SUMMER RAIN (ENDING)

982 116 16
                                        

SUMMER RAIN







 ********

Tepatnya jam 22:00. Malam itu tidak biasanya seulgi mengajaknya ke gereja. Katanya, ia perlu banyak berdoa agar tidak tertimpa musibah, mungkin karena itu juga Tuhan murka makanya ia dibuat lupa ingatan. Irene sempat tertawa mendengarnya, walaupun tawa itu sebetulnya terselip perasaan bersalah.

Di bagian utara Rumah Sakit itulah gereja itu berada. Keadaan di dalam sana hening, sepi, sunyi, tidak ada siapapun selain mereka  dan hanya napas keduanya yang terdengar. Mereka duduk di bangku barisan depan, dekat dengan altar berhadapan langsung dengan patung Yesus.

Diam-diam irene mengintip dari samping, seulgi begitu khusyuk berdoa, matanya memejam rapat, bibirnya bergerak tanpa suara. Entah apa yang anak itu adukan pada Tuhan. Irene masih ingat pertama kali mereka pergi ke gereja bersama oma, seulgi kerap kali mengganggunya bahkan ia dibawa kabur. Tapi sekarang, anak itu begitu serius tidak seperti waktu itu.

Cukup lama irene memandanginya sampai-sampai ia tidak sadar kedua mata seulgi sudah membuka. Ia buru-buru menutup mata agar tidak ketahuan sambil pura-pura berdoa.

"Tante."

Panggilan itu secepat kilat membuka mata Irene, ia segera berpaling muka ke tempat seulgi.

"Kamu bilang apa barusan?" irene harus menyakinkan lagi kalau ia tidak salah dengar.

Betulkah do'anya barusan terkabulkan secepat ini? Bahwa ia sangat berharap seulginya akan kembali seperti dulu.

seulgi tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Membuat Irene mengira anak itu sedang bercanda. Tapi alih-alih menuduhnya secara langsung, mata seulgi justru mengatakan sebaliknya.

"Panggil saya sekali lagi." ulang Irene masih dengan perasaan kagetnya. "Tolong, ulangi lagi ucapan kamu barusan."

"Tante."

Irene mamaku diam. Entah ia harus senang atau sedih. Karena dengan ingatan seulgi yang sudah kembali ini, kemungkinan besar kecelakan naas itu terekam jelas dalam ingatan gadis itu.

Apakah ia mampu memeluk seulgi dan berbisik bahwa ia sangat menantikan hari ini tiba, bahwa ia begitu bahagia ingatannya kembali. Tapi, apakah seulgi membencinya setelah apa yang ia lakukan pada malam itu yang bahkan ia sendiri tidak ingat apa saja yang di lakukan 'rene kecil' pada gadisnya ini?

Seulgi menunggu menatapnya. Ada denyutan nyeri yang menyerang bagian belakang kepalanya.

Tangan seulgi hendak menyentuh pipi Irene, tapi perempuan itu justru menghindar dan memilih menatap ke depan. Pada patung Yesus di sana.

"Malam itu, malam itu kamu pasti ingat apa yang sudah saya lakukan ke kamu." Jemari Irene meremas kain di bagian lututnya, pada baju terusan panjang berwarna putih yang dipakainya malam ini. "Saya yang celakai kamu, saya yang membuat kamu koma. Kamu harusnya marah sama saya."

"Kenapa?"

"Saya minta maaf."

Seulgi menggeleng, bukan itu jawaban atas pertanyaannya.

"Kenapa kamu harus bahas ini?" Seulgi bergeser lebih dekat lagi, ia menunggu Irene berpaling msnatapnya. "Aku udah lupa kejadian malam itu dan aku nggak mau tante terus-menerus merasa bersalah seperti ini. Aku nggak suka tatapan tante yang sekarang."

Ia menunduk mengamati tangan Irene yang gemetar di atas lutut. Di raihnya tangan itu, seulgi genggam erat-erat. Tak terhitung sudah berapa banyak luka yang di lalui Irene, entah itu dari alter egonya, entah itu dari si bajingan itu, dan seulgi juga tidak tahu apa saja yang di lakukan Irene setiap malam-malam penantiannya selagi menunggunya sadar dari koma. Seulgi tidak perduli jika Irene mengamuk pada dirinya sewaktu-waktu, karena yang ia mau adalah akan selalu berada di dekatnya sampai kapanpun.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 03, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HAPPINESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang