan. Tak jauh dari sana, tepat di taman baby breath, ada Jon yang berdiri membelakanginya. Karena tak banyak cahaya, Naya hanya bisa melihat siluetnya.

"Mau apa dia?" gumam Nayara tak sadar.

Wanita itu mulai melangkahkan kakinya lagi menyusuri jalan di taman. Mendengar langkah kaki dengan telinga serigalanya, Jon tersenyum kecil. Pria itu berbalik dan menatap Nayara sambil tersenyum.

"Hai," sapa Jonatan.

"Uh? K-kau membuatku takut dengan tersenyum seperti itu," kata Nayara. "Mau apa mengajakku ke sini?"

Nayara menatap bunga di tangan Jonathan. Sepertinya pria itu baru saja mengumpulkan bunga sebelum dia datang.

"Aku tidak tertarik dengan bungamu, Tuan Jon," ketus Nayara.

Jon menaikkan satu alisnya. Dia terkekeh. Sepertinya Naya salah paham dengannya.

"Well, Nay. Aku suka kepercayaan diri mu itu. Tapi aku harus katakan ini dan mungkin akan membuatmu kecewa." Jon melangkah maju agar lebih dekat pada Nayara. "Bunga ini bukan untukmu, Sayang."

Naya sontak menatap Jon dengan tatapan sedikit kesal. Sebenarnya tak masalah bunga itu jika bukan untuknya. Hanya saja, Nayara malu karena sudah menyangka bunga itu untuknya.

"Ayo ikut denganku."

Jon meraih tangan Nayara, menggenggamnya dengan erat dan menariknya.

"Bisakah kau tidak memegangku?" kata Naya.

"Tidak bisa. Takut kau hilang."

"Kau takut aku hilang? Woah, bukankah di luar sana ada banyak wanita yang mengantri dan mau menggantikanku? Ku pikir kau mudah berganti mainan jika sudah bosan."

"Itu dia," kata Jon. "Aku bahkan belum bermain denganmu. Bagaimana bisa aku bosan."

Naya menatap Jon tak percaya. Tidak, tapi bagaimana bisa ada seseorang seperti Jon?

"Hei, bajingan!" Nayara dengan kesadaran penuh dan keberanian yang luar biasa memukul kepala belakang Jon hingga pria itu berhenti melangkah dan menatapnya.

The Wolf Bride [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang