*********
Sesaat ketika ciuman itu terhenti dan kedua bibir mereka saling menjaga jarak. Dua pasang mata itu saling beradu saling mengatur napas yang terengah-engah. Gadis itu tiba-tiba mundur satu langkah. Memasang kembali kancing celana serta resletingnya. Sebelum mendongak canggung menatapnya yang kini masih duduk di atas kitchen island. Irene bahkan tidak menyangka seulgi mampu mengangkat tubuhnya ke tempat ini. Si gadis manja itu kelihatan sekali canggungnya.
"Gue minta maaf." Katanya. Seulgi membungkuk memungut kemejanya di bawah sana. "Udah langcang cium lo."
Irene bahkan tidak memikirkan hal itu. Ditatapnya sekali lagi gadis manja di depannya ini. Dan lagi-lagi seulgi tampaknya menghindari kontak mata dengan Irene.
"Saya rasa kamu nggak melakukan kesalahan."
Kepala itu menggeleng. Tatapannya penuh penyesalan.
"Ini nggak bener. Gue salah cium lo. Harusnya gue ngendaliin diri."
Kenapa gadis ini kelihatan tidak suka dengan perbuatan mereka beberapa detik lalu. Apa ia terlalu gegabah? Atau kah ia tidak pintar berciuman? Sehingga membuat gadis manja ini tampak menyesalinya. Atau ada alasan lain. Jujur saja Irene mengharapkan sentuhan lebih dari Seulgi. Si gadis absurd yang menarik perhatiannya pertama kali saat membawakannya satu kilo wortel. Lalu malam ini gadis ini lagi-lagi membuatnya menahan tawa dengan tepung yang dia bawakan.
Irene akhirnya turun dari kitchen island. Tidak menanggapinya sama sekali, selain menyibukkan diri memungut pecahan botol wine serta baskom berisikan tepung yang tumpah di lantai.
"Gue bantu." Seulgi ikut berjongkok di sebelahnya.
"Ada baiknya kamu pulang."
"Lo marah?"
"Saya nggak pernah marah sama kamu." Sambil membuang beling-beling botol itu ke tong sampah di bawah kitchen island.
"Terus kenapa lo usir gue?"
"Kamu harus pulang." Irene melirik lagi pada CCTV di sudut dapur. "Harus, seulgi. Nanti oma nyariin kamu. Tolong dengerin saya. Saya nggak marah sama kamu."
"Maaf."
Tidak butuh lama bagi gadis itu untuk pergi dari rumahnya. Barangkali irene tidak pintar mengekspresikan perasaannya. Wajahnya akan selalu terkesan dingin. Sekalipun ia tidak berniat demikian.
Begitu kekacauan di dapur itu sudah ia bersihkan. Sudah waktunya Irene menyiapkan diri. Ia lantas berdiam diri di dapur sembari mengamati satu toples permen kaki pemberian anak manja itu. Butuh 10 menit suara gedoran terdengar berulang di pintu. Begitu dibukanya pintu rumah, sosok pria yang menyandang suaminya menerjang ke arahnya.
"Menjijikkan!" Seringai bengis menghiasi wajah suho. "Cucu oma Elisabeth? Kamu bercanda kan, jalang? Mau taruh di mana muka aku kalau tahu istriku berciuman seperti pelacur dengan putri om henry?"
Irene membisu namun tatapannya menantang tanpa rasa takut. Tidak gentar sekalipun pria itu menjambak rambutnya dengan kasar. Atau bahkan kini menyeretnya ke dapur. Menghidupkan kran, mengisi wastafel itu penuh dengan air. Dan wajahnya sengaja di tenggelamkan di sana dengan tekanan kuat pada tengkuknya. Secara berulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
Chick-LitKita punya banyak mimpi di masa depan, banyak harapan-harapan yang ingin kita lakukan. Tapi Tuhan tahu Bahwa mimpi-mimpi kita hanya sebuah rencana, dan kisah perjalanan kita akan menjadi sebuah cerita manis untuk di kenang. Kamu adalah langit yang...
