B

908 143 15
                                        



*********

Seulgi yakin perasaan aneh yang datang tak di undang bak jailangkung dalam dada ini murni karena kasihan. Bukan semata karena ciuman yang mendadak membuatnya tidak bisa tidur beberapa hari ini. Di masa-masa perkuliahannya dahulu hal itu sudah terbiasa terjadi walau yang diciumnya seorang pria bukan perempuan yang sedang berjongkok membuka gips di kakinya ini.

Lagipula awal mulanya juga di landaskan rasa iba mengingat bagaimana suaminya yang berselingkuh. Iya, betul. Sebatas kasihan tidak lebih. Dan kejadian perkara tepung malam itu juga terjadi karena ketidak sengajaan. Yah, walaupun sekarang mereka sudah berteman—maksudnya perempuan inilah yang memintanya untuk jadi temannya dan seulgi dengan senang hati membuka pintu pertemanan ini.

Jadi, kenapa dadanya masih berdebar?

Dan semenjak kejadian ini pula irene sering berkunjung dengan alasan melihat keadaan kakinya. Membantu apapun yang seulgi butuhkan, bahkan di saat ia melukispun perempuan ini menemaninya. Lalu kejadian berikutnya bukan lukisan lain yang seulgi gambar, melainkan wajah irene—alias hal itu tanpa sepengetahuannya.

"Sekarang kamu bisa jalan normal tanpa bantuan tongkat." Ucapnya sambil mendongak.

Alih-alih membalas tatapan dingin yang sedang berjongkok di depan lutunya itu, seulgi justru membuang pandangnya ke sembarang tempat.

"Akhirnya..." seulgi berdiri dari kursi. Menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. "Gue bisa jalan lagi. Gue bisa bebas kemanapun. Bosen juga lama-lama di rumah."

"Pelan-pelan." Perempuan berwajah datar itu menahan lengan seulgi untuk berhenti melompat.

"Tenang aja, tante. Gue ini kuat. Cuma segini doang nggak ngaruh. Sekarang sebagai balas budi udah nemenin gue kemarin-kemarin dan bantu-bantu gue, tante bisa ajak gue kemanapun. Asal tante yang nyetir ya? Gue nggak dibolehin nyetir sama nyokap apalagi oma, bisa jantungan dia." Seulgi terkekeh.

Irene berdiri mematung menatapnya. "Kamu beneran mau nemenin saya kemanapun?"

"Ya iyalah, tante. Gue ini bisa pegang janji, nggak suka ingkar. Mau kemana?"

Ya tuhan! Harusnya seulgi tidak sebodoh ini menyodorkan diri untuk di ajak kemana saja. Tindakan ini bisa saja menimbulkan debaran hebat lagi di dadanya. Kalau perlu menjauh saja dulu supaya aman. Tapi perasaan sialan ini justru tanpa sadar membuat seulgi ingin selalu berada di dekatnya.

"Temenin saya jemput Yerin. Habis itu kita pergi belanja."

"Siap, tante."

Seulgi hendak masuk ke dalam rumah tetapi tertahan oleh tarikan lembut pada ujung kaosnya. Mau tidak mau seulgi memutar lagi tubuhnya.

"Kamu, mau kemana lagi?"

Seulgi mengernyit bingung. Tangan perempuan itu masih berada di kaosnya belum lepas.

"Kita kan mau jemput, yerin. Ya, gue harus ganti baju, ambil kacamata, terus kita berangkat. Gue nggak bakal kemana-mana kok."

Tangan irene baru lepas dari kaosnya setelah mendengar jawaban seulgi.

"Saya tunggu kamu di sini."

Seulgi tidak bisa menahan tawa lagi. Kadang-kadang perempuan ini kelihatan lucu, kadang bikin kesal, kadang juga tindakannya diluar dugaan. Seulgi berjalan mundur hanya untuk mengawasi irene yang berdiri kaku di depan pintu menunggunya sebelum memutar tubuh menaiki anak tangga.

Tanpa sadar senyum itu terus mengembang. Entah sedang menaiki anak tangga, berganti baju, atau saat menghampiri oma dan memberi kecupan di pipi. Lalu ketika berada di dapurpun saat seulgi meminta catatan belanja bulanan pada chef jeno.

HAPPINESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang