[COMPLETED]
Jaemin kehilangan kepercayaannya pada siapapun hingga member harus berusaha keras meyakinkannya, bahwa mereka tidak akan pernah pergi dari sisinya.
"Jika dunia masih memusuhimu sekalipun, kami tidak akan menjadi bagian darinya, sampai ka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mark sering bertanya dalam hatinya, pada usianya yang belum dewasa, bagaimana mungkin ia bisa membimbing keenam member yang lebih muda darinya? Usianya baru 17 tahun ketika pertama kali mendapat tanggung jawab sebagai leader. Ia kesulitan, tentu saja. Menghadapi membernya yang memiliki sifat dan keunikannya sendiri-sendiri terkadang membuat Mark kewalahan.
Tetapi beberapa bulan belakangan, segala misteri latar belakang membernya, semuanya seolah terpecahkan secara bersamaan. Selama ini Mark mengira hanya Jaemin dan Jisung yang memiliki kisah kelam. Nyatanya, ia salah. Setiap member membawa kesedihan versinya sendiri-sendiri. Mark tahu ia tidak berhak mencampuri urusan mereka, tetapi posisinya sebagai yang tertua terkadang membuatnya memandang member seolah mereka adik kandungnya sendiri. Ia hanya ingin melindungi mereka, memastikan mereka baik-baik saja.
Mark membuka pintu kamar ketika mendapati Renjun duduk diam seorang diri di kursi ruang makan. Lampu dapur padam, hanya sorot cahaya ponsel Renjun yang membuat Mark menyadari keberadaannya. Malam sudah sangat larut. Ia mendekati Renjun, membuat Renjun terlonjak saat menyadari Mark sudah berdiri di hadapannya. Renjun mengusap dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.
"Kenapa gelap-gelapan begitu?" tanya Mark, sembari berbalik arah menyalakan lampu dapur. Suasana terang mendadak membuat Renjun mengerjapkan matanya berulangkali. Matanya menyesuaikan dengan cahaya terang yang tiba-tiba.
"Baru saja berbicara dengan ibuku," kata Renjun, antara menjawab pertanyaan Mark dan tidak. Mark terdiam sejenak, sebelum menarik kursi meja makan dan ikut duduk di hadapan Renjun. Mark baru menyadari masalah Renjun masih belum usai. Netizen masih sering mengaitkan NCT Dream dengan adik Renjun yang melakukan tindakan kriminal. Apalagi hasil sidang sudah keluar dan tentu saja dinyatakan bersalah. Adiknya akan meringkuk di penjara dalam waktu yang lama.
"Hasil sidang keluar tadi pagi bukan?" tanya Mark. Renjun mengangguk sembari menghela nafas.
"Ibuku bersikeras untuk mengajukan banding. Sudah kukatakan akan percuma, adikku bisa mendapatkan hukuman lebih panjang dari ini jika gagal. Tapi tahukah hyung apa yang ibuku katakan?" tanya Renjun. Mark mendengarkan dengan seksama. Suasana hening malam hari membuat suara Renjun sedikit menggema pada ruangan dorm mereka yang tidak terlalu luas.
"Ibuku terus mendesakku untuk menyuap jaksa dan hakim," cerita Renjun. Mark menghela nafas. Ia tidak percaya ibu Renjun terpikir untuk melakukan tindakan curang.
"Ibuku membohongiku hyung. Aku tidak pernah mempermasalahkan jumlah uang yang kukirim padanya. Tetapi mengapa harus membohongiku demi membebaskan adikku yang dulu berbuat salah?" cerita Renjun lagi.
"Ibumu tahu kau tidak akan mau membebaskan adikmu, Renjun-ah,"
"Dia berbuat salah hyung, adikku harus bertanggungjawab,"
"Aku tahu, ibumu hanya ingin melindungi adikmu. Tetapi dengan cara yang salah," kata Mark lagi. Renjun menunduk. Ia muak terus didesak oleh ibunya. Walaupun ayahnya sudah mengatakan untuk mengabaikannya saja, tetapi siapa yang tidak akan kesal saat terus didesak sepanjang waktu?