Chapter 11 : Nyawa Kucing Haechan

421 46 7
                                        

Lift mulai bergerak naik ketika ponsel Jaemin berdenting

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lift mulai bergerak naik ketika ponsel Jaemin berdenting. Ia membukanya dan tersenyum mendapati Hyunjin mengiriminya foto yang tadi mereka ambil di backstage. Benar-benar hari yang membahagiakan. Jaemin bahkan tidak berhenti tersenyum dari tadi, sesuatu yang jarang terjadi.

Sesampainya di lantai asrama mereka, ketujuhnya segera keluar dari lift. Mereka bergerak cepat menuju dorm tanpa bersuara, sudah terlampau lelah dan ingin segera tidur. Begitu pintu dorm mereka terbuka, Haechan segera masuk dan menjatuhkan diri di sofa ruang TV. Bahkan sepatunya ia lemparkan begitu saja di depan pintu masuk. Mark mengalah dengan meletakkan sepatu itu dengan rapi di tempatnya.

Beberapa saat kemudian, mata Haechan tertuju pada kaca balkon yang tembus pandang. Ia memicingkan matanya, mendapati rimbunan daun yang tampak dari dalam. Sejak kapan balkonnya dipenuhi daun serimbun itu? Ia segera bangkit dan melangkah menuju pintu balkon. Ia membukanya dan pemandangan di hadapannya cukup membuat kedua matanya melotot seketika.

"Mark Hyung!" teriaknya speechlees. Semua member di dalam dorm segera menoleh ke arahnya. Melihat Haechan yang hanya diam di depan pintu balkon dengan tatapan nanar, mereka segera mendekatinya. Seperti Haechan, para member sangat terkejut. Hanya Mark yang biasa saja. Pot tumbuhan dalam jumlah banyak sudah tertata rapi di balkon mereka. Mulai dari yang berdaun lebat dan besar, hingga yang kecil-kecil. Tiang jemuran benar-benar tenggelam oleh dedaunan, jauh lebih parah dari saat sebelum Haechan menjual tanamannya.

"Wow, sudah datang semua rupanya," kata Mark tampak senang sembari mendekati tanaman-tanaman yang baru saja ia pesan beberapa hari lalu.

"Hyung, lalu kita menjemur dimana?" tanya Jisung.

"Laundry saja," tutur Mark membuat semua member menatapnya tak percaya. Mark tidak peka. Kalaupun member tidak mencuci sendiri, memangnya handuk basah setelah mandi di-laundry setiap hari? Ia tidak tahu member tampak ingin mendebatnya tetapi takut Mark akan marah. Tanaman adalah hal paling sensitif untuk Mark.

Tetapi bukan Haechan namanya kalau tidak bertingkah seperti kucing dengan sembilan nyawa. Ia mengeluarkan ponsel, lantas mulai mengambil foto tanaman itu satu persatu. Ia bahkan memisahkan beberapa tanaman kecil agar yang terlihat hanya yang hendak ia foto saja.

"Hei, sedang apa kau?" tanya Mark dengan kedua alis yang sudah bertaut. Haechan tidak memperdulikannya dan terus mengambil foto.

"Hei!" teriak Mark sembari menahan tangan Haechan.

"Hyung, bagaimana kalau hyung buka usaha tanaman saja, tidak usah jadi artis?" sarkasnya membuat member menutup mulut mereka dengan tangan, berusaha menahan tawa. Mark tampak tidak terima.

"Apa maksudmu?" kata Mark tampak tidak suka. Haechan menghela nafas, berusaha sabar. Tapi ia justru tidak menjawab dan kembali sibuk mengambil foto tanaman Mark. Mark tampak makin kesal dan memegangi tangan Haechan, berusaha mencegah anak itu mengambil foto tanamannya. Terjadi pergulatan, Mark berusaha merebut ponsel Haechan, membuat Haechan tidak berhasil mengambil foto lagi.

See You Again Next Winter [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang