Nayara sesekali menggigit kuku jarinya karena gelisah. Dari kamarnya, dia menatap ke luar melalui jendela dan balkon. Sudah seharian dia berpikir tapi tak meyakini keputusannya.
Jonathan mengajaknya menikah. Sebuah ajakan yang gila. Ajakan yang tidak akan pernah wanita korban peme*osaan setujui. Ya, wanita mana yang ingin hidup bersama pria yang membuatnya takut dan trauma karena memaksakan hasratnya?
Kenapa selau pernikahan yang dijadikan solusi? Nayara belum menemukan jawaban logis dari pertanyaan-pertanyaan sendiri. Pernikahan adalah hal sakral. Sebuah pengikatan janji di depan Tuhan. Bagaimana Naya melakukannya dengan pria yang kasar? Bahkan pria itu mengaku bukan manusia, melainkan manusia setengah serigala.
"Sepertinya aku sudah gila."
Naya membanting dirinya ke ranjang. Beberapa saat kemudian memejamkan mata karena merasakan perih di perutnya.
"Owh, sial! Aku belum makan," keluhnya.
Nayara bangkit, menatap makanan yang terhidang di meja. Naya menelan ludahnya. Mau tak mau dia tetap harus bertahan hidup.
Nayara menelan makanan dingin itu dengan susah payah. Sejak pagi tadi, saat Verzha datang membawa kabar ibunya, Nayara memutuskan untuk bertahan hidup saja. Meskipun berat, tapi untuk saat ini itulah keputusannya.
Sebuah foto tergeletak di meja, Nayara menatap foto itu dengan senyum kecil. Ibunya baik-baik saja. Masih baik-baik saja lebih tepatnya. Verzha bilang ayahnya meninggalkan ibunya. Itu jauh lebih baik daripada ibunya tersiksa.
"Nona Nayara."
Nayara terkejut ketika seseorang memanggilnya. Wanita itu menatap Bibi Aya yang datang. Senyum indah terukir di wajahnya. Mungkin dia senang melihat Naya akhirnya menyentuh makanannya.
"Nona sudah mandi? Biar aku siapkan air hangat untuk Nona."
"Bibi, tidak perlu. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
Bibi Aya menggeleng. "Tidak. Perintah Tuan Jonathan, aku harus melayani Nona. Atau Anda tidak nyaman denganku? Aku bisa meminta maid lain."
"Bibi, ku mohon jangan terlalu berlebih dan kaku. Satu-satunya di sini yang bisa aku ajak bicara dengan nyaman adalah Bibi."
Bibi Aya mengangguk paham. "Baiklah jika memang begitu. Aku akan menyiapkan air mandi untuk Nona."
"Bibi, itu lebih baik," kata Naya sambil tersenyum.
Nayara membiarkan Bibi Aya menyiapkan airnya, seperti tugasnya. Setelah Naya berterima kasih, Naya bersiap mandi. Wanita itu berendam di sebuah bak mandi berwarna emas. Kamar mandi luas dan mewah dengan gaya eropa, tetapi tetap tidak meninggalkan peralatan modern. Kamar mandi ini persis di cerita fiksi yang beberapa kali Naya baca. Dia tidak menyangka bahwa kamar mandi seperti ini memang ada. Luasnya sama seperti luas kamar Nayara sebelumnya. Bahkan sepertinya lebih besar.
Naya menghela nafas berat. Kembali memikirkan tawaran Jon yang jika dipikirkan, cukup menggoda. Tapi bagaimana Naya melayani Jon jika bahkan dia ketakutan saat melihatnya? Kadang sorot mata Jon sangat tajam dan menakutkan. Apalagi saat dia sedang marah.
Nayara memejamkan mata, membiarkan sir hangat itu menenangkanya. Rasa perih di perut akibat sayatan Jon masih terasa, membuat Naya kembali mengingat saat itu saat memejamkan matanya. Begitu juga dengan rasa sakit di bagian vitalnya. Tidak menyangka jika rasa sakitnya akan bertahan lama juga. Entah kapan akan benar-benar reda.
Naya membuka mata saat momen buruk itu kembali. Buru-buru dia keluar dari air dan membalut tubuhnya dengan handuk mandi.
Naya berdiri di depan kaca, menatap dirinya sendiri dengan tatapan iba.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wolf Bride [END]
Fanfiction[18+] Nayeon and Jungkook as main characters visual Nayara dijual ayah tirinya sendiri. Ini adalah awal yang membuatnya bertemu Jonathan, seorang pebisnis yang namanya niak daun karena masuk majalah Forbes belakangan ini. Rupanya tampan, matanya taj...
![The Wolf Bride [END]](https://img.wattpad.com/cover/369098655-64-k1137.jpg)