Gemuruh ombak di pantai terdengar begitu kencang sampai pesisir, lautan lepas memperlihatkan betapa luas dan indah alam nya. Seorang pria paruh baya berusia sekitar 40an terlihat baru saja kembali dari laut dengan menggunakan perahu pribadi nya, ia terlihat seperti nelayan pada umumnya.
Sebatang rokok yang sudah terbakar setengah masih bertengger di jepit bibir nya, pria itu memarkirkan perahu nya saat sudah sampai di pesisir pantai, ia melempar tali tambang untuk mengikatkan pada sebatang tiang kayu yang sudah tertancap disana agar perahu nya tidak ikut terbawa arus ombak.
Beberapa peralatan memancingnya ia lempar ke pasir, tak lupa beberapa kantong ikan yang sudah berhasil ia tangkap, ia juga menjinjing nya lalu turun dari perahu tersebut.
"Hahhh, makin hari makin bosan!".
Kata pertama yang lelaki itu ucapkan.
ia menghirup sekali lagi rokok nya yang sudah semakin mengecil karna terbakar lalu segera membuang nya ke pasir dan menginjak rokok itu sampai benar benar api nya mati.
Tak berselang lama, ia sudah selesai menyimpan ikan ikan tangkapan nya di dalam bak es penyimpanan ikan, ia akan segera menjual ikan ikan itu nanti malam di pasar lelang ikan. Sekarang pria paruh baya itu duduk beristirahat di kursi yang menghadap langsung ke lautan lepas, sambil mengambil satu botol beer dan beberapa daging yang sudah menjadi dendeng kering untuk camilan nya.
Ia menyesap beer itu langsung dari botol nya sambil menikmati suasana hari yang semakin gelap, sunset semakin indah dilihat nya. Ia tersenyum kecil.
"Andai hidup sedamai ini, gue gak perlu susah² buat ngejalanin hidup yang kotor". Ucap nya lalu kembali menatap lautan di depan nya.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mulai mendekatinya, lelaki itu selalu siap siaga dengan beberapa senjata untuk menjaga diri, dari ujung mata nya ia melihat sepasang sepatu boots hitam mulai mendekati nya.
Wooshhh...
Sebelum orang itu makin dekat, ia melempar pisau lipat nya ke arah orang itu dengan gerakan yang begitu cepat dan sangat tidak bisa ditebak.
"WOOWW!!".
Kaget orang itu. Ia berhasil menghindar.
Pisau lipat itu tidak mengenai orang itu namun menancap tepat di batang pohon kelapa yang berada tak jauh disana.
"Keahlian pisau lo masih bagus, kenapa gak jadi pembunuh lagi aja?". Suara orang itu akhirnya terdengar.
"Anggy!, gue kira siapa. Hampir aja gue ngebunuh lo".
"Arga, apa kabar?".
[Yang lupa Arga siapa, Arga ada di chapter 17 A lie]
Dia tak lain dan tak bukan adalah Anggy yang kini sedang mengunjungi Arga teman lama nya, beberapa kejanggalan yang sedang terjadi diantara ia dan Harun tak hanya bisa diselesaikan hanya berdua saja.
Ia bisa meminta bantuan dari Arga juga untuk mengungkap kejanggalan kejanggalan itu.
"Gue baik, lo sama Harun baik baik aja kan?". Ucap Arga setelah memeluk gadis itu sebentar.
Anggy terdiam sejenak, lalu ia menatap Arga menyiratkan sesuatu yang sulit ia ungkapkan.
Arga yang mengerti pun membawa Anggy ke dalam rumah nya.
"Ceritakan pelan pelan, apa yang sedang terjadi sama kalian? Apa ini tentang Tania?".
Ujar Arga saat mereka berdua sudah di dalam rumah.
Anggy menghela napas sebelum mulai bercerita.
"Gue tau dengan kedatangan gue yang tiba tiba kesini, itu akan selalu jadi merepotkan lo, tapi ini bener bener udah diluar kendali gue".
KAMU SEDANG MEMBACA
OUTSIDE LIMITS
AcciónPerjalanan kehidupan tidak selamanya akan berjalan mulus, terkadang kebahagiaan tak pernah terpisahkan dengan kesedihan. Bagaikan hujan dikala malam, tangis wanita itu bergema menggelegar semakin menjadi jadi. Wanita itu bernama Jinan Dwi Angkara, t...
