Chapter 33 : Kami Disini Untukmu

601 68 12
                                        

Renjun menelungkupkan wajahnya pada meja makan dorm

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Renjun menelungkupkan wajahnya pada meja makan dorm. Moodnya sangat buruk. Rasanya tidak ingin melakukan apapun hari ini, tetapi jadwal grup sore nanti tidak dapat ia hindari. Jadi ia memilih untuk menyendiri di ruang makan hingga saat ia harus bersiap-siap berangkat nanti.

Bunyi pintu kamar terbuka sampai ke telinga Renjun, tetapi ia tetap bergeming. Haechan keluar dari kamar sembari bersenandung lirih salah satu lagu mereka, dengan handuk tersampir di bahunya. Pergerakannya terhenti, ketika melihat sosok Renjun yang menarik perhatiannya. Ia berhenti sejenak, ragu antara menghampiri Renjun atau langsung melanjutkan aktivitasnya. Ia memutuskan untuk lanjut ke kamar mandi, merasa Renjun butuh waktu sendiri.

Tetapi ketika Haechan selesai mandi dan melewati ruang makan, posisi Renjun tetap sama, membuatnya berubah khawatir. Ia menjemur handuk yang baru saja ia pakai di balkon, lantas berjalan mendekati meja makan dan duduk di seberang posisi Renjun. Bunyi kursi yang berderak sama sekali tidak membuat Renjun bangkit, wajahnya tetap tertelungkup di atas meja. Apakah Renjun tak sengaja tertidur disini? Pikir Haechan.

Haechan mengguncang lengan Renjun, membuat Renjun menggeliat lantas mengangkat kepalanya dengan wajah datar. Haechan paham Renjun sedang berada pada mood yang buruk. Tidak tepat melontarkan candaan apapun padanya. Haechan menyadari ada hal serius yang sudah terjadi.

"Apa?!" tanya Renjun dengan wajah galak dan suara yang ketus. Bukan kemarahan menggemaskan seperti yang biasanya Haechan lihat. Kali ini Renjun benar-benar menunjukkan wajah marah yang membuatnya membeku sesaat. Haechan menggelengkan kepalanya. Renjun mendengus, lantas kembali menelungkupkan wajahnya, pada posisi yang sama seperti sebelumnya.

"Sesuatu terjadi?" tanya Haechan akhirnya, tetapi Renjun tidak menggubrisnya. Haechan menundukkan kepalanya, bingung. Lalu ia bergegas bangkit, menyiapkan dua cangkir teh hangat dengan wangi camomile-nya yang khas. Ia meletakkan teh itu tepat di depan Renjun, membiarkan kepulan asapnya mengenai Renjun. Haechan menyeruput tehnya dengan santai, mengecapnya sesaat dan baru menyadari tehnya terasa enak dan menenangkan. Ketika ia menatap ke depan, ia nyaris tersedak mendapati Renjun sudah menatapnya dengan tatapan sebal.

"Tehku bukan?" tanya Renjun. Haechan nyengir. Milik siapa lagi? Hanya Renjun yang hobi meminum berbagai macam teh. Kopi milik Jaemin, teh milik Renjun. Beruntung ia tidak salah mengambil teh. Ia pernah dengar Jisung dan Chenle yang mengeluh saat meminta teh Renjun yang rasanya seperti air kobokan. Renjun mengatakan itu teh herbal yang bagus untuk tubuh. Pantas saja rasanya tidak enak. Jadi Haechan harus berpikir keras saat melihat banyak jenis teh Renjun dan berakhir memilih varian camomile.

Tetapi Renjun tidak lanjut marah, ia justru ikut menyesap teh membuat Haechan tersenyum. Teh itu segera habis seperempat. Wajah Renjun tampak lebih rileks. Ia menghela nafas sembari menyandarkan punggung pada sandaran kursi.

"Haechan-ah,"

"Hmm?" jawab Haechan sembari tetap fokus pada tehnya, hanya tidak menyangka rasa teh ternyata bisa semenenangkan ini. Ia sendiri jarang minum teh, terkadang tidak memahami kesukaan Renjun. Teh yang sering ia minum hanya teh biasa seperti pada umumnya, bukan yang memiliki banyak jenis seperti yang dikoleksi oleh Renjun.

See You Again Next Winter [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang