#####
Kalimat seulgi barusan justru membuat Irene tidak tenang. Ia berdiri cukup lama di depan pintu kamar rawat gadis itu meski pintu itu sudah ia tutup dua menit lalu. Ia tidak paham makna dari ' Aku harap kamu akan selalu bahagia seperti semalam. Ada atau nggaknya aku di samping kamu nanti'. Rasanya, Irene ingin menerobos lagi pintu ini untuk menanyakan maksud dari perkataannya, tapi ia tahu ia perlu menahan diri. Sebab jika ia kembali masuk ke dalam, Irene tidak yakin apakah ia mampu meninggalkan seulgi barang sedetik. Lalu membiarkan semua orang tahu akan keberadaannya.
Irene menggeleng, kakinya mundur satu langkah dari pintu. Ia butuh ke gereja secepatnya untuk mengenyahkan pikiran buruknya sekarang.
Baru saja ia memutar badan, irene dibuat terkesiap oleh kehadiran sehun yang berdiri menyambutnya. Tatapan pria itu memandangnya tidak ramah. Yerin muncul dari balik punggung sehun, menatapnya dengan raut bersalah.
"Aku nggak tahu sehun bakal dateng ce," untung yang datang pagi itu adalah sehun. Bayangkan jika itu ayah seulgi ataupun tante aiko, irene tidak bisa lagi mengelak untuk alasan apapun tentang keberadaannya di rumah sakit ini.
Sehun memberinya sunggingan kecil. Ia memindai penampilan irene dari atas sampai bawah. Berantakan!
Lorong rumah sakit terbilang sepi, hanya ketiganya yang berada disana. Lalu-lalang suster maupun dokter belum terlihat.
"Apapun yang mau kamu katakan sama saya, tolong jangan disini." Kalimat irene meluncur dengan tenang. ia berupaya tidak menimbulkan keributan dan membuat seulgi di dalam sana keluar menemui mereka. "Seulgi baru tidur."
Sehun menggeram marah. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya muak oleh kemunculan irene di rumah sakit ini. ia sendiri tidak percaya perempuan gila satu ini masih punya keberanian setelah apa yang diperbuatnya pada seulgi.
Irene mengalihkan perhatiannya pada yerin yang masih berdiri di belakang sehun. "Rin, kamu pulang. Biar cece yang urus dia."
"Ce, aku nggak bis—"
"Rin."
"Fine," yerin akhirnya menurut. Sebelum pergi ia lebih dulu memberi peringatan pada sehun. "Aku harap kamu cukup waras untuk nggak membuat keadaan makin rumit."
"Seperti yang dilakuin cece lo ke seulgi?" sanggah sehun. alih-alih pandangannya di tujukan ke yerin, sehun justru terang-terangan memandang tajam ke tempat irene.
Yerin sudah siap membuka suara sebagai pembelaan, kalau saja sang kakak tidak memberi isyarat untuk menghentikan perdebatan mereka. mau tidak mau ia mengalah dan pergi meninggalkan keduanya.
Setelah memastikan yerin masuk dalam lift dan tidak terlihat lagi, irene meminta sehun untuk mengikutinya. Hingga tiba di salah satu ruangan yang belum di tempati pasien. Irene memastikan hanya sehun yang mengikutinya sebelum menutup pintu.
Sehun langsung menyerbu irene dengan kalimatnya tanpa bisa di tahan lagi. "Gue takjub. Lo masih punya keberanian buat nunjukin batang hidung lo di rumah sakit ini. sudah berapa lama lo jadikan rumah sakit ini sebagai hotel tempat lo menetap? Berapa dana yang lo kucurkan buat ngecelakain seulgi lagi? Oh, gue hampir lupa. Nyokap lo kan dokter, yang punya 'relasi' buat nyogok mereka. atau mungkin lo minta bantuan bokap lo yang Bandar itu?"
"Saya nggak pernah mau mencelakai seulgi." meskipun kalimat ini tidak bisa membuat semua orang percaya, tapi irene berusaha untuk tenang.
"Maling ngaku, penjara penuh. Klise banget alasan lo. Jangan kira lo yang rajin ke gereja bakal jadi perempuan suci. Nggak usah munafik! Jahat tetap jahat."
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
ChickLitKita punya banyak mimpi di masa depan, banyak harapan-harapan yang ingin kita lakukan. Tapi Tuhan tahu Bahwa mimpi-mimpi kita hanya sebuah rencana, dan kisah perjalanan kita akan menjadi sebuah cerita manis untuk di kenang. Kamu adalah langit yang...
