I hate that I love you
"Tembak."
Irene menggeleng dengan linangan air mata. Ujung pistol di tangannya di paksa untuk di arahkan ke kening seulgi yang terikat di kursi dalam keadaan mulut tersumpal kain.
"Aku nggak bisa, pa."
"Papa bilang tembak, irene!!"
"Nggak!"
"Tembak! Atau papa yang melakukannya sendiri?!"
Hanya perkian detik suara letusan itu mengudara. Peluru itu menembus langsung pada dada sang gadis, seulgi tergolek tak bernyawa. Darah mengucur deras dan irene berlari mengahampiri, memeluk tubuh lunglai itu dalam dekapannya.
"Keparat!" irene menatap nyalang.
Papa tertawa membahana di ruang itu, tawa kepuasan. Tapi tak butuh lama kendali tubuh irene mengambil alih. Dalam sekejap, monster dalam dirinya muncul. Suara kikikan irene saat meraih pistol di lantai membuat jemi berjalan mundur, pistol itu terangkat mengarah padanya.
"MATI!"
Suara letusan kembali memenuhi ruangan itu. jemi jatuh tersungkur.
"MATI!"
Suara letusan kedua, ketiga dan seterusnya sampai peluru dalam pistol irene habis. Sekujur tubuh jemi penuh peluru tembakan. Pria itu dan sang gadis di nyatakan tewas malam itu juga.
Mati
Mati
Mati
Irene tersentak terjaga dari mimpi buruknya. Napasnya terengah, ia berusaha meraup udara sekitar. Rasanya seperti tercekik. Tubuh irene basah kuyup oleh keringat. Dipalingkannya kepala itu pada jam digital di atas nakas.
7.10 pagi.
Sekelilingnya berantakan, kaca lemari pecah berhamburan di lantai. Bercak darah menyebar di selimut serta bantal dan tempat tidurnya. Semua itu berasal dari pergelengan tangannya, pada luka sayatan seruas jari itu masih meninggalkan jejak basah darah yang belum mengering.
Ditinggalkannya tempat tidur menuruni tangga. Harap-harap hanya kamarnya saja yang berantakan, atau mungkin tidak. Karena ketika kakinya berhasil menginjak tangga terakhir, semua benda yang berbahan kaca di pecahkan, pot-pot bunga berserakan mengotori rumahnya.
Rupanya monster kecil itu mengendalikan dirinya semalam. Irene termangu di ruang tamu, kemudian tersadar dan dengan cepat kaki telajangnya berlari ke lantai dua kamar suho. Mengecek keadaan pria itu kalau semalam ia tidak memotong jemarinya lagi.
Irene dapat bernapas lega mendapati kamar suho yang kosong. Artinya pria itu semalam tidak pulang. Kalau begitu apa ia menyakiti oranglain selain suaminya? Irene kembali berlari ke pintu depan, berharap monster itu tidak menyakiti seulgi.
Namun, tangannya hanya berhenti memutar di handle pintu. Tidak berani keluar rumah setelah mendengar suara derai tawa riang di luar sana.
"Lo kalah, Gi. sekarang lo harus gendong gue sambil lari."
Irene menutup rapat pintunya. Tubuhnya bergeser ke samping, pada jendela yang tertutupi gorden. Ia mengintip keluar dari sana, dari celah gorden yang sedikit ia singkap. Seulgi tengah membungkuk memegangi lutut, napasnya terengah lelah, dan sosok gadis lain tiba-tiba melompat ke punggung seulgi, memeluk erat lehernya dari belakang.
"Lets go, darling." Gadis di gendongan seulgi mengepalkan tangannya ke udara, meminta seulgi untuk segera berlari.
Irene perlahan mundur menjauhi jendela dan memutar badan. Seulgi baik-baik saja, artinya ia tidak melukai gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
Literatura FemininaKita punya banyak mimpi di masa depan, banyak harapan-harapan yang ingin kita lakukan. Tapi Tuhan tahu Bahwa mimpi-mimpi kita hanya sebuah rencana, dan kisah perjalanan kita akan menjadi sebuah cerita manis untuk di kenang. Kamu adalah langit yang...
