Chapter 25 : Sebatang Coklat yang Manis

527 65 5
                                        

Jeno menatap kasur Jaemin yang kosong malam ini dengan hati yang terasa pedih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jeno menatap kasur Jaemin yang kosong malam ini dengan hati yang terasa pedih. Ia sangat khawatir. Walaupun Mark sudah mengatakan Jaemin baik-baik saja, tetap saja hatinya tidak tenang. Ketika Jaemin berada di kamar Mark, sejujurnya Jeno sengaja mencuri dengar dari depan pintu Mark yang terbuka sedikit. Fakta tentang ayah Jaemin dan lukanya benar-benar membuatnya menyesal. Perdebatannya dengan Jisung dan pecahnya tanaman kesayangan Jaemin pasti menambah kesulitannya.

Jeno mengusap wajahnya. Dadanya terasa sesak hingga setitik air mata meluncur turun. Ia teringat saat Jaemin mengatakan ia ketakutan pada malam Jeno menemukannya di balkon dorm mereka. Ia juga teringat saat ia mengobati luka Jaemin malam itu, luka yang ternyata berasal dari penyiksaan ayahnya sendiri. Mengapa ia terlambat menceritakannya pada Mark? Mengapa ia justru malah berdebat dengan Jisung karena adiknya? Ia tahu masalah adiknya sangat serius, tetapi ia tidak seharusnya berdebat di depan membernya bukan?

Ketukan pintu membuatnya segera menghapus air matanya dengan cepat. Pintu terbuka, menampakkan sosok Jisung yang mengintip dari celah pintu. Jeno tertegun, mengalihkan pandangan. Sejujurnya ia masih mendiamkan dan mengabaikan Jisung sejak kejadian itu. Padahal jika dipikirkan lagi, apa salah Jisung? Bukan Jisung yang menyakiti Jeyoon. Jisung juga korban disini.

Jisung nekat masuk walaupun Jeno mengabaikannya. Ia duduk di kasur Jaemin, lantas meraih boneka Ryan kesayangan Jaemin dan mendekatkan pada hidungnya. Jisung belum tahu tentang cerita Jaemin yang sebenarnya. Ia hanya tahu Jaemin terluka.

"Jeno hyung," panggil Jisung. Jeno masih diam membuat Jisung menunduk sedih.

"Hyung, aku tidak keberatan jika Mama benar-benar mengabaikanku. Aku sudah terbiasa menerima perilaku tak biasanya sejak dulu," cerita Jisung. Jeno memang tidak memperhatikannya, tetapi Jisung tahu Jeno pasti mendengarkannya.

"Tetapi jika hyung atau member yang melakukannya, aku tidak sanggup, hyung," kata Jisung. Jeno terdiam, tetapi matanya segera teralih pada Jisung. Ia bisa melihat air mata yang telah meluncur turun pada pipi Jisung. Astaga, mengapa banyak sekali air mata hari ini?

"Kalian sudah seperti keluarga untukku. Kalian yang mengajarkanku seperti apa cinta yang sebenarnya. Kalian mengajarkanku ketulusan, kasih sayang, bahkan seperti menggantikan peran Papa dan Mama untukku. Walaupun tentu saja berbeda, tetapi aku menghargai itu," tutur Jisung lagi. Kali ini tatapan mereka saling bertemu.

"Maafkan aku hyung, tolong jangan benci aku," kata Jisung membuat jantung Jeno mencelos. Jisung menunduk, meremat boneka Ryan di tangannya. Jisung tidak masalah jika dibenci karena kesalahannya. Tetapi jika ia harus dibenci karena ibunya, rasanya tidak rela. Apalagi ibunya bahkan tidak pernah peduli padanya.

Saat Mark berbicara dengan mereka setelah pertengkaran kemarin, keduanya menceritakan dari 2 sisi, secara jujur. Mark tahu orang yang seharusnya Jeno benci adalah ibu Jisung. Tetapi Jisung yang membela ibunya membuat Jeno merasa tidak terima dan menganggap itu salah. Jisung mengatakan hal yang berbeda. Ia hanya tak ingin satu-satunya keluarganya yang tersisa sakit atau terluka. Sejahat apapun sang ibu memperlakukannya.

See You Again Next Winter [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang